banner 728x250

Koster Akui Terpancing Emosi saat Meninjau Gangguan Layanan BBM di Bali

Keluhan Pegawai SPBU soal Kelelahan Mengemuka di Hadapan Gubernur Bali
banner 120x600
banner 468x60

Denpasar | Gubernur Bali Wayan Koster mengakui dirinya ikut terpancing emosi saat berhadapan dengan petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam sebuah insiden yang videonya kemudian viral di media sosial. Pengakuan itu disampaikan di Denpasar pada Jumat, 30 Oktober 2026, di sela rapat paripurna DPRD Bali. Koster menyatakan ia menyesal karena tidak mampu menjaga ketenangan dalam situasi tersebut. Ia juga menilai seharusnya dapat merespons petugas dengan cara yang lebih bijak, alih-alih membiarkan emosi memengaruhi sikap dan perkataannya. Pengakuan itu menjadi penjelasan langsung dari Koster setelah peristiwa tersebut mendapat perhatian publik melalui rekaman yang beredar luas.

Koster menyoroti sikapnya sendiri ketika menceritakan insiden itu. Ia mengakui bahwa keterlibatan dirinya dalam situasi tersebut tidak membuatnya terbebas dari tanggung jawab untuk tetap mengendalikan diri. Menurut pengakuannya, ia semestinya menghadapi petugas dengan lebih tenang, meskipun suasana saat itu memancing emosi. Pernyataan tersebut menegaskan penyesalannya terhadap cara ia merespons, bukan sekadar terhadap munculnya rekaman di ruang publik. Dengan menyampaikan hal itu di sela agenda resmi, Koster memberikan tanggapan langsung mengenai perilakunya dalam insiden yang menjadi perbincangan. Ia tidak menutupi bahwa dirinya turut terpancing, dan mengakui bahwa respons yang lebih terkendali akan lebih tepat dalam menghadapi situasi tersebut.

banner 325x300

Pengakuan Koster juga memuat refleksi tentang pentingnya menjaga sikap saat berkomunikasi dengan petugas layanan publik. Ia menyadari bahwa dirinya seharusnya bisa memilih respons yang lebih bijaksana, sekalipun tengah menghadapi persoalan yang memicu emosi. Penyesalan itu menjadi bagian utama dari keterangannya mengenai insiden di SPBU tersebut. Video yang beredar telah menarik perhatian masyarakat, sementara Koster menyampaikan pandangannya secara terbuka di hadapan wartawan di Denpasar. Ia mengakui bahwa dirinya tidak tetap tenang dan menyebut respons yang lebih baik semestinya dapat diberikan kepada petugas. Pernyataan itu memberikan konteks mengenai sikap Koster setelah insiden, sekaligus menunjukkan bahwa ia menilai tindakannya sendiri perlu disikapi dengan penyesalan.

Kedatangan Gubernur Bali, Wayan Koster, ke sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilakukan untuk melihat langsung kondisi layanan setelah muncul gangguan pasokan dan kelangkaan BBM. Peninjauan tersebut bertujuan memastikan langkah penanganan berjalan optimal serta kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar dapat dilayani secepat mungkin. Selain memeriksa ketersediaan BBM, Koster ingin mengetahui kesiapan operasional SPBU, termasuk apakah layanan selama 24 jam dapat dijalankan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan langsung dinilai penting agar kendala di lapangan dapat diketahui tanpa hanya mengandalkan laporan. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat memahami hambatan yang dialami pengelola dan menilai tindakan yang perlu dilakukan untuk memulihkan pelayanan bagi warga.

Namun, setibanya di lokasi, Koster mendapati SPBU tersebut belum beroperasi. Kondisi itu terjadi ketika kendaraan masyarakat telah mengantre panjang untuk mendapatkan BBM. Antrean yang mengular memperlihatkan besarnya kebutuhan warga sekaligus dampak nyata dari terhentinya pelayanan. Situasi tersebut menjadi perhatian dalam peninjauan, sebab warga harus menunggu sementara akses terhadap bahan bakar belum kembali normal. Koster melihat langsung keadaan di area SPBU dan berupaya memperoleh penjelasan mengenai alasan layanan belum berjalan. Pengecekan itu juga memberi gambaran tentang jarak kebutuhan masyarakat dan kemampuan operasional lokasi saat gangguan berlangsung, termasuk perlunya informasi yang jelas bagi para pengantre.

Koster kemudian berbicara langsung dengan pimpinan SPBU untuk menanyakan penyebab penghentian layanan dan langkah yang sedang disiapkan. Dalam penjelasan yang diterimanya, kendala pada sistem komputasi disebut sebagai faktor yang membuat pelayanan terhenti. Gangguan tersebut menghambat proses operasional sehingga SPBU tidak dapat melayani kendaraan seperti biasa, meskipun antrean sudah terbentuk. Melalui komunikasi langsung itu, Koster dapat meminta keterangan mengenai penanganan masalah dan kesiapan untuk kembali beroperasi. Fokus peninjauan bukan hanya pada keberadaan antrean, tetapi juga pada penyelesaian kendala teknis yang menjadi penghambat. Pemeriksaan kesiapan layanan 24 jam diharapkan membantu memastikan bahwa setelah gangguan ditangani, operasional dapat berlangsung lebih teratur dan kebutuhan BBM masyarakat Bali memperoleh perhatian yang memadai.

