banner 728x250

Petugas Keamanan Suraji Wafat, Korban Karhutla Bromo Menjadi Enam Orang

Petugas Keamanan Suraji Wafat, Korban Karhutla Bromo Menjadi Enam Orang
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Suraji, petugas keamanan berusia 44 tahun yang terluka saat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada Jumat (23/10/2026) pukul 12.00 WIB. Kabar tersebut menambah jumlah korban meninggal dalam peristiwa kebakaran di kawasan Bromo menjadi enam orang, sebagaimana tercantum dalam laporan mengenai kejadian tersebut.

Suraji bekerja sebagai petugas keamanan di Artotel, PT Mitra Indo Permai. Ia termasuk orang yang mengalami luka ketika membantu upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan TNBTS. Setelah terluka, Suraji menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, hingga akhirnya dinyatakan meninggal pada Jumat siang. Informasi yang tersedia menyebutkan waktu dan tempat wafatnya, serta pekerjaan Suraji, tanpa merinci kondisi medisnya selama perawatan.

banner 325x300

Kabar meninggalnya Suraji menambah duka terkait dampak kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ia merupakan petugas keamanan yang turut membantu pemadaman dan kemudian dirawat di Surabaya. Tidak ada keterangan lebih lanjut dalam informasi yang disampaikan mengenai lokasi tepat Suraji mengalami luka maupun urutan kejadian yang menyebabkan ia terluka. Karena itu, rincian tersebut tidak dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia.

Dengan wafatnya Suraji, jumlah korban meninggal dalam peristiwa karhutla Bromo disebut mencapai enam orang. Informasi mengenai Suraji menegaskan bahwa korban yang meninggal adalah seorang petugas keamanan berusia 44 tahun, yang bekerja di Artotel, PT Mitra Indo Permai, serta menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo sebelum wafat. Kabar duka ini disampaikan pada Jumat, 23 Oktober 2026, dengan waktu meninggal pukul 12.00 WIB. Belum ada rincian lain yang disertakan tentang perawatan ataupun keadaan Suraji sebelum meninggal.

Suraji mengalami luka bakar berat yang mengenai 49 persen bagian tubuhnya. Luka tersebut membentang dari wajah hingga dada, sehingga membutuhkan penanganan medis intensif. Selain luka bakar, ia juga menderita trauma inhalasi parah setelah menghirup udara panas dan asap pekat di lokasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Cedera akibat paparan panas dan asap itu memperberat kondisi kesehatannya. Tim medis merawat luka bakar sekaligus menangani dampak gangguan pernapasan yang timbul akibat trauma inhalasi tersebut.

Staf humas RSUD Dr. Soetomo, Adin Niken Primasari, menyampaikan bahwa keadaan Suraji mulai memburuk sejak Jumat pagi. Penurunan kondisi itu berkaitan dengan syok sepsis, yaitu komplikasi akibat infeksi berat yang dapat mengganggu sirkulasi darah dan memicu kegagalan fungsi organ-organ vital. Dalam kondisi tersebut, tubuh menghadapi infeksi serius sementara aliran darah dan kerja organ penting ikut terdampak. Keterangan Adin menggambarkan bahwa keadaan Suraji berada dalam kondisi kritis dan memerlukan pemantauan serta perawatan berkelanjutan oleh tim rumah sakit.

Untuk mendukung fungsi tubuh dan menangani komplikasi yang dialami, tim medis memberikan perawatan menggunakan ventilator, transfusi darah, antibiotik, serta perawatan luka secara intensif. Ventilator menjadi bagian dari dukungan medis bagi pasien dengan trauma inhalasi berat, sedangkan pemberian antibiotik dan perawatan luka dilakukan di tengah kondisi infeksi yang serius. Tim juga terus memberikan penanganan sesuai kebutuhan medis Suraji. Meski berbagai upaya tersebut telah dilakukan, kondisinya terus menurun. Perkembangan ini menunjukkan beratnya luka bakar, cedera akibat menghirup udara panas dan asap, serta komplikasi sepsis yang dialaminya. Informasi mengenai kondisinya disampaikan oleh pihak rumah sakit melalui Adin, tanpa perincian tambahan mengenai tindakan medis di luar penanganan yang telah disebutkan.

Meninggalnya petugas keamanan Suraji membuat jumlah korban jiwa dalam kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencapai enam orang. Suraji menjadi korban keenam yang tercatat dalam peristiwa tersebut. Dengan demikian, jumlah keseluruhan mencakup lima orang yang lebih dahulu meninggal dan Suraji. Penyebutan angka enam merujuk pada total korban jiwa, bukan jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan tertentu atau jumlah korban dari satu kelompok saja.

