banner 728x250

Kecelakaan Helikopter MI-17V5 Saat Operasi Karhutla di Seruyan

Kecelakaan Helikopter MI-17V5 Saat Operasi Karhutla di Seruyan
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Seruyan. Berdasarkan | Helikopter MI-17V5 milik Pusat Penerbang Angkatan Darat (Puspenerbad) mengalami kecelakaan saat mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Berdasarkan keterangan resmi TNI Angkatan Darat, insiden tersebut terjadi pada Rabu, 3 November 2026, pukul 11.18 WIB. Lokasi kejadian berada di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan. Peristiwa ini berlangsung ketika helikopter tengah menjalankan tugas dalam operasi penanggulangan kebakaran di wilayah tersebut.

Misi penerbangan itu merupakan bagian dari upaya pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Dukungan udara dibutuhkan dalam operasi semacam ini untuk membantu penanganan titik-titik kebakaran yang berada di area luas atau sulit dijangkau melalui jalur darat. Namun, rincian mengenai kegiatan penerbangan tepat sebelum kecelakaan, termasuk rute dan tahapan operasi yang sedang dilakukan, tidak disebutkan dalam keterangan yang dirujuk. Karena itu, informasi mengenai penyebab insiden maupun urutan kejadian secara terperinci masih perlu menunggu penjelasan resmi lebih lanjut.

banner 325x300

Tempat kejadian di perairan Sungai Perlu menempatkan insiden ini dalam konteks operasi udara yang berlangsung di kawasan Seruyan. Informasi dasar mengenai jenis helikopter, satuan pemilik, waktu, lokasi, serta tujuan misi menjadi pokok awal untuk memahami peristiwa tersebut. TNI AD menyatakan bahwa kecelakaan terjadi ketika pesawat mendukung tugas pemadaman karhutla, bukan dalam penerbangan yang terpisah dari operasi itu. Perkembangan berikutnya, termasuk keterangan mengenai kondisi awak dan proses penanganan di lokasi, sebaiknya merujuk pada pembaruan dari pihak berwenang agar informasi yang beredar tetap akurat.

Helikopter MI-17V5 menjalankan misi untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting. Berdasarkan informasi yang tersedia, pesawat tersebut lepas landas dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB. Penerbangan itu merupakan bagian dari upaya operasi pemadaman melalui metode water bombing, yaitu pengambilan air untuk kemudian digunakan dalam penanganan kebakaran. Keterangan yang disampaikan menetapkan waktu keberangkatan dan tujuan umum misi, tetapi tidak memuat rincian mengenai rute penerbangan ataupun lama perjalanan menuju lokasi pengambilan air.

Dalam rangkaian operasi tersebut, helikopter menuju perairan Desa Sungai Perlu untuk mengambil air. Lokasi pengambilan air ini menjadi bagian dari pelaksanaan water bombing bagi penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Ketika berada dalam proses pengambilan air, helikopter mengalami kendala terbang. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan secara lebih terperinci kapan kendala itu mulai dirasakan, seperti apa kondisi pesawat sebelum kejadian, maupun tindakan yang dilakukan awak setelah kendala muncul. Karena itu, urutan kejadian dapat dijelaskan sebatas bahwa kendala terbang terjadi saat helikopter mengambil air di perairan tersebut.

Setelah mengalami kendala terbang, helikopter MI-17V5 kemudian jatuh ke sungai di wilayah Desa Sungai Perlu. Dengan demikian, kronologi yang dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia mencakup keberangkatan dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB, pelaksanaan misi penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, pengambilan air untuk water bombing, munculnya kendala terbang, dan jatuhnya helikopter ke sungai. Belum ada rincian dalam informasi tersebut yang menerangkan penyebab kendala, waktu tepat helikopter terjatuh, atau faktor lain yang mendahului kejadian. Penyebab teknis maupun detail kronologi tambahan tidak dapat disimpulkan hanya dari urutan singkat ini; penjelasan lebih lanjut perlu merujuk pada keterangan resmi yang tersedia.

TNI AD mengerahkan personel untuk membantu proses evakuasi delapan kru helikopter MI-17V5 yang mengalami kecelakaan saat mendukung operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Seruyan. Evakuasi dilakukan melalui jalur udara, dengan perhatian utama diarahkan pada upaya menjangkau seluruh kru dan memberikan pertolongan secepatnya. Personel yang dikerahkan bekerja dalam proses pencarian dan pemindahan korban dari lokasi kejadian menuju tempat penanganan medis. Jalur udara digunakan untuk mendukung akses ke lokasi, sementara proses evakuasi berlangsung bertahap sesuai perkembangan di lapangan.

