banner 728x250

Korban Karhutla Bromo Bertambah Menjadi Enam, Suraji Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Karhutla di Jawa Timur Meluas, Kawasan Konservasi Paling Terdampak
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Probolinggo. Kepergian Suraji | Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, bertambah menjadi enam orang. Korban terbaru adalah Suraji, petugas keamanan Artotel PT Mitra Indo Permai yang sempat mengalami luka bakar saat peristiwa kebakaran berlangsung. Ia meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober, setelah menjalani perawatan intensif.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan bahwa Suraji mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Keterangan tersebut menegaskan bahwa kondisi Suraji sebelumnya memerlukan penanganan medis secara intensif akibat luka bakar yang dideritanya. Kepergiannya menambah jumlah korban jiwa dalam insiden kebakaran di kawasan konservasi tersebut menjadi enam orang.

banner 325x300

Suraji diketahui bertugas sebagai petugas keamanan Artotel PT Mitra Indo Permai. Ia terluka ketika ikut menangani kebakaran di kawasan TNBTS, menurut informasi yang disampaikan dalam pemberitaan mengenai insiden itu. Setelah mengalami luka bakar, Suraji memperoleh perawatan intensif, namun nyawanya tidak tertolong. Kabar meninggalnya Suraji disampaikan oleh pihak Balai Besar TNBTS pada Jumat tersebut.

Bertambahnya korban meninggal menandai dampak serius kebakaran terhadap orang-orang yang berada di sekitar lokasi maupun terlibat dalam penanganan api. Hingga kabar mengenai Suraji disampaikan, jumlah korban jiwa tercatat enam orang. Informasi mengenai waktu meninggalnya dan identitas Suraji disampaikan oleh Rudijanta, sementara laporan menyebutkan bahwa almarhum merupakan petugas keamanan Artotel PT Mitra Indo Permai. Peristiwa ini terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, salah satu kawasan konservasi di Jawa Timur. Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut melibatkan risiko bagi petugas serta pihak lain yang berada di area terdampak. Kondisi Suraji yang menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka bakar menunjukkan beratnya cedera yang dialaminya. Setelah ia meninggal pada Jumat, 23 Oktober, jumlah korban meninggal akibat kebakaran itu pun bertambah dari lima menjadi enam orang. Pihak Balai Besar TNBTS menyampaikan kabar duka tersebut melalui keterangan kepala balai, yang menyebut Suraji meninggal sekitar pukul 12.00 WIB.

Suraji menjadi salah satu korban dalam kebakaran yang melanda kawasan konservasi Bromo setelah mengalami luka saat ikut berupaya memadamkan api. Upaya tersebut berlangsung di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah I, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo. Keterlibatannya dalam penanganan kebakaran membuat Suraji berada di lokasi ketika api masih menjadi ancaman bagi kawasan tersebut.

Setelah terluka, Suraji menjalani perawatan intensif. Namun, ia kemudian meninggal dunia. Kepergiannya menambah jumlah korban jiwa dalam peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan Bromo. Dengan meninggalnya Suraji, jumlah korban dalam kebakaran tersebut bertambah menjadi enam orang.

Kebakaran yang dimaksud telah melanda kawasan konservasi Bromo sejak 15 Oktober. Peristiwa itu menjadi perhatian karena terjadi di wilayah yang memiliki fungsi konservasi, termasuk kawasan Resort Tengger Laut Pasir. Dalam konteks tersebut, pengalaman Suraji menunjukkan bahwa orang yang turut membantu upaya pemadaman juga dapat menjadi korban saat kebakaran berlangsung.

Informasi mengenai Suraji menempatkan peristiwa ini bukan hanya sebagai kebakaran yang berdampak pada kawasan, tetapi juga sebagai kejadian yang menimbulkan kehilangan jiwa. Ia mengalami luka ketika ikut berupaya memadamkan kebakaran di Cemorolawang, lalu meninggal setelah mendapatkan perawatan intensif. Rangkaian informasi ini menjadi bagian dari catatan mengenai dampak kebakaran Bromo dan bertambahnya korban jiwa.

Jumlah korban yang mencapai enam orang mencerminkan dampak serius dari kebakaran yang berlangsung sejak 15 Oktober. Adapun keterangan yang tersedia mengenai Suraji terbatas pada lokasi ia mengalami luka, keterlibatannya dalam upaya pemadaman, serta kematiannya setelah dirawat intensif. Tidak ada rincian tambahan yang diperlukan untuk memahami bahwa ia menjadi korban dalam penanganan kebakaran tersebut. Peristiwa ini menegaskan bahwa kebakaran di kawasan konservasi Bromo membawa konsekuensi bagi para korban, termasuk mereka yang berupaya membantu memadamkan api di Resort Tengger Laut Pasir.

