Kota Sihanoukville. Penghentian | Kathy Villalba, CEO Villa Vie Residences, menyampaikan permintaan maaf kepada para penghuni kapal pesiar Odyssey setelah perjalanan keliling dunia mereka terhenti secara mendadak di Kamboja. Dalam pesan yang dibagikan melalui platform komunikasi internal Circle pada Jumat, 30 Oktober 2026, Villalba mengakui bahwa situasi tersebut telah membawa penderitaan, kehilangan, dan ketidakpastian bagi orang-orang yang tinggal di kapal. Ia menyatakan penyesalan atas pengalaman berat yang harus mereka hadapi, ketika rencana perjalanan panjang mereka berubah menjadi masa tunggu tanpa kepastian mengenai langkah berikutnya.
Pesan tersebut tidak bertahan lama di platform. Beberapa jam setelah diunggah, tulisan Villalba di Circle dihapus. Penghapusan itu membuat pesan pribadinya kepada penghuni menjadi singkat dan terbatas, meskipun isinya menggambarkan besarnya dampak situasi terhadap para penghuni maupun dirinya sendiri. Villalba menggambarkan Odyssey sebagai bagian besar dari hidupnya dan menyebut para penghuni sebagai bagian dari keluarganya. Ungkapan tersebut menunjukkan kedekatan emosional yang ia rasakan terhadap kapal dan komunitas yang terbentuk di dalamnya, di tengah berlanjutnya persoalan yang menghambat pelayaran.
Villalba juga menyampaikan harapan agar Villa Vie Residences dapat diselamatkan melalui keterlibatan investor baru. Harapan itu mencerminkan ketidakpastian mengenai masa depan perusahaan dan kehidupan di atas Odyssey, sekaligus kemungkinan bahwa dukungan finansial baru dapat membantu menjaga operasi tetap berjalan. Ia berharap pula upaya para penghuni untuk mempertahankan kehidupan mereka di kapal akan berhasil. Bagi mereka, kapal bukan sekadar sarana perjalanan, melainkan tempat tinggal dan pusat komunitas yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Permintaan maaf itu hadir saat para penghuni menghadapi gangguan besar terhadap rencana mereka, sementara masa depan pelayaran dan keberlangsungan kehidupan di kapal masih belum jelas. Pesan yang kemudian dihapus itu memperlihatkan bahwa krisis tersebut menyentuh hubungan perusahaan, CEO, dan komunitas penghuni, serta memunculkan harapan akan jalan keluar melalui investor baru dan usaha bersama untuk menjaga kehidupan di Odyssey tetap berlanjut.Kapal Odyssey milik Villa Vie Residences memulai pelayaran dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Perjalanan ini dirancang dengan konsep yang berbeda dari kapal pesiar biasa: kapal tersebut menjadi tempat tinggal bagi para penghuninya selama berlayar mengelilingi dunia. Dengan demikian, kehidupan sehari-hari para penghuni berlangsung di atas kapal, sementara setiap persinggahan memberi kesempatan untuk mengunjungi berbagai kota dan negara.
Rencana awal perjalanan Odyssey mencakup lebih dari 425 pelabuhan di 147 destinasi dalam kurun sekitar tiga setengah tahun. Jadwal yang panjang itu menjadi bagian penting dari daya tarik program Villa Vie Residences, yang menawarkan pengalaman tinggal di laut sambil berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Rute tersebut semestinya membawa kapal melintasi banyak negara, dengan persinggahan yang telah disusun sebagai rangkaian perjalanan global.
Namun, pada tahap perjalanan di Asia Tenggara, rencana tersebut menghadapi perubahan. Setelah berlayar dari Thailand, Odyssey tiba di Sihanoukville, Kamboja, pada 23 Oktober 2026. Kapal itu dijadwalkan meneruskan perjalanan ke Vietnam pada 28 Oktober. Bagi para penghuni, persinggahan di Kamboja semestinya menjadi satu tahap dalam rute yang lebih luas, bukan titik berhentinya pelayaran.
Situasi berubah setelah Villa Vie mengumumkan penghentian operasional pada 27 Oktober, sehari sebelum kapal menurut jadwal akan berangkat menuju Vietnam. Pengumuman tersebut membuat rencana perjalanan berikutnya tidak berjalan sebagaimana semula dirancang. Perhentian di Sihanoukville pun menjadi sorotan karena muncul di tengah perjalanan panjang yang seharusnya berlangsung selama beberapa tahun. Perubahan itu menandai terhentinya sementara perjalanan Odyssey dan memunculkan ketidakpastian bagi penghuni yang semula mengharapkan kapal melanjutkan rute dunia sesuai agenda awal.
