banner 728x250

Tekanan Inflasi dan Prospek Suku Bunga Membebani Harga Perak

Tekanan Inflasi AS Seret Harga Perak Turun 6,23% dalam Sepekan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Pergerakan XAG/USD pada 19–23 Oktober 2026 menunjukkan perubahan arah yang tajam. Harga perak mengawali pekan dengan penguatan terbatas, kemudian melanjutkan kenaikan pada Selasa. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Setelah bergerak nyaris datar pada Rabu, harga mengalami koreksi besar pada Kamis dan kembali melemah menjelang penutupan pekan. Pola ini membuat kenaikan awal pekan tidak cukup untuk mempertahankan posisi perak di atas level pembukaan.

Pada Senin, 19 Oktober, harga naik 0,14% ke US$57,09 per troy ons. Penguatan berlanjut pada Selasa, ketika XAG/USD bertambah 1,57% dan mencapai US$57,98 per troy ons. Pergerakan tersebut membawa harga ke tingkat tertinggi dalam rangkaian perdagangan mingguan yang disebutkan. Pada Rabu, 21 Oktober, pasar relatif stabil: perak turun tipis 0,02% ke US$57,97. Dengan demikian, hingga pertengahan pekan, harga masih bertahan di sekitar US$58 per troy ons, meskipun kenaikan mulai kehilangan tenaga.

banner 325x300

Perubahan terbesar terjadi pada Kamis. Harga merosot 5,94% menjadi US$54,53 per troy ons, menghapus sebagian besar penguatan yang terkumpul pada Senin dan Selasa. Penurunan tajam itu menjadi titik balik utama dalam perdagangan pekan tersebut. Pada Jumat, tekanan berlanjut, dengan harga turun lagi 1,16%. XAG/USD mengakhiri perdagangan 23 Oktober pada US$53,89 per troy ons, menempatkan penutupan akhir pekan di bawah seluruh tingkat penutupan harian yang tercatat sebelumnya dalam periode ini.

Dibandingkan penutupan pekan sebelumnya, US$57,01 per troy ons, harga perak berkurang US$3,11 atau 5,46%. Angka itu juga menandai penutupan terendah dalam lima hari perdagangan, sekaligus menegaskan dominasi tekanan jual pada paruh kedua pekan. Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa penguatan awal belum membentuk tren naik yang bertahan. Sebaliknya, penurunan Kamis dan pelemahan lanjutan pada Jumat menentukan hasil mingguan XAG/USD, sehingga perak menutup periode 19–23 Oktober jauh di bawah level pembukaannya.

Ketegangan di Timur Tengah dan risiko gangguan pada jalur pengiriman energi kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi. Pasar menilai bahwa hambatan pasokan atau kenaikan biaya transportasi dapat mendorong harga minyak dan energi lainnya lebih tinggi. Dampak tersebut berpotensi menjalar ke biaya produksi dan distribusi, sehingga tekanan harga konsumen sulit mereda sesuai harapan. Bagi pasar perak, perkembangan ini menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Jika biaya energi meningkat, penurunan inflasi AS dapat melambat dan bank sentral mungkin perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Bahkan, pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan harga kembali menguat. Suku bunga tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga, termasuk obligasi, karena instrumen tersebut menawarkan imbal hasil tanpa bergantung pada kenaikan harga komoditas. Perak tidak memberikan bunga, sehingga biaya peluang untuk memegang logam ini dapat meningkat ketika imbal hasil obligasi naik.

Ketahanan dolar AS turut membatasi minat terhadap perak. Karena perak diperdagangkan secara internasional dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat logam menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini dapat menekan permintaan dan membatasi pemulihan harga, terutama ketika investor mencari aset yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Kombinasi dolar yang kokoh dan prospek suku bunga tinggi pun menjadi beban bagi logam mulia secara umum.

Tekanan juga datang dari kekhawatiran mengenai aktivitas manufaktur dan prospek pertumbuhan ekonomi. Berbeda dari aset yang terutama berfungsi sebagai lindung nilai, perak memiliki pemakaian industri yang luas, termasuk dalam elektronik, panel surya, dan beragam produk manufaktur. Jika aktivitas pabrik melemah atau perusahaan menunda investasi, kebutuhan bahan baku dapat berkurang. Karena itu, ekspektasi pertumbuhan ikut membentuk prospek permintaan perak, selain faktor inflasi dan kebijakan moneter.

