PROBOLINGGO — Musim panen tembakau yang semestinya menjadi momentum bagi petani menikmati hasil kerja keras selama berbulan-bulan, justru diwarnai keluhan mengenai penurunan harga di sejumlah wilayah Kabupaten Probolinggo.
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah petani tembakau di Desa Seboro, Kecamatan Krejengan, yang mengaku harga jual hasil panen mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan harga pada awal musim panen.
Berdasarkan keterangan petani dan pantauan di lapangan, harga tembakau pada awal panen masih berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, harga yang diterima petani disebut turun menjadi sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Penurunan tersebut dinilai semakin membebani petani karena biaya produksi, mulai dari pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, hingga perawatan tanaman, relatif tinggi.
“Daunnya bagus dan mulus. Kadar nikotinnya juga masuk. Tetapi ketika dijual ke gudang, harganya turun. Awalnya sekitar Rp65 ribu, sekarang Rp50 ribu bahkan ada yang Rp40 ribuan per kilogram. Kami jelas rugi,” ujar salah seorang petani tembakau di Seboro.
Petani menyebut persoalan harga bukan semata-mata berkaitan dengan kualitas tanaman. Mereka berharap terdapat mekanisme penilaian mutu yang lebih transparan sehingga harga pembelian dapat disesuaikan dengan kualitas tembakau yang disetorkan.
Menurut mereka, perbedaan kualitas seharusnya menjadi dasar dalam menentukan harga. Dengan demikian, tembakau dengan mutu lebih baik tidak dibeli dengan harga yang sama dengan tembakau berkualitas lebih rendah.
“Kalau kualitasnya bagus, seharusnya ada penghargaan melalui harga. Kami bukan meminta dikasihani, tetapi meminta harga yang adil. Kalau kualitas A, harganya juga harus sesuai grade A, jangan semua disamaratakan,” tegas petani lainnya.
Kondisi tersebut membuat petani berharap Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui dinas terkait segera melakukan langkah konkret untuk mengetahui kondisi harga tembakau di tingkat petani.
Petani juga meminta adanya komunikasi antara pemerintah, petani, dan pihak gudang pembelian tembakau agar persoalan harga dapat dibahas secara terbuka.
Mereka menilai pemerintah perlu memastikan mekanisme perdagangan tembakau berlangsung secara wajar dan tidak menempatkan petani pada posisi yang terlalu lemah dalam menentukan nilai hasil panennya.
Tembakau selama ini menjadi salah satu komoditas pertanian yang memiliki peran penting bagi perekonomian masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Karena itu, perubahan harga pada saat musim panen berpotensi langsung memengaruhi pendapatan rumah tangga petani.
Jika harga terus menurun sementara biaya produksi tetap tinggi, petani khawatir tidak mampu menutup modal yang telah dikeluarkan sejak awal musim tanam.
“Kami berharap pemerintah jangan hanya melihat ketika harga tinggi. Saat harga turun seperti sekarang, petani juga perlu diperhatikan. Panen ini menentukan apakah modal kami kembali atau justru mengalami kerugian,” kata petani tersebut.
Petani berharap pemerintah dapat mendorong adanya sistem penentuan harga yang lebih transparan berdasarkan kualitas atau grade tembakau.
Mereka juga meminta adanya pengawasan dan komunikasi yang lebih intensif selama musim pembelian berlangsung. Menurut petani, kepastian mengenai parameter mutu dan harga akan membantu menciptakan perdagangan yang lebih sehat antara petani dan pembeli.
Namun, usulan mengenai harga dasar atau acuan harga perlu mempertimbangkan ketentuan perdagangan tembakau, mekanisme pasar, kualitas hasil panen, serta aturan yang berlaku. Karena itu, diperlukan pembahasan bersama agar kebijakan yang diambil tidak justru menimbulkan persoalan baru.
Sementara itu, hingga berita ini disusun, Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo belum memberikan keterangan resmi mengenai keluhan petani terkait penurunan harga tembakau tersebut.
Konfirmasi kepada pihak terkait tetap diperlukan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan perubahan harga, termasuk apakah penurunan tersebut dipengaruhi kualitas, kondisi pasar, permintaan gudang, atau faktor lainnya.
Bagi petani Seboro, persoalan tersebut tidak sekadar menyangkut selisih beberapa ribu rupiah per kilogram. Dengan volume panen yang mencapai ratusan kilogram hingga beberapa ton per petani, perubahan harga dapat berdampak langsung terhadap pendapatan mereka.
Musim panen pun terus berjalan. Petani berharap persoalan harga dapat segera mendapat perhatian sehingga hasil kerja selama berbulan-bulan tidak berujung pada kerugian.
Pewarta: Edi Darminto
Narasumber: Petani Tembakau Desa Seboro, Kecamatan Krejengan














Respon (1)