Penghentian operasi kapal Odyssey membuat para penumpang harus mengambil keputusan dalam waktu yang sangat terbatas. Setelah diberi tahu bahwa pelayaran tidak dapat dilanjutkan, mereka hanya memiliki sekitar tujuh jam untuk mengemas barang dan turun dari kapal. Batas waktu singkat itu menambah tekanan bagi penghuni kapal, yang perlu memilah barang, menyiapkan dokumen perjalanan, serta mengatur langkah berikutnya tanpa kepastian mengenai kapan mereka dapat kembali melanjutkan rencana semula. Proses turun pun berlangsung di tengah perubahan mendadak dari perjalanan panjang menjadi urusan mencari tempat aman untuk sementara.
Pada saat operasi dihentikan, Odyssey membawa 203 penumpang dan 156 awak. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kelompok yang perlu meninggalkan kapal dan mengurus kebutuhan masing-masing dalam waktu singkat. Kondisi setiap orang tidak sama: sebagian penumpang memiliki rencana perjalanan lanjutan, sementara yang lain harus mencari informasi dan bantuan sebelum menentukan tujuan. Bagi awak, penghentian itu juga berarti meninggalkan tempat kerja sekaligus tempat tinggal mereka selama kapal berlayar. Namun, tidak semua orang menghadapi situasi dengan cara yang sama, dan keberadaan para penumpang setelah turun tidak dapat digambarkan sebagai satu kelompok yang menetap di satu lokasi.
Sesudah turun, sebagian penumpang meninggalkan Kamboja dengan pesawat, sedangkan sebagian lainnya mencari tempat tinggal sementara di Sihanoukville. Perbedaan pilihan itu mencerminkan kebutuhan dan rencana perjalanan yang beragam. Mereka yang memilih terbang dapat meneruskan perjalanan ke tujuan lain, sementara penumpang yang tetap di kawasan tersebut perlu mengatur akomodasi dan menunggu informasi lebih lanjut. Karena itu, penghentian pelayaran tidak berarti seluruh penumpang masih berada di Sihanoukville; sebagian telah pergi, dan keadaan mereka setelah keberangkatan dapat berbeda-beda. Bagi mereka yang mencari tempat tinggal sementara, langkah mendesak adalah memastikan kebutuhan dasar, komunikasi, dan transportasi terpenuhi. Perubahan mendadak tersebut menjadikan proses turun dari kapal sebagai titik awal pengaturan perjalanan baru, bukan sekadar akhir dari pelayaran yang direncanakan. Waktu yang tersedia untuk bersiap sangat terbatas, sehingga keputusan mengenai penerbangan, penginapan, dan tujuan berikutnya harus dibuat dengan cepat oleh masing-masing penumpang.Villa Vie Cruises menyebut lonjakan biaya bahan bakar sebagai salah satu alasan utama operasi Odyssey semakin sulit dibiayai. Pengeluaran yang sebelumnya rata-rata sekitar USD 1.800, atau Rp32,8 juta, per kabin setiap bulan kini meningkat tajam di sejumlah wilayah Asia. Perusahaan menyampaikan biaya tersebut dapat mencapai USD 6.000–8.000, dengan nilai sekitar Rp145 juta untuk kisaran yang disebutkan. Kenaikan itu menambah tekanan terhadap anggaran operasional ketika kapal terus menjalani perjalanan dan menyediakan layanan bagi para penghuni.
Besarnya perubahan biaya membuat perencanaan pengeluaran menjadi lebih rumit. Bahan bakar merupakan kebutuhan penting bagi kapal yang harus bergerak antarpelabuhan sekaligus mempertahankan layanan di atas kapal. Karena itu, peningkatan harga dapat berdampak langsung pada kemampuan perusahaan menanggung kegiatan sehari-hari. Villa Vie menjelaskan bahwa biaya yang sebelumnya masih dapat dikelola kini jauh lebih tinggi, sehingga pembiayaan operasional menjadi tantangan yang semakin berat.
Perusahaan menyatakan telah berupaya mengurangi konsumsi bahan bakar. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperlambat laju perjalanan, sehingga kapal menggunakan bahan bakar lebih sedikit saat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Villa Vie juga memperpanjang waktu Odyssey bersandar di pelabuhan. Dengan lebih lama berada di darat, kebutuhan untuk terus berlayar dapat ditekan. Namun, menurut perusahaan, berbagai penyesuaian tersebut belum cukup untuk mengimbangi lonjakan pengeluaran yang terjadi di sejumlah kawasan Asia.
Di tengah perhatian publik terhadap situasi kapal, CEO Villa Vie, Mikael Petterson? No. Villalba menyebut sorotan media terasa sangat membebani.
Baca juga: Pembangunan Pusat Data AI di Purwakarta Terhenti Hingga Analisis Lingkungan Selesai
484 kunjungan