Imbal hasil obligasi AS sempat turun menjelang akhir pekan, yang secara teori dapat mengurangi biaya peluang memegang perak. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk meredakan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama. Selama risiko energi, dolar yang kuat, dan prospek manufaktur yang tidak pasti masih membayangi, tekanan jual di pasar logam mulia dapat berlanjut dan membatasi ruang kenaikan harga.

Setelah tekanan inflasi kembali menjadi perhatian pelaku pasar, fokus perdagangan pekan berikutnya beralih ke pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober. Agenda tersebut dipandang penting bukan hanya karena keputusan suku bunga, tetapi juga karena pernyataan bank sentral dapat memberi petunjuk mengenai penilaian terhadap inflasi dan kondisi ekonomi. Menjelang pertemuan, pasar cenderung memperkirakan suku bunga tidak berubah. Namun, perkiraan itu tidak menghilangkan ketidakpastian mengenai langkah selanjutnya. Investor akan mencermati apakah para pejabat masih melihat kebutuhan untuk mengetatkan kebijakan moneter atau mulai memberi bobot lebih besar pada risiko perlambatan.

Bagi pasar perak, perbedaan penekanan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi imbal hasil dan daya tarik logam mulia. Jika komunikasi The Fed menegaskan bahwa inflasi belum cukup terkendali dan kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin diperlukan, imbal hasil aset berbunga berpotensi tetap menarik. Kondisi demikian dapat membatasi ruang pemulihan harga perak, terutama apabila dolar AS juga memperoleh dukungan dari prospek kebijakan yang lebih ketat. Meski demikian, sinyal kebijakan tidak selalu diterjemahkan secara langsung ke dalam pergerakan harga; respons pasar juga bergantung pada seberapa jauh pesan bank sentral berbeda dari ekspektasi yang telah terbentuk.

Sebaliknya, perhatian yang lebih besar terhadap pelemahan aktivitas ekonomi dapat mengurangi tekanan terhadap logam mulia. Kekhawatiran bahwa pengetatan sebelumnya mulai membebani pertumbuhan mungkin mendorong investor menilai kembali kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Dalam skenario tersebut, ekspektasi imbal hasil dapat melunak dan mendukung permintaan terhadap aset seperti perak, meskipun prospek ekonomi yang memburuk juga dapat menekan penggunaan logam untuk kebutuhan industri. Karena itu, pasar akan membaca keseluruhan pernyataan, termasuk penilaian tentang inflasi, pertumbuhan, dan risiko terhadap prospek ekonomi. Pertemuan 27–28 Oktober menjadi katalis yang patut diperhatikan, bukan jaminan arah kebijakan ataupun harga. Pergerakan perak selanjutnya tetap dapat dipengaruhi data ekonomi dan perubahan ekspektasi investor.

Penutupan harga perak pada 23 Oktober berada di bawah sejumlah rata-rata bergerak yang menjadi acuan jangka pendek. Harga ditutup lebih rendah daripada rata-rata lima hari sebesar US$56,29, rata-rata 10 hari US$57,13, dan rata-rata 20 hari US$58,92. Susunan ini menunjukkan bahwa momentum harga masih lemah, sementara ketiga indikator tersebut dapat berfungsi sebagai area penghalang apabila terjadi pemulihan. Jarak terhadap rata-rata yang lebih panjang juga memperlihatkan bahwa tekanan belum terbatas pada pergerakan harian saja.

Tekanan jual turut tercermin dari posisi harga yang telah melewati penutupan US$55,64 pada 14 Oktober. Selain itu, upaya rebound menuju US$57,98 tidak berhasil dipertahankan. Kegagalan menjaga kenaikan tersebut menandakan bahwa minat beli belum cukup kuat untuk membalikkan arah pergerakan, sehingga tekanan jual masih dominan. Pergerakan berikutnya perlu diamati untuk menilai apakah pelaku pasar kembali menguji area rendah atau mulai membangun pemulihan yang lebih konsisten.

Untuk perdagangan 26–30 Oktober 2026, bias perak dinilai bearish. Level US$53,89 menjadi titik pemantauan awal, terutama untuk melihat apakah harga mampu bertahan di atas area tersebut.

banner 325x300