banner 728x250

Aksi BEM UNS di Solo: Ban Terbakar, Kapolresta Mencairkan Suasana

Aksi BEM UNS di Solo: Ban Terbakar, Kapolresta Mencairkan Suasana
banner 120x600
banner 468x60

Kota Solo. Tak | Ratusan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (BEM UNS) menggelar demonstrasi di Solo pada Kamis, 22 Oktober 2026. Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di depan Balai Kota Solo. Para peserta berkumpul di lokasi itu dan menyampaikan orasi sebagai bagian dari rangkaian unjuk rasa. Kehadiran massa di depan Balai Kota menjadi titik awal kegiatan, sebelum peserta bergerak menuju kawasan lain di pusat kota. Dengan demikian, aksi pada hari itu tidak hanya berlangsung di satu tempat, tetapi mencakup dua titik yang disebut dalam rangkaian kegiatan.

Setelah menyampaikan orasi di depan Balai Kota Solo, para mahasiswa melanjutkan aksi dengan berjalan kaki menuju kawasan Bundaran Gladag. Pergerakan tersebut menghubungkan lokasi awal demonstrasi dengan kawasan perempatan Gladag, tempat peserta kembali menyuarakan orasi. Urutan kegiatan itu menunjukkan bahwa demonstrasi berlangsung secara bergerak: dimulai dari Balai Kota, kemudian dilanjutkan melalui perjalanan menuju Gladag. Informasi waktu yang tersedia menyebut aksi berawal sekitar pukul 15.00 WIB, sementara kegiatan berjalan di dua lokasi yang menjadi tempat peserta menyampaikan aspirasi melalui orasi.

banner 325x300

Peristiwa ini tercatat sebagai aksi mahasiswa BEM UNS di Solo, dengan lokasi demonstrasi di depan Balai Kota Solo serta kawasan perempatan Gladag. Penyebutan kedua titik tersebut penting untuk menggambarkan rangkaian unjuk rasa secara utuh: peserta terlebih dahulu berorasi di depan Balai Kota, lalu berjalan kaki menuju kawasan Bundaran Gladag dan kembali menyampaikan orasi di perempatan Gladag. Dengan keterangan itu, kegiatan tidak semata-mata dipahami sebagai aksi di Gladag, sebab titik awal demonstrasi berada di depan Balai Kota. Aksi berlangsung pada Kamis sore, 22 Oktober 2026, dan melibatkan ratusan anggota BEM UNS.

Koordinator aksi, Yusnindar Hasan, menjelaskan bahwa demonstrasi mahasiswa bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan akumulasi kekecewaan terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum ditangani secara memadai. Aksi tersebut juga ditempatkan sebagai bagian dari gelombang kritik yang muncul di sejumlah daerah pada tingkat nasional. Momentum dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menyampaikan evaluasi atas arah pemerintahan dan dampaknya bagi masyarakat.

Dalam pandangan para peserta, sejumlah persoalan bangsa masih belum memperoleh penyelesaian yang memuaskan. Mereka menilai kepemimpinan Prabowo-Gibran gagal menangani berbagai masalah tersebut, sehingga pemerintah perlu memberikan perhatian lebih serius terhadap dampak kebijakan dan kondisi yang dihadapi warga. Penilaian itu disampaikan sebagai alasan mengapa demonstrasi dianggap perlu, sekaligus sebagai desakan agar kritik mahasiswa tidak dipandang sebatas ekspresi sesaat.

Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah kebakaran hutan dan lahan yang dinilai belum tuntas. Persoalan tersebut, menurut substansi pernyataan koordinator aksi, menunjukkan masih adanya pekerjaan penting yang membutuhkan penanganan konsisten. Mahasiswa juga menyampaikan keberatan terhadap kebijakan yang mereka anggap tidak berpihak kepada rakyat. Dengan demikian, kritik yang disuarakan tidak hanya berkaitan dengan satu kejadian atau satu kebijakan, tetapi mencakup penilaian lebih luas terhadap prioritas pemerintah dalam merespons kebutuhan masyarakat.

Yusnindar menggambarkan aksi sebagai bagian dari upaya mahasiswa mengingatkan pemerintah bahwa evaluasi kepemimpinan perlu dilakukan secara terbuka. Dalam konteks dua tahun pemerintahan, demonstrasi menjadi ruang untuk menyampaikan kekecewaan sekaligus mendorong pertanggungjawaban atas persoalan yang dianggap belum terselesaikan. Para mahasiswa berharap aspirasi tersebut mendapat perhatian dan diikuti langkah nyata, terutama dalam menangani kebakaran hutan dan lahan serta meninjau kebijakan yang dipersepsikan merugikan kepentingan rakyat. Pandangan ini menjelaskan latar tuntutan mereka tanpa menghapus kenyataan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kritik politik yang disampaikan melalui demonstrasi.Di tengah aksi BEM UNS di Solo, Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko memilih pendekatan yang berbeda dari pola pengamanan yang berjarak. Ia datang mendekati mahasiswa dan membaur di tengah kerumunan, tanpa barikade maupun jarak yang memisahkan dirinya dari peserta. Dari posisi tersebut, Condro menyimak orasi yang disampaikan mahasiswa, sekaligus menunjukkan bahwa aparat hadir untuk mendengar aspirasi yang mereka sampaikan.

