banner 728x250

Ajang MTQ Nasional Pertama untuk Penyandang Tunarungu

Ajang MTQ Nasional Pertama untuk Penyandang Tunarungu
banner 120x600
banner 468x60

SEMARANG, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 16 September 2026, Event bergengsi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional yang diselenggarakan tahun ini menyaksikan partisipasi perdana dari 28 penyandang tunarungu. Hal ini menjadi momen bersejarah yang menandai langkah penting dalam upaya inklusi bagi penyandang disabilitas di bidang seni dan religius. Dengan semangat yang tinggi, mereka mengambil bagian dalam cabang tartil Al-Quran isyarat, yang menunjukkan kemampuan luar biasa mereka dalam mempersembahkan serta menghayati Al-Quran dengan cara yang unik.

Partisipasi penyandang tunarungu di ajang MTQ ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Proses persiapan yang dilakukan oleh masing-masing peserta berlangsung selama dua minggu, dengan latihan intensif dan bimbingan dari para ahli. Tujuan dari persiapan ini bukan hanya untuk mempersiapkan penampilan terbaik, tetapi juga untuk membangun rasa percaya diri dan soliditas dalam komunitas penyandang tunarungu. Bagi mereka, berpartisipasi dalam MTQ adalah suatu kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu menginterpretasikan dan menyampaikan pesan Al-Quran dengan cara yang kreatif dan menawan.

banner 325x300

Dengan kehadiran penyandang tunarungu, MTQ Nasional tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sebuah platform untuk memberikan ruang bagi keberagaman. Event ini menekankan pentingnya aksesibilitas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kegiatan yang religius. Masyarakat luas diharapkan akan mendapatkan inspirasi dari upaya para penyandang tunarungu ini serta menyadari bahwa dengan dukungan yang tepat, setiap individu memiliki potensi untuk berkontribusi secara positif di masyarakat.

Keberhasilan penyelenggaraan MTQ dengan keterlibatan penyandang tunarungu ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak inisiatif serupa di masa depan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Hal ini juga berfungsi sebagai sinyal bagi semua pihak untuk lebih mempertimbangkan aspek inklusi dalam setiap kegiatan publik, menjadikan acara seperti ini tidak hanya bermanfaat bagi peserta, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.

Pada ajang MTQ Nasional pertama untuk penyandang tunarungu, perlombaan ini menarik perhatian dengan pendekatan penilaian yang inovatif. Terdapat dua metode utama yang diadopsi, yaitu kitabah dan tilawah. Metode kitabah menekankan pada kemampuan peserta dalam menuliskan bacaan Al-Quran dengan akurat dan jelas. Hal ini sangat penting, karena penulisan yang baik mencerminkan pemahaman yang mendalam mengenai teks yang dibaca. Di samping itu, penilaian ini juga memberikan kesempatan bagi peserta yang mungkin lebih nyaman diekspresikan secara tulisan dibandingkan secara lisan.

Metode kedua, yaitu tilawah, fokus pada pengucapan dan penyampaian bacaan Al-Quran. Metode ini dirancang untuk mem-Meletakkan perhatian khusus pada ketepatan gerakan isyarat serta bentuk tangan yang digunakan oleh peserta saat membacakan ayat-ayat suci. Dengan adanya penilaian terhadap aspek ini, para juri dapat mengevaluasi keakuratan isyarat yang digunakan, yang menjadi sangat krusial bagi peserta tunarungu dalam menyampaikan pesan-pesan dari Al-Quran. Aspek-aspek ini memastikan bahwa penilaian tidak hanya sekadar berdasarkan pada bacaan teks, tetapi juga mempertimbangkan cara peserta berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Penggunaan dua metode ini tentunya berfungsi untuk memberikan kriteria yang jelas bagi semua peserta. Dengan demikian, setiap peserta memiliki peluang yang sama dalam berkompetisi dan tampil terbaik. Di sisi lain, juri bisa melakukan penilaian dengan lebih objektif berdasarkan parameter yang telah ditetapkan. Secara keseluruhan, penggabungan metode kitabah dan tilawah menciptakan sebuah sistem penilaian yang komprehensif, mencerminkan keberagaman kemampuan dan bakat setiap individu dalam mempersembahkan bacaan Al-Quran secara efektif.

