banner 728x250

Erick Thohir Ajak Publik Hadiri Liga Sepak Bola Putri Indonesia

Erick Thohir Ajak Publik Hadiri Liga Sepak Bola Putri Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Setelah Indonesian Women’s League (IWL) 2026/2027 resmi dimulai, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengajak masyarakat yang selama ini meminta kompetisi sepak bola putri digelar untuk menunjukkan dukungan secara langsung. Ia mendorong publik datang ke stadion dan menyaksikan pertandingan, bukan hanya menyuarakan harapan agar liga kembali berlangsung. Ajakan tersebut disampaikan saat pembukaan kompetisi di Stadion Madya, Jakarta, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Momentum pembukaan itu menandai dimulainya musim baru sekaligus menjadi kesempatan bagi penonton untuk memberi perhatian kepada klub dan para pemain putri.

Menurut Erick, kehadiran penonton dapat menjadi bentuk dukungan nyata bagi klub yang berkompetisi. Suasana stadion yang hidup berpotensi memberi semangat kepada pemain, sekaligus menunjukkan bahwa sepak bola putri memiliki tempat dalam perhatian masyarakat. Dukungan tersebut tidak harus berhenti pada pertandingan pembuka; masyarakat dapat mengikuti jadwal kompetisi, memilih laga yang ingin ditonton, dan datang bersama keluarga atau teman. Dengan cara itu, penonton turut membangun pengalaman pertandingan yang lebih menarik bagi pemain maupun klub. Respons publik juga dapat memperlihatkan bahwa kompetisi ini memiliki audiens yang ingin menyaksikan perkembangannya secara berkelanjutan.

banner 325x300

Ajakan untuk hadir langsung juga berkaitan dengan upaya memperkuat perkembangan sepak bola putri Indonesia. Kompetisi yang mendapat perhatian dapat membantu klub membangun basis pendukung, meningkatkan visibilitas pemain, dan menjaga minat terhadap liga dari satu musim ke musim berikutnya. Kehadiran penonton bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemajuan, tetapi dukungan publik dapat melengkapi kerja klub, penyelenggara, dan federasi. Bagi masyarakat yang dahulu menuntut liga putri digelar, menyaksikan pertandingan menjadi salah satu cara konkret untuk mendukung tuntutan tersebut. IWL 2026/2027 pun diharapkan berkembang dengan keterlibatan yang lebih luas, baik di dalam maupun di luar lapangan. Perhatian yang konsisten dapat membantu sepak bola putri memperoleh ruang dan kesempatan yang semakin besar di Indonesia.

Kembalinya kompetisi reguler sepak bola putri menjadi perkembangan penting bagi ekosistem olahraga nasional. Setelah cukup lama tidak memiliki liga yang berlangsung secara rutin, para pemain kembali memperoleh ruang untuk bertanding, berkembang, dan menunjukkan kemampuan di hadapan publik. Indonesia Women’s League (IWL) hadir untuk mengisi kebutuhan tersebut sekaligus meneruskan tradisi Liga 1 Putri, kompetisi yang terakhir digelar pada 2019. Jeda panjang sejak penyelenggaraan terakhir membuat musim perdana IWL memiliki arti tersendiri, baik bagi klub maupun para pemain. Kompetisi ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda pertandingan, tetapi juga fondasi bagi pembinaan sepak bola putri yang lebih konsisten.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai sambutan publik pada pekan pertama IWL sudah sangat baik untuk tahun pertama penyelenggaraan. Respons tersebut terlihat sebagai sinyal positif bahwa sepak bola putri memiliki penonton dan pendukung yang siap mengikuti perjalanan kompetisi. Antusiasme awal ini penting, terutama ketika liga sedang membangun kembali perhatian setelah bertahun-tahun tidak hadir secara reguler. Meski demikian, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada penyelenggara atau hasil pertandingan. Keterlibatan klub, pemain, komunitas, dan penonton diperlukan agar minat yang muncul pada awal musim dapat berkembang menjadi dukungan yang lebih luas dan stabil.

Erick juga berharap setiap klub peserta mulai membangun basis suporternya sendiri. Langkah itu dapat dilakukan dengan memperkenalkan pemain dan tim kepada masyarakat, mengajak komunitas setempat hadir di stadion, serta menjaga komunikasi dengan pendukung sepanjang musim. Jika masing-masing klub memiliki kelompok suporter yang aktif, pertandingan akan memperoleh dukungan langsung dan liga memiliki jaringan audiens yang lebih kuat. Basis tersebut juga berpotensi membantu klub membangun identitas, menarik mitra, dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan masyarakat. Dengan demikian, sambutan positif pada pekan pembuka dapat menjadi titik awal, bukan sekadar keramaian sesaat. Dukungan yang tumbuh secara bertahap akan membantu IWL menjaga kesinambungan kompetisi dan memperkuat masa depan sepak bola putri Indonesia.

