Kota Makassar | Bahlil Lahadalia batal menghadiri pelantikan pengurus DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026–2031 yang dipimpin Ilham Arief Sirajuddin. Agenda tersebut berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026, di Hotel Four Points, Jalan Andi Djemma, Kota Makassar. Ketidakhadiran Bahlil menjadi perhatian karena ia menjabat Ketua Umum Partai Golkar. Ia tidak dapat hadir lantaran mendampingi Presiden Prabowo Subianto, sementara pelantikan tetap berjalan sesuai agenda. Acara dipimpin Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji, yang mewakili jajaran pusat dalam prosesi pelantikan kepengurusan baru di tingkat provinsi.
Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut, termasuk Menteri Komunikasi dan Digitalisasi Meutya Hafid serta Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Kehadiran para pejabat dan unsur partai menunjukkan bahwa pelantikan ini menjadi agenda penting bagi konsolidasi Golkar di Sulawesi Selatan. Para pengurus yang dipimpin Ilham Arief Sirajuddin akan menjalankan mandat untuk periode 2026–2031. Prosesi berlangsung di Makassar, yang menjadi pusat kegiatan politik dan pemerintahan di provinsi tersebut. Meski ketua umum tidak hadir, kepemimpinan Sarmuji memastikan acara tetap dipimpin oleh perwakilan resmi DPP Partai Golkar.
Pelantikan pengurus daerah merupakan tahapan organisasi setelah susunan kepengurusan ditetapkan. Dalam kesempatan ini, perhatian tertuju pada pergantian kepemimpinan di DPD I Golkar Sulsel dan tanggung jawab jajaran baru selama lima tahun mendatang. Ilham Arief Sirajuddin memimpin kepengurusan periode baru, sedangkan Sarmuji memimpin jalannya pelantikan. Kehadiran Meutya Hafid dan Maman Abdurrahman turut menambah jajaran tamu yang mengikuti acara. Bahlil, meskipun tidak dapat hadir, tetap menjadi bagian dari konteks kegiatan sebagai Ketua Umum Golkar. Pelaksanaan di Hotel Four Points menandai dimulainya masa kerja pengurus baru, dengan agenda organisasi dan konsolidasi partai di Sulawesi Selatan sebagai bagian dari tugas mereka.
Bahlil Lahadalia tidak dapat menghadiri pelantikan pengurus Partai Golkar Sulawesi Selatan karena harus mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Dalam keterangannya, Sarmuji menjelaskan bahwa agenda bersama Presiden membuat Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut berhalangan hadir secara langsung. Bahlil, yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memiliki tanggung jawab untuk mendampingi Prabowo dalam membahas sejumlah persoalan penting. Karena kewajiban itu, kehadirannya di acara pelantikan tidak dapat terlaksana sesuai rencana.
Sarmuji menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bahlil kepada pengurus dan pihak yang hadir dalam pelantikan. Permohonan tersebut disampaikan sebagai penjelasan bahwa absennya ketua umum bukan disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap kegiatan organisasi di Sulawesi Selatan. Pada saat yang sama, Bahlil sedang menjalankan agenda bersama Presiden, sehingga ia tidak bisa meninggalkan tugas tersebut untuk datang ke acara. Keterangan Sarmuji menegaskan alasan ketidakhadiran itu tanpa merinci persoalan yang dibahas dalam pertemuan bersama Prabowo.
Sebelum acara berlangsung, sempat direncanakan agar Bahlil menyapa para pengurus melalui Zoom apabila ia tidak dapat hadir langsung. Rencana itu dimaksudkan sebagai cara untuk tetap menyampaikan sapaan kepada peserta pelantikan meski terhalang agenda. Namun, kesempatan untuk melakukan sambungan daring tersebut pada akhirnya tidak terlaksana. Menurut Sarmuji, Bahlil sudah berada bersama Presiden Prabowo untuk membahas sejumlah persoalan penting ketika rencana tersebut seharusnya dilakukan. Dengan demikian, ia tidak dapat hadir di lokasi maupun menyapa pengurus melalui Zoom. Penjelasan ini menjadi dasar bagi pengurus memahami bahwa ketidakhadiran Bahlil berkaitan dengan tugas mendampingi Presiden, sementara permohonan maaf telah disampaikan melalui Sarmuji.
Sarmuji menegaskan bahwa ketidakhadiran Bahlil dalam pelantikan Golkar Sulawesi Selatan tidak berarti perhatian partai terhadap provinsi tersebut berkurang. Menurutnya, absennya Bahlil pada acara itu perlu dipahami sesuai konteks yang disampaikan, yakni ia sedang mendampingi Prabowo. Karena itu, keadaan tersebut tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai hubungan maupun perhatian Golkar kepada Sulawesi Selatan. Sarmuji menyampaikan penegasan itu untuk menjelaskan bahwa agenda pelantikan dan komitmen partai terhadap daerah merupakan hal yang berbeda. Tidak hadir dalam satu kegiatan bukan berarti suatu wilayah dianggap kurang penting oleh partai.