Rama Syahti, selaku ketua Asosiasi Tuli Muslim Indonesia, memberikan pandangan yang berharga mengenai MTQ Nasional Pertama untuk Penyandang Tunarungu. Beliau menyatakan bahwa acara ini merupakan langkah yang sangat positif dalam meningkatkan inklusi bagi penyandang disabilitas, khususnya bagi komunitas penyandang tunarungu. Menurut Rama, pelaksanaan MTQ ini menunjukkan bahwa setiap individu, tanpa memandang status disabilitasnya, berhak mendapatkan akses untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan yang penting.

Syahti menekankan pentingnya aksesibilitas bagi semua umat Muslim, dan MTQ ini dapat dianggap sebagai contoh teladan dalam menyediakan platform yang memungkinkan bagi penyandang tunarungu untuk mengekspresikan iman dan kemampuan mereka. Acara ini tidak hanya tentang kompetisi keagamaan, tetapi juga tentang menghapus stigmatisasi yang sering mengelilingi disabilitas. Dengan merangkul berbagai penyandang disabilitas, kita dapat menciptakan suasana yang lebih inklusif di dalam masyarakat.

Pentingnya pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk tunarungu juga menjadi sorotan dalam penjelasan Rama. Ia percaya bahwa, dengan mendapatkan kesempatan yang tepat, penyandang tunarungu mampu berkontribusi secara signifikan dalam lingkungan keagamaan dan sosial. Oleh karena itu, event ini diharapkan dapat mendorong publik untuk lebih memahami dan menerima kehadiran penyandang tunarungu dalam konteks yang lebih luas, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perayaan keagamaan.

Dalam pandangannya, MTQ Nasional Pertama untuk Penyandang Tunarungu bukan sekadar acara, tetapi merupakan titik awal dalam perjalanan panjang menuju inklusi penuh. Dengan pelaksanaan yang baik dan dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat, diharapkan acara seperti ini akan terus berlanjut dan mendapatkan perhatian lebih dalam pelaksanaan di masa depan.

Peserta MTQ Nasional Pertama untuk Penyandang Tunarungu, seperti Aisyah Syerviyah dari Jawa Timur dan Azaroby Dwi Anggoro dari Banten, berbagi cerita mendalam mengenai perjalanan mereka dalam persiapan menuju acara ini. Mereka mengungkapkan bahwa proses persiapan meliputi beragam aspek, mulai dari latihan intensif hingga penguatan mental untuk tampil di panggung perlombaan yang berskala nasional.

Aisyah Syerviyah, misalnya, menekankan pentingnya disiplin dan semangat juang yang tinggi. Setiap hari, ia menghabiskan waktu berjam-jam berlatih untuk meningkatkan keterampilannya dalam membaca Al-Qur'an. Ia mengakui bahwa meskipun tantangan yang dihadapi tidak sedikit, rasa bangga saat tampil dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat tunarungu di tanah air menjadi motivasi utama. "Rasa syukur ini adalah bagian dari perjalanan saya untuk menunjukkan bahwa kami, penyandang tunarungu, juga memiliki kemampuan yang dapat ditunjukkan," ujarnya.

Di sisi lain, Azaroby Dwi Anggoro menekankan bahwa pengalamannya dalam berpartisipasi dalam MTQ bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang potensi yang dimiliki penyandang disabilitas. Ia menceritakan bahwa sebelum acara, ia merasa cemas namun sekaligus bersemangat. "Saya merasa terhormat dapat berpartisipasi dalam event bersejarah ini, dan saya ingin membuat orang-orang bangga akan prestasi kami," katanya.

Kedua peserta ini, bersama peserta lainnya, menunjukkan bahwa MTQ Nasional Pertama untuk Penyandang Tunarungu merupakan momen berharga yang dapat meningkatkan kesadaran dan menghargai kontribusi dari penyandang tunarungu dalam masyarakat. Melalui cerita mereka, terlihat jelas bahwa persiapan yang dilakukan tidak hanya sekadar untuk kompetisi, tetapi juga untuk memperkuat rasa kebersamaan dan pengakuan atas diri mereka.

banner 325x300