Sebelum Suraji meninggal setelah menjalani perawatan intensif, lima orang lebih dahulu kehilangan nyawa dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo. Peristiwa yang merenggut korban tersebut terjadi di titik Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo. Mereka berada di lokasi ketika api berusaha dikendalikan, dan berasal dari unsur petugas konservasi, pekerja hotel, serta masyarakat yang mendukung pengamanan kawasan. Data mengenai identitas dan peran para korban penting dicatat agar rangkaian dampak kebakaran ini dapat dipahami dengan jelas.

Dua korban merupakan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yakni Sukaris, berusia 55 tahun, dan Hendra Rony Wagiyanata, berusia 33 tahun. Keduanya tercatat dalam kelompok petugas yang terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut. Sementara itu, Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, dan Sefriel Ardiansyah, 19 tahun, bekerja sebagai karyawan hotel di sekitar lokasi. Mereka juga termasuk dalam lima orang yang meninggal ketika berupaya memadamkan api di Pusung Lingker.

Korban lainnya adalah Munawi, berusia 44 tahun, yang merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut. Keikutsertaannya mencerminkan keterlibatan unsur masyarakat dalam upaya membantu penanganan kebakaran di kawasan konservasi. Dengan demikian, lima orang yang lebih dahulu meninggal terdiri atas dua petugas Balai Besar TNBTS, dua karyawan hotel, dan satu anggota Masyarakat Mitra Polhut. Nama-nama tersebut adalah Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, dan Munawi. Setelah itu, Suraji menyusul sebagai korban keenam, sehingga jumlah korban meninggal dalam rangkaian peristiwa ini bertambah menjadi enam orang. Catatan ini menegaskan besarnya dampak kebakaran bagi mereka yang terlibat dalam upaya pemadaman, tanpa mengabaikan perbedaan peran dan latar belakang masing-masing korban.

Korban jiwa dalam kebakaran hutan dan lahan tidak hanya tercatat di kawasan Bromo. Sejumlah kejadian di daerah lain menunjukkan bahwa upaya warga dan petugas untuk menahan api juga dapat membawa risiko serius, terutama ketika kebakaran meluas di sekitar kebun, lahan terbuka, atau permukiman. Dalam konteks bertambahnya korban di Bromo, laporan dari Kalimantan menjadi pengingat bahwa dampak karhutla dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia dengan keadaan dan penanganan yang berbeda. Setiap laporan perlu dipahami berdasarkan keterangan yang tersedia, tanpa menyamakan rincian antarperistiwa.

Di Samarinda, seorang pria berinisial LJ, 60 tahun, meninggal setelah terbakar ketika kebakaran melanda perkebunan di Jalan Anggur, Kelurahan Sidodadi, pada 13 Oktober. Ia bersama warga sempat berusaha memadamkan api agar tidak merambat ke permukiman. Berdasarkan pemeriksaan medis awal, luka bakar serius dan paparan hawa panas disebut sebagai penyebab kematian. Peristiwa itu memperlihatkan bahaya yang dihadapi warga ketika membantu mencegah api mencapai rumah-rumah, sekaligus pentingnya penanganan kebakaran yang mempertimbangkan keselamatan orang di sekitar lokasi. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih lanjut kondisi kebakaran maupun proses penanganan setelah kejadian.

Kasus lain terjadi di Palangka Raya. Akhmad Rizani, 53 tahun, yang menjabat Ketua Tim Serbu Api Kecamatan Jekan Raya, meninggal pada 27 Agustus setelah ditemukan dalam keadaan kesakitan seusai memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan. Selain korban jiwa dalam insiden kebakaran langsung, setidaknya tiga anak di Kalimantan juga dilaporkan meninggal akibat kabut asap. Keterangan yang tersedia tidak memuat rincian lebih jauh mengenai kasus anak-anak tersebut, sehingga angka itu disampaikan sebatas laporan yang ada. Berbagai kejadian ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat mencakup bahaya api bagi orang yang berada di lokasi maupun dampak asap bagi masyarakat.

Baca juga: Rencana Perpanjangan Rute KRL Jabodetabek: Cikampek dan Cigombong Menjadi Tujuan Baru | Babinsa Koramil 0908-01/Loktuan Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Kelurahan Bontang Lestari | Tim Penyuluh Mabes TNI Edukasi Karhutla kepada Tomas dan LSM Samarinda Utara

banner 325x300