Condro, yang akrab disapa Mbah Con, juga berupaya membangun suasana lebih santai dengan mengajak peserta bergurau. Langkah sederhana itu membuat interaksi polisi dan mahasiswa terasa lebih terbuka. Aksi yang semula berpotensi berlangsung tegang pun perlahan mencair. Beberapa kali, tawa terdengar di sela-sela orasi, menandai suasana yang lebih ringan di tengah penyampaian tuntutan.

Pendekatan tersebut tidak menghapus substansi aksi maupun hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat. Sebaliknya, kehadiran Kapolresta secara langsung memberi ruang bagi komunikasi yang lebih dekat, sementara orasi tetap berlangsung. Dengan mendengarkan dari tengah peserta, Condro menunjukkan bahwa pengamanan demonstrasi dapat dilakukan tanpa mengabaikan dialog dan kenyamanan warga yang berkumpul.

Dalam kesempatan itu, Condro menegaskan bahwa polisi bertugas melayani masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa demonstrasi merupakan hak warga, sehingga ruang untuk menyampaikan pendapat perlu dijaga agar berlangsung dengan nyaman. Pesan tersebut menempatkan pelayanan dan penghormatan terhadap hak menyampaikan aspirasi sebagai bagian penting dari pengelolaan aksi, bukan semata-mata pengendalian kerumunan.

Perhatian kepada peserta juga terlihat melalui pembagian air mineral oleh personel Polresta Surakarta. Air diberikan kepada mahasiswa yang kehausan selama mengikuti aksi. Dukungan praktis ini melengkapi pendekatan dialogis yang ditunjukkan Condro: polisi mendekat, mendengarkan, serta membantu kebutuhan peserta di lapangan. Perpaduan komunikasi yang cair dan pelayanan sederhana itu membantu menjaga interaksi tetap manusiawi, tanpa menutup ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Menjelang akhir demonstrasi, jumlah peserta yang berkumpul di kawasan pusat Kota Solo membuat badan jalan dipenuhi massa. Kondisi tersebut berdampak pada arus kendaraan menuju Balai Kota, Keraton, dan Pasarkliwon. Pengendara yang hendak melintasi sejumlah ruas di sekitar lokasi aksi harus menghadapi kepadatan dan perlambatan perjalanan. Aktivitas lalu lintas tidak dapat berjalan seperti biasa selama massa masih menempati jalan, terutama di bagian yang menjadi titik berkumpul peserta. Situasi itu mendorong aparat untuk mengatur pergerakan kendaraan dan menjaga agar kegiatan demonstrasi tidak menimbulkan gangguan yang lebih luas bagi pengguna jalan lainnya.

Suasana sempat memanas ketika sejumlah peserta membakar ban bekas di ujung jalan utama kota. Kobaran api disertai asap hitam pekat yang membubung dan memenuhi kawasan tersebut, sehingga menjadi perhatian warga maupun pengguna jalan. Di tengah kondisi itu, personel Polresta Surakarta berjaga untuk mengamankan jalannya aksi. Petugas juga melakukan rekayasa lalu lintas guna mengantisipasi kepadatan dan mengarahkan kendaraan agar tidak terjebak di sekitar titik demonstrasi. Kehadiran aparat ditujukan untuk menjaga keamanan, mengendalikan arus kendaraan, serta memungkinkan aksi berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Meski sempat diwarnai pembakaran ban dan hambatan lalu lintas, demonstrasi berangsur mereda setelah waktu magrib. Massa mulai meninggalkan lokasi secara tertib, sementara aparat tetap bersiaga untuk mengawal situasi dan membantu kelancaran arus di kawasan sekitar. Para peserta menyampaikan bahwa mereka akan kembali menggelar aksi serupa apabila tuntutan yang disuarakan tidak mendapat respons dari pemerintah pusat. Pernyataan tersebut menandakan bahwa berakhirnya kegiatan pada malam itu belum tentu mengakhiri penyampaian aspirasi. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada tanggapan pemerintah terhadap tuntutan massa. Hingga peserta membubarkan diri, penutupan aksi berlangsung tanpa laporan lanjutan dalam informasi yang disampaikan.

banner 325x300