Lima korban yang meninggal lebih dahulu terdiri atas Sukaris dan Hendra Rony Wagiyanata, yang merupakan petugas Balai Besar TNBTS. Selain keduanya, terdapat Munawi, anggota Masyarakat Peduli Api Tengger Laut Pasir. Ketiga nama tersebut merupakan bagian dari hitungan korban sebelum Suraji meninggal. Informasi mengenai nama dan peran mereka disampaikan sesuai dengan keterangan yang tercantum, tanpa menambahkan rincian lain mengenai masing-masing korban.

Dua korban lain yang lebih dahulu meninggal adalah Wisnu Yuda Pratama, berusia 25 tahun, dan Sefriel Ardiansyah, berusia 19 tahun. Keduanya disebut sebagai relawan sekaligus karyawan hotel setempat. Bersama Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, dan Munawi, mereka membentuk lima korban jiwa yang telah tercatat sebelumnya. Setelah Suraji meninggal, kelima nama tersebut ditambah satu, sehingga total korban dalam kebakaran TNBTS menjadi enam orang.

Rincian jumlah tersebut dapat dibaca sebagai satu korban terbaru, yaitu Suraji, ditambah lima korban yang telah meninggal sebelumnya. Lima orang itu adalah dua petugas Balai Besar TNBTS, seorang anggota Masyarakat Peduli Api Tengger Laut Pasir, serta dua relawan yang juga karyawan hotel setempat. Identitas dan peran yang disebutkan menegaskan dasar penghitungan total tersebut. Dengan masuknya Suraji dalam catatan korban jiwa, jumlah keseluruhan yang dilaporkan kini mencapai enam orang.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebelumnya menyatakan menyiapkan santunan sebesar Rp10 juta bagi setiap keluarga korban yang meninggal dunia dalam kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang kehilangan anggota keluarga saat menjalankan tugas penanganan kebakaran. Namun, dukungan bagi keluarga korban tidak semestinya berhenti pada pemberian santunan awal. Akses terhadap bantuan lanjutan dan pemenuhan hak keluarga perlu dipastikan melalui koordinasi pemerintah daerah dan pihak terkait, dengan proses yang jelas serta mudah dijangkau.

Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah mengevaluasi standar operasional prosedur pemadaman karhutla, terutama ketentuan yang berkaitan dengan keselamatan petugas dan relawan. Evaluasi diperlukan untuk menilai apakah prosedur yang berlaku telah memberikan perlindungan memadai di lapangan, termasuk ketika api berubah arah atau kondisi cuaca dan medan menjadi berbahaya. Perlindungan tidak hanya menyangkut peralatan dan tata cara kerja, tetapi juga kesiapan, komunikasi, serta dukungan selama dan setelah operasi. Puan juga menekankan pentingnya memberikan penghargaan yang layak kepada mereka yang terlibat dalam upaya pemadaman.

Perhatian terhadap keluarga korban, menurut Puan, harus mencakup pemenuhan hak dan jaminan agar anak-anak mereka tetap memperoleh kesempatan pendidikan. Kehilangan pencari nafkah dapat memengaruhi kehidupan keluarga dalam jangka panjang, sehingga pemerintah perlu memastikan bantuan dapat menopang kebutuhan dasar sekaligus masa depan anak. Ia juga menyoroti keterlibatan relawan perempuan dan kelompok ibu-ibu yang ikut berpatroli serta menangani kebakaran. Pengalaman mereka selama bertugas perlu didengar, begitu pula kebutuhan yang mereka hadapi. Dukungan yang sesuai dapat membantu menjaga keselamatan dan keberlanjutan peran mereka. Karena itu, kelompok tersebut perlu diberi ruang untuk menyampaikan masukan dalam evaluasi prosedur maupun perencanaan penanganan kebakaran berikutnya. Langkah ini penting agar kebijakan perlindungan mencerminkan kondisi nyata di lapangan, mencakup seluruh petugas dan relawan, serta menghormati kontribusi setiap pihak tanpa membedakan peran.

Baca juga: TNI Dukung Penguatan Keamanan dan Ketertiban Wilayah Kecamatan Jaro | Kebakaran Melanda Kawasan Pergudangan Kosambi, Petugas Terjun Ke Lokasi | Keamanan Pemungutan Suara pada Pilkades Bekasi

banner 325x300