banner 728x250

Aktivitas Gunung Lokon Dipantau, Gas Kawah dan Erupsi Mendadak Jadi Perhatian

Aktivitas Gunung Lokon Dipantau, Gas Kawah dan Erupsi Mendadak Jadi Perhatian
banner 120x600
banner 468x60

Kota Tomohon | Selama 1–15 Oktober 2026, aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menunjukkan dominasi gempa vulkanik dangkal. Jenis gempa ini paling banyak terekam dalam pengamatan Badan Geologi, sedangkan gempa vulkanik dalam hanya sesekali tercatat. Perbedaan jumlah rekaman tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin terhadap kondisi gunung api, bukan dengan sendirinya penanda bahwa erupsi akan segera terjadi. Data kegempaan perlu dibaca bersama pengamatan lain, termasuk perubahan aktivitas kawah, emisi gas, dan kondisi visual, agar gambaran situasi lebih utuh. Karena itu, catatan selama dua pekan tersebut memberi informasi mengenai pola aktivitas yang terukur, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan waktu maupun besarnya kemungkinan letusan.

Dalam periode itu, tercatat 189 gempa embusan, 12 gempa vulkanik dalam, tiga gempa terasa dengan intensitas skala I MMI, serta 52 gempa tektonik jauh. Gempa embusan berkaitan dengan pelepasan gas atau tekanan dari dalam sistem gunung api, sedangkan gempa tektonik jauh berasal dari sumber tektonik yang lokasinya berada jauh dari gunung. Adapun tiga kejadian yang terasa pada skala I MMI menunjukkan getaran dengan intensitas rendah. Angka-angka tersebut membantu menggambarkan ragam sinyal yang terekam, sekaligus membedakan aktivitas yang berkaitan dengan proses vulkanik dari kejadian tektonik di wilayah lebih luas. Dalam penyampaian data, gempa vulkanik dangkal disebut sebagai jenis yang paling dominan, sementara jumlah gempa vulkanik dalam relatif sedikit.

banner 325x300

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan catatan aktivitas tersebut di Manado pada Minggu, 25 Oktober 2026. Keterangan itu merangkum hasil pengamatan untuk rentang 1–15 Oktober, sehingga perlu dipahami sesuai batas waktu pencatatannya. Pemantauan berkelanjutan penting untuk melihat apakah pola gempa berubah, meningkat, atau tetap serupa pada periode berikutnya. Masyarakat dapat mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan instansi terkait, terutama apabila terdapat pembaruan mengenai tingkat aktivitas atau rekomendasi keselamatan. Data gempa yang tercatat merupakan salah satu dasar pemantauan Gunung Lokon; perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada hasil observasi terbaru dan penilaian petugas berwenang.

Pengamatan visual terhadap Gunung Lokon mencatat adanya embusan asap putih tipis dari area kawah. Asap tersebut terlihat dengan ketinggian maksimum sekitar 150 meter di atas kawah. Gambaran ini menjadi salah satu unsur pemantauan yang digunakan untuk menilai kondisi gunung api, bersama data kegempaan dan informasi pengamatan lainnya. Keberadaan asap, dengan sendirinya, tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik sedang meningkat. Penilaiannya perlu mempertimbangkan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu serta keterkaitannya dengan indikator lain.

Selain pengamatan visual, pemantauan seismik dilakukan melalui RSAM atau Real-time Seismic Amplitude Measurement. Data RSAM menunjukkan pola kenaikan energi kegempaan dalam rentang 24 Agustus hingga 15 Oktober 2026. Namun, analisis terhadap sumber sinyal memperlihatkan bahwa kenaikan tersebut berasal dari gempa permukaan. Karena itu, pola tersebut tidak serta-merta menandakan peningkatan aktivitas dari dalam tubuh gunung api. Asal dan karakter sumber kegempaan merupakan bagian penting dalam membaca perubahan pada rekaman seismik.

Dengan menggabungkan hasil pengamatan visual dan data seismik, aktivitas vulkanik Gunung Lokon dinyatakan belum menunjukkan peningkatan. Embusan asap putih yang tipis dan terbatas, serta kenaikan RSAM yang berkaitan dengan gempa permukaan, belum memperlihatkan indikasi bahwa kondisi vulkanik secara keseluruhan berubah menjadi lebih aktif. Kesimpulan ini merujuk pada informasi pemantauan yang tersedia untuk periode tersebut, sehingga dapat diperbarui apabila muncul perubahan pada pengamatan berikutnya.