Komitmen untuk menjaga Liga Sepak Bola Putri Indonesia tetap berjalan tidak hanya bertumpu pada satu musim kompetisi. PSSI bersama klub-klub peserta bersepakat menjalankan liga selama lima tahun. Rentang waktu tersebut memberi kepastian bahwa kompetisi dirancang sebagai program berkelanjutan, bukan sekadar agenda yang hadir sesaat. Bagi sepak bola putri, kesinambungan penyelenggaraan menjadi hal penting agar liga dapat terus menjadi ruang bagi para pemain dan klub untuk berkompetisi. Kesepakatan ini sekaligus menunjukkan adanya tanggung jawab bersama federasi dan peserta dalam mempertahankan keberadaan liga dari tahun ke tahun.

Komitmen jangka menengah itu juga menjadi dasar bagi publik untuk memahami arah penyelenggaraan kompetisi. PSSI dan klub peserta tidak hanya menyatakan dukungan terhadap liga, tetapi mengikatkan diri untuk menjalankannya dalam periode yang telah disepakati. Dengan demikian, keberlangsungan kompetisi diupayakan melalui kerja sama para pihak yang terlibat langsung. Konsistensi pelaksanaan selama lima tahun diharapkan memberi waktu bagi liga untuk terus berlangsung dan menjadi bagian dari perkembangan sepak bola putri Indonesia. Kesepakatan tersebut menempatkan keberlanjutan sebagai tujuan penting, tanpa mengabaikan bahwa perjalanan kompetisi tetap perlu ditinjau setelah periode yang ditentukan berakhir.

Setelah lima tahun penyelenggaraan, liga akan dievaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya. Evaluasi itu menjadi tahapan yang telah disiapkan setelah masa komitmen berakhir, sementara keputusan mengenai arah berikutnya akan ditentukan berdasarkan peninjauan tersebut. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai bentuk evaluasi yang disampaikan dalam komitmen ini. Yang ditegaskan ialah bahwa PSSI dan klub-klub peserta berupaya memastikan kompetisi berjalan dalam jangka menengah, lalu menilai kelanjutannya sesudah lima tahun. Kerangka ini menjaga perhatian pada keberlangsungan liga sekaligus memberi ruang untuk menentukan kebijakan berikutnya pada waktunya. Bagi penyelenggaraan sepak bola putri, kepastian periode tersebut menjadi landasan agar kompetisi tetap terlaksana dan dapat dinilai kembali sesuai kesepakatan bersama.

Perhatian Erick Thohir terhadap keberlanjutan kompetisi tidak hanya tertuju pada penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga pada kesiapan klub yang menjadi pesertanya. Liga yang berjalan secara teratur memerlukan klub dengan kemampuan untuk mengelola tim, memenuhi kebutuhan operasional, serta mengikuti jadwal kompetisi sampai musim berakhir. Karena itu, kondisi peserta perlu menjadi pertimbangan sejak awal, bukan baru ditangani ketika masalah sudah mengganggu jalannya pertandingan.

PSSI, menurut penjelasan Erick, ingin memastikan klub dapat beroperasi dengan baik selama mengikuti liga. Keikutsertaan dalam kompetisi membawa tanggung jawab yang berlangsung sepanjang musim. Klub perlu merencanakan kebutuhan tim dan sumber daya secara realistis agar partisipasi mereka tidak bergantung pada kesiapan sesaat. Langkah tersebut penting untuk menjaga agar persaingan tetap berlangsung dan para pemain memperoleh kesempatan bertanding secara konsisten.

Kehati-hatian dalam menilai kondisi klub juga berkaitan dengan risiko peserta terpaksa berhenti di tengah musim. Situasi seperti itu dapat memengaruhi jadwal, keseimbangan kompetisi, dan pengalaman tim lain yang sudah mempersiapkan diri untuk bertanding. Bagi pemain, ketidakpastian mengenai kelanjutan liga juga dapat mengurangi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan melalui pertandingan resmi. Oleh sebab itu, pembicaraan mengenai keberlanjutan liga perlu mencakup kesiapan penyelenggara sekaligus kemampuan klub mempertahankan operasionalnya.

Erick menyampaikan bahwa perhatian terhadap keadaan peserta merupakan bagian dari upaya membangun kompetisi yang dapat berlangsung secara konsisten. PSSI perlu memahami kemampuan klub sebelum liga berjalan, sehingga tantangan yang mungkin muncul dapat dipertimbangkan dengan lebih cermat.

Baca juga: Lapangan Baru di Tangerang Selatan Siap Cetak Talenta Sepak Bola Indonesia | Penemuan Mengerikan di Lapangan Sepak Bola Tangerang

banner 325x300