Berdasarkan perkembangan yang dilaporkan, satu kru ditemukan meninggal dunia. Jenazah kru tersebut telah dibawa ke Rumah Sakit Kuala Pembuang untuk penanganan lebih lanjut. Lima kru lainnya dilaporkan selamat dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit yang sama. Informasi tersebut menggambarkan kondisi yang telah dapat dipastikan pada saat laporan disampaikan, tanpa memberikan rincian tambahan mengenai identitas maupun keadaan masing-masing kru. Penanganan terhadap para korban dilakukan seiring berlangsungnya upaya untuk mengevakuasi seluruh personel yang berada dalam helikopter.

Sementara itu, dua kru lainnya masih berada dalam proses evakuasi. Personel TNI AD terus mengupayakan agar proses tersebut dapat dilakukan secepatnya, dengan prioritas keselamatan dan pemberian pertolongan kepada seluruh kru. Perkembangan mengenai kedua kru itu masih menunggu hasil evakuasi, sehingga belum ada keterangan lebih lanjut yang dapat disampaikan. Hingga seluruh tahapan selesai, informasi mengenai jumlah kru yang telah dievakuasi dan kondisi yang telah dilaporkan menjadi dasar pembaruan situasi. Upaya evakuasi melalui udara tetap berfokus pada menjangkau personel yang belum dibawa keluar dari lokasi dan memastikan mereka memperoleh penanganan setelah berhasil dievakuasi.

Setelah kecelakaan helikopter MI-17V5 dalam operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, TNI AD menyatakan pencarian terhadap kru yang masih belum ditemukan terus dilakukan. Upaya pencarian tersebut menjadi prioritas setelah insiden terjadi ketika helikopter menjalankan misi karhutla. Perkembangan evakuasi yang telah dikonfirmasi perlu dipisahkan dari informasi yang belum tersedia: bahan sumber menyebut adanya proses evakuasi, tetapi tidak merinci jumlah orang yang telah dievakuasi maupun kondisi mereka. Karena itu, keterangan lebih jauh mengenai hasil evakuasi tidak dapat dipastikan dari informasi yang ada.

Fakta yang dapat disampaikan sejauh ini mencakup lokasi kejadian, yakni wilayah Seruyan; keterlibatan helikopter MI-17V5; serta konteks penerbangan, yaitu operasi penanganan karhutla. Informasi mengenai waktu kejadian juga perlu disampaikan secara cermat. Bahan yang tersedia tidak mencantumkan jam atau rincian waktu yang dapat dipastikan, sehingga angka maupun kronologi waktu yang lebih spesifik tidak sepatutnya ditambahkan. Pencarian terhadap kru yang belum ditemukan masih berlangsung, sedangkan perkembangan mengenai evakuasi hanya dapat dijelaskan sejauh yang telah dikonfirmasi oleh sumber.

Di sisi lain, penyebab kecelakaan belum diketahui. TNI AD menyelidiki insiden tersebut, dan hasil pemeriksaan belum dapat disimpulkan berdasarkan keterangan yang tersedia. Belum ada dasar untuk menyebut faktor teknis, kondisi cuaca, kesalahan operasional, atau dugaan lain sebagai penyebab. Menjaga batas fakta terkonfirmasi dan hal yang masih diperiksa penting agar pemberitaan tidak mendahului proses penyelidikan. Informasi baru mengenai kru, evakuasi, maupun penyebab kecelakaan perlu menunggu pernyataan resmi berikutnya. Untuk sementara, langkah yang dinyatakan TNI AD tetap berfokus pada pencarian kru yang belum ditemukan dan penyelidikan untuk mengetahui penyebab insiden, tanpa menganggap dugaan sebagai kesimpulan.

Baca juga: Luka Akibat Kecelakaan, Warga Bapelle Diduga Diminta Lengkapi KK di Puskesmas Kedungdung | Asap Karhutla Menebal di Palembang, Kualitas Udara Capai Level Berbahaya | Peserta Audax Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Kulon Progo

344 kunjungan
banner 325x300