Ia juga menyebut Sulawesi Selatan sebagai salah satu basis utama pendulang suara Golkar. Pernyataan tersebut menunjukkan posisi strategis provinsi itu bagi partai berlambang pohon beringin, sekaligus menjelaskan mengapa perhatian terhadap wilayah tersebut tetap penting. Dalam penjelasan Sarmuji, peran Sulawesi Selatan sebagai basis suara tidak berubah karena Bahlil berhalangan menghadiri pelantikan. Dengan demikian, keterangan mengenai absensi itu tidak menghapus pengakuan Golkar atas arti wilayah tersebut bagi partai. Sarmuji menekankan posisi Sulawesi Selatan sebagai bagian penting dari basis dukungan Golkar tanpa mengaitkannya dengan klaim lain di luar pernyataannya.
Sarmuji turut menyatakan bahwa Bahlil sangat menghargai Sulawesi Selatan. Penegasan ini memberi konteks tentang sikap Bahlil terhadap provinsi tersebut, meskipun ia tidak hadir secara langsung dalam pelantikan. Keterangan itu juga sejalan dengan penjelasan bahwa absensi terjadi karena Bahlil mendampingi Prabowo, bukan karena kurangnya penghargaan kepada Sulawesi Selatan. Sarmuji tidak menyatakan bahwa ketidakhadiran tersebut mengubah kedudukan provinsi itu bagi Golkar. Pesan utamanya ialah bahwa Sulawesi Selatan tetap menjadi basis penting pendulang suara partai dan tetap memperoleh perhatian, sementara Bahlil disebut menghargai wilayah itu. Penjelasan tersebut mempertahankan makna pernyataan Sarmuji: alasan absensi dan penghargaan terhadap Sulawesi Selatan disampaikan secara terpisah, tanpa menyimpulkan hal lain yang tidak disebutkan.
Sarmuji menyampaikan pesan tentang hubungan pemimpin dan kader dengan merujuk pada filosofi sastra Makassar. Dalam perumpamaan tersebut, pemimpin diibaratkan sebagai jarum, sedangkan para pengikut atau kader merupakan benang. Keduanya memiliki peran yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan jika hendak menghasilkan tenunan yang kuat dan indah. Jarum membuka jalan bagi benang, sementara benang mengikuti arah yang dibentuk jarum. Perumpamaan ini menggambarkan pentingnya keterhubungan dan kerja bersama dalam organisasi.
Bagi kader, pesan itu menekankan perlunya komitmen, kesediaan menaati instruksi, serta kemauan mengikuti arahan yang telah ditetapkan. Sikap tersebut membantu organisasi bergerak dalam satu tujuan, bukan berjalan sendiri-sendiri. Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak kader. Pemimpin juga harus menjalankan fungsinya dengan jelas: memberi arahan, mengambil keputusan ketika diperlukan, menunjukkan teladan, dan menggerakkan potensi yang dimiliki organisasi. Instruksi akan lebih mudah diterima apabila pemimpin hadir dengan sikap yang konsisten dan memahami kebutuhan anggotanya.
Karena itu, kepatuhan tidak semestinya dipahami sebagai tuntutan sepihak kepada kader. Pemimpin perlu menempatkan diri secara proporsional, membangun kepercayaan, serta menyatukan anggota yang memiliki latar belakang dan kemampuan beragam. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar meminta loyalitas, melainkan juga menciptakan arah dan suasana yang memungkinkan kader berkontribusi. Dalam organisasi, arahan yang tidak disertai keteladanan berisiko membuat hubungan pemimpin dan anggota menjadi renggang, sementara loyalitas yang tidak terhubung dengan tujuan bersama sulit menghasilkan kerja yang efektif.
Sarmuji menutup gagasan itu melalui gambaran bahwa jarum yang tidak bergerak dengan baik tidak akan menghasilkan tenunan yang indah. Maknanya, kader yang setia membutuhkan pemimpin yang mampu memberi arah dan menggerakkan organisasi. Sebaliknya, kepemimpinan akan kehilangan daya apabila tidak didukung kader yang berkomitmen dan bersedia bekerja bersama. Keseimbangan kedua peran inilah yang memungkinkan organisasi menjaga persatuan, menerjemahkan arahan menjadi tindakan, dan memanfaatkan kemampuan anggotanya secara lebih optimal.
Baca juga: Koramil Tiris Dampingi Petani Rawat Tanaman Padi untuk Dukung Ketahanan Pangan | Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran, Babinsa Dampingi Pembagian Bantuan Beras












