banner 728x250

Kepala Sekolah SMPN 2 Widang Diduga Patahkan Psikologis Murid di Upacara

banner 120x600
banner 468x60

**TUBAN** – Dunia pendidikan di Kota Tuban kembali tercoreng dengan kabar mengejutkan mengenai SMPN 2 Widang. Seorang siswa berinisial AV diduga menjadi korban kebijakan tidak adil yang diterapkan oleh Kepala Sekolah, Marjani. Kejadian ini terjadi pada hari Senin saat upacara sekolah, di mana Marjani diduga mengucapkan komentar negatif mengenai AV, yang mempengaruhi psikologis anak tersebut.

banner 325x300

Menurut informasi yang beredar, AV, siswa kelas 8A SMPN 2 Widang, tidak naik kelas akibat sering bolos sekolah. Meskipun AV dikenal berprestasi dalam turnamen sepakbola usia dini dan memiliki nilai akademik yang bagus, alasan absensi menjadi penyebab utama kegagalan tersebut. Hal ini menyebabkan kekecewaan mendalam bagi keluarga AV, terutama ayahnya, Eko.

Eko, yang merasa putranya tidak adil diperlakukan, mengungkapkan rasa kesalnya. Ia menyebutkan bahwa pernyataan Kepala Sekolah yang tidak pantas disampaikan di depan umum berdampak buruk pada kondisi psikologis AV. “Saya tidak mengerti kenapa AV tidak naik kelas. Nilai dan sikapnya baik. Apakah hanya karena absensi? Ini sangat tidak adil,” kata Eko dengan nada kesal.

Sementara itu, AV merasa bingung dan terpukul dengan keputusan sekolah yang tidak menaikkannya ke kelas berikutnya. Ia mengaku bahwa meskipun ia sering mengikuti lomba olahraga dan memiliki nilai yang bagus, absensi menjadi alasan utama ketidaknaikannya kelas. “Saya merasa tidak diterima dan bingung dengan keputusan ini. Kenapa saya tidak naik kelas jika nilai saya bagus?” keluh AV dengan mata berkaca-kaca.

Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan klarifikasi resmi terkait kasus ini. Upaya wartawan untuk menghubungi pihak sekolah untuk meminta klarifikasi juga tampak sia-sia, dengan pihak sekolah memilih untuk menghindar. Kasus ini pun menjadi sorotan publik yang mengundang banyak pertanyaan.

Masyarakat berharap agar pihak terkait segera menyelesaikan masalah ini dengan adil dan transparan. Jika terbukti bahwa Kepala Sekolah bersalah, warga setempat berharap agar tindakan tegas diambil, termasuk kemungkinan pemberhentian Marjani. Prestasi dan masa depan siswa haruslah menjadi prioritas utama, dan jangan sampai dikorbankan hanya karena alasan yang tidak jelas.

Pewarta: (01//Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *