YOGYAKARTA, DI YOGYAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 21 September 2026, Pada Senin sore yang sunyi, komunitas seni di Yogyakarta dikejutkan dengan berita duka yang menyedihkan. Susilo Nugroho, yang dikenal luas dengan nama Den Baguse Ngarso, telah mengembuskan napas terakhirnya pada usia 67 tahun. Kabar ini menyebar cepat di kalangan kolega dan penggemar seni di seluruh Indonesia, memicu ungkapan rasa kehilangan yang mendalam.
Den Baguse Ngarso dikenal sebagai salah satu seniman terkemuka yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan seni budaya di Yogyakarta. Karya-karyanya yang otentik, baik di bidang seni lukis maupun pertunjukan, telah memperkaya khazanah seni lokal dan nasional. Selama bertahun-tahun, ia telah menciptakan berbagai karya yang tidak hanya menunjukkan teknik yang luar biasa tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam.
Kehilangan sosok seperti Den Baguse Ngarso tentunya memberikan dampak signifikan bagi komunitas seni. Banyak seniman muda yang menganggapnya sebagai sosok teladan dan inspirasi. Keterlibatannya dalam berbagai pameran dan festival seni membuatnya tidak hanya dikenal di Yogyakarta tetapi juga di luar daerah, menjadikannya figura penting dalam dunia seni rupa Indonesia.
Para kolega dan penggemar yang mengenal Den Baguse Ngarso mengenang sosoknya sebagai orang yang ramah, berbakat, dan dermawan. Banyak dari mereka menyatakan bahwa ia tidak hanya seorang seniman, tetapi juga seorang guru yang dengan senang hati berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada generasi selanjutnya. Saat dunia seni kehilangan satu lagi sosok istimewa, kenangan dan warisan Den Baguse Ngarso akan terus hidup dalam setiap karya yang telah ia ciptakan.
Den Baguse Ngarso, sosok yang sangat dihormati dalam komunitas seni Yogyakarta, menghabiskan detik-detik terakhir hidupnya dalam keadaan yang penuh kesedihan. Menjelang kepergiannya, beliau sempat mengeluhkan rasa nyeri yang teramat sangat di bagian dada. Keluhan ini menjadi pertanda awal yang sayangnya diabaikan oleh banyak orang di sekitarnya.
Dalam momen-momen terakhir tersebut, Den Baguse terlihat lebih pendiam dan kurang berinteraksi dengan keluarganya. Meskipun demikian, dia tetap memiliki semangat yang tinggi untuk berkarya, yang telah menjadi jiwa dan raganya selama ini. Keluarga mencatat pergeseran emosional tersebut dan berusaha memberikan dukungan semaksimal mungkin, berharap agar segala rasa sakit yang dialaminya segera berlalu.
Kemudian, pada hari yang kelam itu, Den Baguse ditemukan sudah tidak bernyawa saat tertidur di kamarnya. Istrinya adalah orang pertama yang mengetahui kondisi tersebut, dan momen ini mengantarkan mereka ke dalam suasana duka yang mendalam. Harapan untuk melihat sosok sang seniman kembali bangkit dari tidurnya sirna seketika. Kesedihan mendalam ini menyelimuti keluarga dan kerabat, yang selama ini mengenalnya sebagai sosok inspiratif yang selalu mengedepankan karya seni.
Kepergian Den Baguse Ngarso bukan hanya kehilangan bagi keluarganya, tetapi juga bagi seluruh komunitas seni di Yogyakarta. Ia telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan, dan kenangan-kenangan akan dedikasinya kepada seni akan terus dikenang. Dalam ingatan banyak orang, momen terakhirnya akan selalu diingat sebagai titik akhir perjalanan seorang seniman yang tidak hanya berkiprah di dunia seni, tetapi juga menginspirasi banyak orang di sekelilingnya.
Pemakaman seniman Den Baguse Ngarso direncanakan berlangsung di tempat pemakaman umum Krapyak, yang merupakan lokasi yang dipilih oleh pihak keluarga. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan yang mendalam, mengingat Krapyak merupakan makam keluarga yang sudah ada sejak lama. Keluarga merasa bahwa pemakaman di tempat ini akan menjadi penghormatan yang layak bagi sang seniman, yang telah memberikan kontribusi besar terhadap dunia seni, terutama di Yogyakarta.
Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa, tanggal 22 September 2026. Acara ini akan dilaksanakan pada sore hari, ketika waktu seakan memberikan kesempatan yang baik bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Den Baguse Ngarso. Selama prosesi ini, berbagai ritual dan tradisi akan diikuti, mencerminkan adat budaya yang kuat di Yogyakarta, yang mengutamakan penghormatan kepada para seniman yang telah berpulang.
Antisipasi terhadap acara pemakaman ini cukup tinggi, mengingat Den Baguse Ngarso dikenal tidak hanya di kalangan seniman, tetapi juga oleh masyarakat luas. Banyak pihak yang mengungkapkan rasa duka cita dan berencana untuk turut serta dalam proses pemakaman. Aktivitas ini diharapkan tidak hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga sebagai panggung untuk mengenang warisan dan pencapaian seniman yang telah banyak menginspirasi komunitas seni di daerah ini.
Dengan segala persiapan yang dilakukan, prosesi pemakaman di Krapyak diharapkan dapat berlangsung khidmat dan memberi ruang bagi semua orang yang mengenal Den Baguse Ngarso untuk berharap akan kedamaian dan ketenangan bagi arwah sang seniman. Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam pemakaman ini tentunya menunjukkan betapa besar pengaruh sosial dan budaya yang telah dimiliki oleh beliau selama hidupnya.
Keluarga Den Baguse Ngarso merasa duka yang mendalam pasca kepergian mendadak tokoh penting dalam komunitas seni Yogyakarta ini. Istri dan keponakannya, Uri, mengungkapkan betapa sulitnya menerima kenyataan akan kehilangan tersebut. Mereka menggambarkan momen-momen terakhir bersama almarhum yang sarat makna, termasuk aktivitas rutin yang dijalani sehari sebelum kepergiannya. Ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan mereka dan betapa mendalamnya pengaruh almarhum dalam kehidupan mereka.
Uri menyatakan, "Setiap hari kami merasa beruntung bisa melihatnya beraktivitas, berbagi senyum dan kebaikan. Dalam ingatan saya, hari terakhir itu sangat cerah, di mana dia tampak sehat dan bugar." Keluarga berusaha mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama almarhum, yang selalu memberikan inspirasi dan dukungan kepada mereka. Ini menunjukkan betapa almarhum bukan hanya seorang seniman, tetapi juga sosok yang menjadi tiang penyangga bagi keluarganya.
Lebih dari sekadar kesedihan, reaksi keluarga juga mencerminkan rasa syukur atas waktu yang telah dihabiskan bersamanya. Mereka merasakan bagaimana kehadiran almarhum telah memberikan warna dalam hidup mereka. Dalam momen berkumpul, keluarga berbagi kisah-kisah lucu dan menghangatkan hati tentang berbagai pengalaman yang mereka lalui bersama. Kenangan ini akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka, yang takkan terlupakan meskipun waktu berlalu.
Bagi keluarga Den Baguse Ngarso, kehilangan ini bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga tentang melanjutkan warisan yang telah ditinggalkan. Mereka bertekad untuk mengenang sosok almarhum dengan cara yang positif. Komunitas seni Yogyakarta juga merasakan kehilangan yang sama, dan bersama-sama mereka menghormati ingatan almarhum melalui berbagai kegiatan seni yang akan dilaksanakan sebagai tanda penghormatan.












