Jakarta | Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengingatkan masyarakat untuk memeriksa kembali informasi yang ditemukan di media sosial maupun jawaban yang diberikan perangkat kecerdasan buatan (AI). Kemudahan memperoleh informasi melalui platform digital tidak serta-merta menjamin bahwa setiap kabar atau jawaban yang muncul telah benar, lengkap, dan dapat dipercaya. Karena itu, pengguna perlu menilai informasi secara cermat sebelum menerimanya sebagai fakta atau menyebarkannya kepada orang lain.
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kemkomdigi, Marroli Jeni Indarto, menyampaikan imbauan tersebut di kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, pada Kamis. Ia mengingatkan bahwa media sosial dan teknologi AI dapat membantu masyarakat mencari informasi dengan cepat. Namun, materi yang beredar di platform digital dan jawaban yang dihasilkan AI tetap perlu ditelaah, sebab keduanya tidak selalu menyajikan informasi yang akurat. Kecepatan dan kemudahan akses, dengan demikian, sebaiknya diikuti sikap kritis dari setiap pengguna.
Marroli menganjurkan masyarakat melakukan pengecekan berulang terhadap informasi yang diperoleh. Pengguna dapat membandingkan isi kabar dengan keterangan dari sumber lain, lalu mencari konfirmasi melalui sumber yang terverifikasi. Langkah ini membantu memastikan bahwa informasi tidak hanya terlihat meyakinkan, tetapi juga memiliki dasar yang dapat diperiksa. Jika informasi berasal dari unggahan media sosial atau jawaban AI, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai kebenaran tanpa melihat konteks dan rujukan pendukung.
Kebiasaan memeriksa sumber juga penting sebelum seseorang meneruskan informasi kepada keluarga, rekan, atau komunitasnya. Informasi yang belum terkonfirmasi dapat menimbulkan kesalahpahaman ketika dibagikan lebih luas, sementara pemeriksaan sederhana memberi kesempatan untuk menemukan kekeliruan atau perbedaan konteks. Imbauan Kemkomdigi tersebut menempatkan pengguna sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas arus informasi digital. Dengan membandingkan keterangan, memeriksa asal informasi, dan mengutamakan konfirmasi dari sumber tepercaya, masyarakat dapat menggunakan media sosial serta AI secara lebih bijak tanpa mengabaikan kemungkinan bahwa hasil pencarian maupun jawaban yang diterima masih perlu diverifikasi.
Marroli menjelaskan bahwa algoritma pada platform digital turut membentuk jenis informasi yang muncul di hadapan masyarakat dalam keseharian. Ketika seseorang membuka media sosial, konten yang terlihat tidak selalu disajikan dalam urutan yang sama kepada setiap pengguna. Sistem rekomendasi dapat mempertimbangkan aktivitas, minat, atau interaksi pengguna untuk menentukan konten yang ditampilkan. Dengan demikian, pengalaman informasi di ruang digital dapat berbeda satu orang dan orang lainnya, meskipun mereka menggunakan platform yang sama.
Mekanisme rekomendasi tersebut berperan membantu pengguna menemukan materi yang dinilai relevan dengan kebiasaan atau ketertarikan mereka. Namun, konten yang muncul di layar merupakan hasil penyaringan dan pengaturan oleh sistem platform, bukan gambaran menyeluruh dari semua informasi yang tersedia. Pengguna perlu memahami bahwa apa yang sering terlihat atau berulang kali direkomendasikan tidak otomatis menjadi satu-satunya pandangan, fakta, ataupun kebenaran tentang suatu hal. Frekuensi kemunculan sebuah informasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa informasi itu akurat.
Karena itu, pesan Marroli menekankan pentingnya membandingkan informasi yang diperoleh melalui media sosial dengan sumber lain dan memeriksanya kembali sebelum dipercaya atau dibagikan. Pengguna dapat mencermati isi informasi, menilai sumber yang menyampaikannya, serta mencari keterangan pembanding yang relevan. Langkah ini membantu menempatkan konten rekomendasi dalam konteks yang lebih luas, alih-alih mengandalkan apa yang kebetulan tampil pada beranda. Sikap tersebut bukan berarti setiap rekomendasi algoritma keliru, melainkan pengingat bahwa rekomendasi memiliki batas dan tidak menggantikan penilaian kritis. Dengan memahami pengaruh algoritma, masyarakat dapat menggunakan platform digital secara lebih cermat dan tidak menyamakan personalisasi konten dengan kelengkapan informasi. Pemeriksaan ulang juga memberi ruang untuk mengenali kemungkinan adanya sudut pandang lain yang belum muncul dalam rekomendasi. Pada akhirnya, pengguna tetap perlu mengambil langkah aktif untuk memastikan bahwa pemahaman mereka tidak hanya bersandar pada susunan konten yang dibentuk platform, tetapi turut mempertimbangkan informasi pembanding yang dapat diperiksa.Marroli mengingatkan bahwa jawaban yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) perlu dibaca secara kritis, bukan langsung dianggap sebagai fakta. Sistem AI menyusun respons dengan mengenali pola dari data dan cara pengguna berinteraksi dengannya. Karena itu, jawaban dapat terdengar meyakinkan, tetapi tetap mengandung kekeliruan, informasi yang tidak lengkap, atau konteks yang kurang sesuai. Pengguna perlu memahami bahwa kelancaran bahasa tidak otomatis menjamin ketepatan isi.
