YOGYAKARTA, DI YOGYAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 30 September 2026, Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia Perwakilan DIY, terungkap bahwa Provinsi Yogyakarta mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam jumlah pengguna layanan keuangan digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) hingga bulan Agustus 2026. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pengguna QRIS mencapai angka 23,59 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka pertumbuhan ini mencerminkan semakin meningkatnya adopsi teknologi digital di kalangan masyarakat Yogyakarta.
Saat ini, tercatat sekitar 1,20 juta pengguna QRIS di Yogyakarta, yang memanfaatkan layanan ini untuk berbagai transaksi keuangan. Peningkatan jumlah pengguna ini diindikasikan oleh semakin banyaknya pelaku usaha, khususnya UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), yang mulai mengintegrasikan QRIS sebagai metode pembayaran. Hal ini dimungkinkan karena QRIS menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan transaksi, baik untuk pembeli maupun penjual.
Pertumbuhan ini juga didorong oleh kesadaran masyarakat akan manfaat penggunaan layanan keuangan digital, terutama dalam situasi yang memerlukan kecepatan dan keamanan. QRIS telah menjadi solusi praktis yang membantu konsumen melakukan pembayaran tanpa harus membawa uang tunai. Selain itu, adanya kampanye edukasi tentang penggunaan QRIS yang gencar dilakukan oleh lembaga terkait semakin mempercepat proses adopsi di kalangan masyarakat.
Secara keseluruhan, peningkatan pengguna QRIS di Yogyakarta merupakan cerminan dari transformasi digital yang tengah berlangsung di sektor keuangan. Dengan pertumbuhan yang terus meningkat, diharapkan QRIS dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan memberikan manfaat lebih bagi masyarakat secara keseluruhan.
Pertumbuhan pengguna QRIS di Yogyakarta tidak hanya terlihat dari jumlah penggunanya yang meningkat, tetapi juga dari lonjakan jumlah merchant yang berpartisipasi dalam penggunaan sistem pembayaran ini. Pada saat ini, jumlah merchant yang terdaftar di daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 1,17 juta, yang menunjukkan angka pertumbuhan tahunan sebesar 19,99 persen. Data ini mengindikasikan bahwa semakin banyak pelaku usaha yang mengadopsi QRIS sebagai metode pembayaran, sejalan dengan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan transaksi digital.
Seiring dengan pertumbuhan jumlah merchant, volume transaksi yang menggunakan QRIS juga mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam laporan terbaru, tercatat bahwa volume transaksi yang dilakukan melalui QRIS mencapai 667,73 juta transaksi. Angka ini mencerminkan semakin tingginya minat masyarakat untuk bertransaksi dengan cara yang lebih cepat dan efisien, terutama di tengah upaya pemerintah untuk mendorong digitalisasi di seluruh sektor ekonomi.
Total nominal transaksi yang menggunakan QRIS di DIY tidak kalah mencengangkan, mencapai Rp6,85 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya sekedar menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat dalam bertransaksi, tetapi juga telah menjadi bagian integral dari ekosistem ekonomi yang lebih luas. Dengan pertumbuhan yang pesat ini, diharapkan QRIS dapat terus berkembang, memberikan manfaat yang lebih besar bagi merchant dan pengguna, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta secara keseluruhan.
Dalam rangka mendorong pertumbuhan penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Yogyakarta, Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah meluncurkan berbagai inisiatif yang fokus pada digitalisasi keuangan. Salah satu langkah utama yang diambil adalah menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan penyedia layanan keuangan. Kerjasama ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital di wilayah ini, sehingga memanfaatkan potensi QRIS secara optimal.
Pemerintah daerah juga berperan aktif dalam inisiatif ini dengan memberikan dukungan pada program-program pengembangan digitalisasi, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Melalui pelatihan dan sosialisasi, pelaku UMKM didorong untuk beradaptasi dengan teknologi pembayaran modern, sehingga mereka dapat memanfaatkan QRIS untuk meningkatkan efisiensi transaksi dan memperluas basis pelanggan mereka. Dalam konteks perdagangan, pemanfaatan QRIS memungkinkan proses pembayaran yang lebih cepat dan aman, menambah kenyamanan bagi konsumen.
Di sektor pariwisata, QRIS diharapkan dapat mendukung pelaku usaha untuk menarik lebih banyak wisatawan, yang semakin mengandalkan sistem pembayaran digital. Penyedia layanan seperti restoran, hotel, dan tempat wisata mulai menerapkan teknologi QRIS untuk memudahkan transaksi, membantu pelancong yang mungkin tidak membawa uang tunai. Sinergi berbagai pihak ini diharapkan akan menjadikan penggunaan QRIS semakin inklusif dan mengedukasi masyarakat akan manfaat digitalisasi keuangan. Dengan langkah-langkah ini, diyakini bahwa adopsi QRIS dapat meningkat, memberikan banyak keuntungan tidak hanya bagi pelaku usaha tetapi juga bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Di Yogyakarta, pertumbuhan pengguna QRIS menunjukkan angka yang signifikan, yang sejalan dengan upaya untuk meningkatkan inklusi keuangan. Namun, dalam konteks ini, inflasi juga perlu mendapat perhatian yang serius. Pada bulan Agustus 2026, inflasi di Yogyakarta tercatat mencapai 3,07 persen, yang lebih tinggi dibandingkan bulan Juli tahun yang sama. Meskipun angka ini masih berada dalam rentang sasaran nasional, peningkatan inflasi berpotensi menjadi tantangan tersendiri bagi ekonomi lokal.
Dalam upaya untuk mengendalikan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah telah aktif berperan dalam memastikan bahwa kebijakan ekonomi yang diterapkan dapat memberikan dampak positif. Stabilitas harga sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi mereka yang menjadi pengguna QRIS dan merchant yang bergantung pada transaksi digital. Jika inflasi tidak terkendali, maka potensi pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari adopsi teknologi keuangan dapat terhambat.
Selain itu, pentingnya sinergi berbagai pemangku kepentingan dalam menangani masalah inflasi tak dapat diremehkan. Para pengusaha, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan iklim ekonomi yang stabil. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan menyediakan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan keuangan pribadi dalam menghadapi situasi inflasi, terutama di tengah pertumbuhan pengguna QRIS yang pesat.
Dengan mengadakan program-program edukasi dan sosialisasi yang membahas pengelolaan inflasi, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi perubahan ekonomi. Secara keseluruhan, meskipun pertumbuhan QRIS membawa harapan baru untuk perekonomian Yogyakarta, tantangan inflasi harus dikelola dengan baik agar tidak mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di daerah ini.