Pemantauan berkala tetap diperlukan karena kondisi gunung api dapat berubah dan setiap indikator perlu ditafsirkan dalam konteks yang tepat. Pengamatan terhadap tinggi, warna, dan ketebalan asap dapat membantu mengenali perubahan visual, sedangkan rekaman seismik memberikan informasi mengenai pola getaran dan sumber gempa. Perbandingan data secara berkelanjutan membantu petugas membedakan variasi yang tidak menunjukkan kenaikan aktivitas dari perubahan yang memerlukan perhatian lebih. Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi dari otoritas pemantauan dan tidak menarik kesimpulan hanya dari satu tanda yang terlihat. Dengan demikian, perkembangan Gunung Lokon dapat dipahami secara proporsional berdasarkan bukti visual dan seismik yang tersedia.

Meski hasil pemantauan belum menunjukkan peningkatan aktivitas Gunung Lokon, potensi bahaya di sekitar kawah tetap perlu diperhatikan. Gas vulkanik dapat keluar dari kawah dan membahayakan siapa pun yang berada terlalu dekat, khususnya apabila gas terkumpul di area rendah atau lokasi dengan sirkulasi udara terbatas. Paparan gas beracun dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan, sehingga masyarakat maupun pengunjung tidak sebaiknya mendekati kawah untuk mengamati kondisi secara langsung. Perubahan yang tampak tenang tidak dengan sendirinya meniadakan risiko tersebut.

Erupsi freatik juga menjadi ancaman yang perlu diantisipasi karena dapat terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa ini melibatkan uap dan material yang terlontar dari kawah, sehingga warga tidak selalu memiliki banyak waktu untuk merespons ketika letusan berlangsung. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi pemantauan dan arahan resmi, serta menghindari kawasan yang dinyatakan berbahaya. Evaluasi aktivitas hingga 15 Oktober 2026 menetapkan tingkat aktivitas Gunung Lokon pada Level II. Ketetapan ini menjadi dasar pemantauan, namun bukan alasan untuk mengabaikan kemungkinan bahaya di sekitar gunung.

Warga yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga diimbau mewaspadai lahar. Risiko dapat meningkat pada musim hujan, terutama ketika hujan deras berlangsung lama di kawasan puncak. Material vulkanik yang berada di lereng atau sekitar kawah dapat terbawa air dan mengalir mengikuti sungai menuju wilayah yang lebih rendah. Oleh sebab itu, hindari beraktivitas di alur sungai saat hujan lebat atau ketika aliran berubah, dan perhatikan peringatan dari pihak berwenang. Kewaspadaan perlu dijaga meskipun tidak terjadi peningkatan aktivitas, sebab kondisi cuaca dan potensi erupsi mendadak dapat menghadirkan bahaya yang berbeda bagi warga di sekitar Gunung Lokon.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki agar tidak beraktivitas dan tidak mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Batas tersebut perlu dipatuhi sebagai langkah pencegahan terhadap bahaya aktivitas vulkanik Gunung Lokon, termasuk keluarnya gas kawah dan kemungkinan letusan mendadak. Masyarakat sebaiknya tidak memasuki zona yang telah dinyatakan berisiko, meskipun kondisi gunung tampak tenang atau tidak terlihat perubahan dari kejauhan. Menghindari kawasan sekitar kawah merupakan tindakan penting untuk mengurangi paparan terhadap ancaman yang dapat muncul tanpa banyak waktu untuk menyelamatkan diri.

Pengunjung dan pendaki perlu merencanakan perjalanan dengan mempertimbangkan imbauan resmi tersebut. Jangan menjadikan kedekatan dengan kawah sebagai tujuan kunjungan, dan hindari mencoba melintasi batas aman demi melihat kondisi secara langsung. Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan juga diharapkan mengikuti informasi dari pihak berwenang dan menyesuaikan kegiatan apabila ada pembaruan mengenai aktivitas gunung. Kepatuhan terhadap radius larangan membantu melindungi diri sendiri sekaligus mengurangi risiko bagi orang lain yang mungkin harus melakukan penanganan atau evakuasi. Apabila kondisi berubah, utamakan arahan petugas daripada perkiraan pribadi tentang tingkat bahaya.

Jika terjadi letusan yang disertai hujan abu, masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah. Tutup pintu dan jendela untuk membatasi abu masuk ke ruang dalam, serta hindari keluar rumah selama hujan abu berlangsung jika tidak diperlukan.

Baca juga: Inspeksi Mendadak di Lapas Cibinong: Penjelasan dari Bappisus | Aktivitas Ferdy Sambo di Lapas Cibinong: Penjelasan Kakanwil Ditjenpas Jabar

banner 325x300