Imbauan tersebut sejalan dengan peringatan yang juga disampaikan sejumlah pengembang AI. Mereka mengakui bahwa teknologi ini memiliki keterbatasan dan hasilnya perlu diperiksa, terutama ketika digunakan untuk menjawab pertanyaan penting atau membahas isu yang berkembang cepat. Informasi yang tersedia bagi sistem bisa memiliki batas waktu, sementara jawaban yang diberikan dapat dipengaruhi oleh cara pertanyaan dirumuskan. Dengan demikian, AI sebaiknya diperlakukan sebagai alat bantu, bukan otoritas tunggal.
Menurut Marroli, AI dapat membantu seseorang mengeksplorasi gagasan, memahami topik, atau menyusun pertanyaan lanjutan. Namun, pengguna tetap bertanggung jawab untuk menilai relevansi dan keakuratan hasilnya. Keputusan serta penilaian akhir tidak dapat diserahkan begitu saja kepada mesin. Sikap ini penting agar kemudahan memperoleh jawaban tidak mengurangi kebiasaan memeriksa bukti, mempertimbangkan konteks, dan menggunakan pertimbangan manusia.
Untuk memastikan informasi, masyarakat disarankan membandingkan jawaban AI dengan sumber tepercaya, bukan hanya menerima satu hasil pencarian atau satu unggahan. Langkah yang sama berlaku terhadap konten di media sosial, yang dapat beredar luas sebelum kebenarannya dipastikan. Periksa siapa yang menerbitkan informasi, kapan informasi dibuat, dan apakah klaimnya didukung bukti yang dapat ditelusuri. Jika terdapat perbedaan, cari rujukan lain sebelum membagikannya.
Salah satu rujukan yang dapat digunakan ialah publikasi media massa yang telah diverifikasi Dewan Pers. Masyarakat juga dapat menelusuri dokumen atau keterangan resmi dari lembaga terkait, lalu membandingkannya dengan pemberitaan tepercaya. Pemeriksaan silang semacam ini membantu mengurangi risiko salah paham dan penyebaran kabar keliru. Dengan memanfaatkan AI secara proporsional serta memeriksa sumber secara cermat, publik dapat memperoleh manfaat teknologi tanpa mengabaikan tanggung jawab dalam menentukan apa yang layak dipercaya dan dibagikan.
Pada Jumat (23/10), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meminta penyelenggara sistem elektronik (PSE) yang mengelola platform digital untuk meningkatkan transparansi dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan pengelolaan algoritma. Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi hak publik dalam menerima informasi yang relevan dan dapat dipahami. Platform digital kini menjadi salah satu saluran utama masyarakat untuk mencari berita, mengikuti perkembangan kebijakan, dan memperoleh beragam pengetahuan.
Kemkomdigi berharap keterbukaan mengenai cara kerja AI dan algoritma dapat membantu masyarakat memahami proses di balik informasi yang mereka temui. Transparansi diharapkan menjelaskan bagaimana suatu informasi dibuat atau diproses, mengapa informasi tertentu ditampilkan kepada pengguna, serta bagaimana konten didistribusikan di ruang digital. Dengan pemahaman tersebut, pengguna dapat menilai bahwa apa yang muncul di layar tidak selalu mencerminkan keseluruhan informasi yang tersedia. Pengelolaan algoritma juga dapat memengaruhi urutan dan jangkauan konten, sehingga penjelasan yang memadai diperlukan agar masyarakat dapat menggunakan platform secara lebih kritis.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Mediodecci Lustarini, menjelaskan bahwa AI dapat membantu masyarakat dalam mencari dan memahami informasi. Teknologi ini dapat memudahkan pengguna menemukan bahan yang dibutuhkan atau memperoleh penjelasan atas topik tertentu. Namun, kemudahan tersebut tidak menghilangkan perlunya pemeriksaan lebih lanjut, terutama ketika informasi berpotensi memengaruhi pandangan atau keputusan publik.
Mediodecci mengingatkan bahwa informasi penting tetap perlu diperiksa melalui sumber yang kredibel.
Baca juga: Informasi Terkini Mengenai Aksi Unjuk Rasa di Jakarta | Konser The Weeknd di Jakarta: Jadwal dan Informasi Penting | Informasi Aksi Massa di Jakarta Hari Ini