Kronologi insiden yang kemudian ramai dibicarakan bermula ketika Koster sedang berbicara dengan pimpinan sebuah SPBU terkait gangguan layanan BBM di Bali. Dalam percakapan itu, seorang petugas perempuan menyela pembicaraan dan meluapkan emosinya kepada Koster. Peristiwa tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar luas. Rekaman itu menjadi perhatian publik karena memperlihatkan suasana percakapan yang berubah menjadi pertengkaran. Berdasarkan bagian video yang beredar, petugas tersebut tampak berbicara dengan nada emosional, sementara Koster kemudian memberikan respons yang juga bernada keras.

Bagian yang paling banyak disorot dalam rekaman bukan keseluruhan pembicaraan mengenai gangguan layanan, melainkan respons Koster setelah petugas itu menyela dan meluapkan emosi. Ia terlihat membalas dengan emosi serupa dan meminta petugas tersebut diam. Potongan video itu kemudian memunculkan perhatian terhadap cara Koster menangani situasi tersebut. Koster mengakui bahwa responsnya merupakan kesalahan. Dengan pengakuan itu, ia tidak membenarkan tindakannya, melainkan menyampaikan bahwa dirinya seharusnya dapat merespons insiden dengan cara yang lebih terkendali. Pengakuan tersebut menjadi bagian penting dari penjelasannya mengenai video yang beredar.

Koster juga menyampaikan bahwa penyesalan atas responsnya tidak berhenti setelah kejadian itu selesai. Perasaan tersebut masih terbawa ketika ia berada di rumah. Ia mengungkapkan bahwa istrinya turut menegur dirinya terkait cara menangani insiden tersebut. Teguran itu berkaitan dengan sikapnya saat menghadapi petugas yang menyela pembicaraan dan berbicara dengan emosi. Rangkaian keterangan tersebut menunjukkan bahwa Koster menyadari reaksi emosionalnya menjadi sorotan dan menilainya sebagai kekeliruan. Sementara itu, video yang beredar terutama merekam momen ketika ia meminta petugas diam dengan nada serupa, bukan keseluruhan konteks pembicaraan. Karena itu, kronologi yang dapat disampaikan terbatas pada bagian yang tampak dalam rekaman dan pengakuan Koster mengenai respons serta penyesalannya.

Dinamika di lapangan selama gangguan layanan BBM dan LPG 3 kilogram di Bali dinilai Gubernur Bali Wayan Koster sebagai pelajaran penting bagi pemerintah daerah. Kelangkaan yang dirasakan masyarakat memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan perlu diperkuat, terutama dalam memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi ketika jalur distribusi menghadapi hambatan. Menurut Koster, situasi tersebut tidak semestinya menjadi alasan bagi pihak-pihak terkait untuk saling menyalahkan. Penanganan kebutuhan pokok merupakan tanggung jawab bersama, sehingga koordinasi pemerintah, badan usaha, dan unsur pelayanan publik menjadi bagian penting dari respons krisis. Evaluasi atas kejadian ini perlu diterjemahkan menjadi perbaikan prosedur, komunikasi yang lebih cepat, serta pembagian peran yang jelas.

Dalam upaya mencari jalan keluar, Koster mengaku intensif berkantor di Depo Pertamina Sanggaran hingga dini hari. Ia bersama jajaran direksi membahas kondisi distribusi dan merumuskan skema kebijakan untuk merespons kebutuhan masyarakat. Pembahasan tersebut menjadi bagian dari langkah koordinasi agar penanganan dapat dilakukan secara terarah, sekaligus membantu pemerintah memahami kendala yang terjadi di lapangan. Koster menyebut pengalamannya meninjau situasi itu juga membuatnya terpancing emosi, tetapi fokus utama tetap diarahkan pada penyelesaian masalah. Bagi pemerintah daerah, kecepatan mengambil langkah perlu berjalan seiring dengan komunikasi yang terbuka kepada masyarakat, supaya informasi tentang pasokan dan distribusi tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas.

Koster menilai menjaga Bali tetap kondusif merupakan hal penting karena pariwisata sangat sensitif terhadap isu keamanan maupun persoalan sosial. Gangguan kebutuhan dasar dapat memengaruhi persepsi masyarakat dan wisatawan apabila tidak ditangani dengan baik.

Baca juga: Layanan SIM Keliling Jakarta untuk Perpanjangan SIM | Misi Peningkatan Layanan KAI dalam HUT ke-81

banner 325x300