Jakarta | Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (26/10). Pertemuan tersebut berlangsung di tengah perhatian terhadap kesiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim hujan. Namun, informasi yang tersedia hanya menyebutkan kehadiran kedua pejabat itu di Istana, tanpa menjelaskan secara pasti agenda ataupun keputusan yang dibahas. Karena itu, pembicaraan mengenai karhutla dan musim hujan belum dapat dipastikan sebagai pokok bahasan rapat tersebut.
Sebelum pertemuan, Teuku menyampaikan kepada awak media bahwa ia belum mengetahui secara rinci hal-hal yang akan dibahas bersama Presiden. Ia mengatakan datang dengan membawa sejumlah bahan untuk rapat. Pernyataan itu menunjukkan bahwa persiapan telah dilakukan, tetapi tidak memberikan rincian mengenai isi bahan maupun kaitannya dengan agenda tertentu. Teuku juga tidak menyebut topik spesifik yang akan disampaikan kepada Prabowo. Dengan demikian, belum ada keterangan terperinci dari Kepala BMKG mengenai arahan, usulan, atau keputusan yang mungkin muncul dalam pertemuan itu.
Sementara itu, Tito Karnavian tidak banyak memberikan keterangan kepada para jurnalis sebelum mengikuti rapat. Menteri Dalam Negeri tersebut meminta awak media menunggu hasil rapat terbatas, tanpa memerinci pembahasan yang akan berlangsung. Sikap itu membuat informasi mengenai tujuan pertemuan tetap terbatas hingga adanya penjelasan setelah rapat. Kehadiran Prabowo, Tito, dan Teuku di Istana menjadi hal yang dapat dikonfirmasi, sedangkan rincian pembicaraan belum disampaikan. Publik masih perlu menunggu keterangan resmi mengenai hasil pertemuan, termasuk apakah kesiapan menghadapi karhutla atau musim hujan menjadi bagian dari pembahasan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyiapkan sejumlah bahan untuk disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, Menteri Dalam Negeri, dan pejabat terkait. Materi tersebut mencakup perkembangan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia serta pembaruan mengenai kondisi iklim. Informasi itu disiapkan sebagai bekal untuk melihat situasi terkini dan mengantisipasi risiko yang dapat berkembang dalam beberapa waktu ke depan. Teuku memperkirakan akan ada banyak hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut, tetapi ia belum merinci agenda rapat secara khusus.
Salah satu bahan yang dibawa adalah perkembangan karhutla di berbagai daerah. Data mengenai titik panas, kondisi cuaca, dan wilayah yang berpotensi terdampak dapat menjadi bagian dari gambaran kesiapsiagaan menghadapi kebakaran. Namun, penyebutan materi tersebut tidak berarti seluruh aspek karhutla sudah dipastikan menjadi pokok pembahasan dalam rapat. Sampai agenda dijelaskan lebih lanjut, bahan yang disiapkan perlu dibedakan dari hal-hal yang benar-benar dikonfirmasi telah dibicarakan. Keterangan Teuku menunjukkan bahwa informasi karhutla tersedia untuk disampaikan, bukan memastikan keputusan atau arahan tertentu sudah dihasilkan dari pertemuan.
BMKG juga menyiapkan perkembangan El Niño ke depan, termasuk pemantauan kondisi iklim yang relevan bagi Indonesia. Informasi tersebut dapat membantu pemerintah memahami potensi perubahan cuaca serta menyiapkan langkah antisipasi, baik terkait risiko kekeringan maupun kebutuhan menghadapi musim hujan. Meski demikian, belum ada rincian dari Teuku mengenai perkiraan waktu, dampak spesifik, atau bentuk tindak lanjut yang akan dibahas bersama Presiden dan Mendagri. Karena itu, materi El Niño sebaiknya dipahami sebagai salah satu bahan yang dibawa BMKG. Teuku menyatakan kemungkinan banyak isu akan dibicarakan, tanpa menetapkan daftar agenda. Dengan demikian, pemberitaan dapat menyebut kesiapan bahan mengenai karhutla dan El Niño, sambil tetap menghindari kesimpulan bahwa setiap bahan tersebut telah dibahas atau menghasilkan keputusan dalam pertemuan.
Teuku menjelaskan bahwa awal musim hujan di Indonesia diperkirakan mengalami keterlambatan sekitar 20 hingga 30 hari. Mundurnya musim tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño, yang memengaruhi waktu datangnya hujan. Karena itu, masyarakat dan pihak terkait perlu memperhatikan perubahan jadwal musim, bukan hanya berpatokan pada pola yang biasanya terjadi setiap tahun. Perkiraan ini menunjukkan bahwa masa peralihan menuju musim hujan dapat berlangsung lebih lambat, sehingga persiapan menghadapi perubahan kondisi cuaca perlu dilakukan dari sekarang.
Menurut keterangan Teuku, sebagian wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari. Perkiraan waktu tersebut menjadi gambaran umum mengenai perkembangan musim di Indonesia, dengan awal hujan yang tidak serentak di seluruh wilayah. Dengan adanya jeda waktu tersebut, kesiapan sebaiknya disusun sebelum hujan mulai turun, agar langkah yang diperlukan tidak baru dilakukan ketika musim telah berjalan.
Teuku juga mengingatkan bahwa sifat hujan diperkirakan berada pada kategori normal. Namun, kondisi normal itu tidak berarti jumlah air hujan yang turun selalu tersebar merata sepanjang musim. Hujan dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup banyak selama durasi yang lebih pendek. Dengan kata lain, periode hujan yang lebih singkat tetap dapat membawa akumulasi curah hujan yang perlu diantisipasi. Keterangan ini menjadi alasan penting untuk menyiapkan langkah kesiapsiagaan sejak sekarang, seiring perkiraan keterlambatan awal musim dan konsentrasi hujan dalam waktu yang lebih terbatas. Pemantauan perkembangan musim serta koordinasi antarpihak dapat membantu memastikan kesiapan berjalan lebih awal, tanpa menunggu seluruh wilayah memasuki musim hujan. Masyarakat juga perlu memahami bahwa perkiraan sifat hujan normal tetap dapat disertai akumulasi hujan yang cukup banyak dalam periode singkat. Karena itu, waktu persiapan menjadi perhatian utama dalam menghadapi musim hujan yang diperkirakan mundur tersebut.Dalam upaya menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemerintah menjalankan operasi modifikasi cuaca dengan memanfaatkan kombinasi dry ice dan NaCl, atau garam. Upaya ini ditujukan untuk mendukung pembentukan awan hujan di wilayah yang memerlukannya, sehingga dapat membantu penanganan karhutla. Penggunaan bahan tersebut menjadi bagian dari langkah operasional yang disiapkan untuk merespons kondisi di lapangan dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko kebakaran. Modifikasi cuaca tidak mengubah potensi hujan menjadi kepastian; hasilnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan.
Teuku menyampaikan bahwa operasi tersebut dilakukan secara masif atas arahan Presiden. Menurutnya, skala pelaksanaan kali ini termasuk salah satu yang paling masif selama ini. Pernyataan itu menggambarkan besarnya upaya yang dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla melalui intervensi cuaca. Pelaksanaan operasi tetap menjadi bagian dari langkah menghadapi kondisi yang berkembang, dengan pemantauan terhadap potensi awan dan situasi di sejumlah wilayah. Kombinasi dry ice dan NaCl digunakan dalam operasi modifikasi cuaca, sementara prakiraan potensi pertumbuhan awan menjadi salah satu informasi penting dalam menentukan perkembangan kondisi cuaca pada rentang hari berikutnya.
Untuk Kalimantan Tengah, potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan tinggi pada hari itu hingga lima hari berikutnya. Sementara itu, di Sumatra Selatan, potensi tersebut diperkirakan tinggi mulai keesokan hari hingga lima hari setelahnya. Rentang waktu prakiraan di kedua wilayah itu tidak sama, sehingga perlu dibaca sesuai wilayah masing-masing. Potensi pertumbuhan awan hujan menunjukkan peluang terbentuknya awan, bukan jaminan bahwa hujan pasti turun di seluruh wilayah atau sepanjang periode tersebut. Karena itu, informasi ini menjadi dasar pemantauan dan kesiapsiagaan, baik dalam mendukung upaya penanganan karhutla maupun dalam mengantisipasi perkembangan cuaca. Operasi modifikasi cuaca dan prakiraan awan hujan memberikan gambaran langkah serta kondisi yang sedang diperhatikan pemerintah.
Baca juga: Prediksi Musim Hujan Indonesia 2026/2027: Keterlambatan dan Fenomena El Nino | Presiden Prabowo Ucapkan Selamat kepada Rahmat Erwin atas Emas Asian Games 2026 | Dampak Mundurnya Musim Hujan Terhadap Kesehatan Warga Jakarta












