Bandung | Dedi Kusnandar tidak hanya dikenal sebagai gelandang Persib Bandung, tetapi juga sebagai sosok yang terus menyiapkan diri untuk masa depan melalui pendidikan. Pemain yang akrab disapa Dado dan mengenakan nomor punggung 11 itu tengah serius menempuh pendidikan magister di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani). Di tengah kesibukannya membela klub, ia menjalani program Magister Manajemen dengan konsentrasi pemasaran. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet dapat mencakup pengembangan kemampuan di luar lapangan, sekaligus membuka bekal baru untuk berbagai kemungkinan setelah karier bermain.
Keseriusan Dado dalam menempuh studi terlihat dari langkah akademik yang dijalaninya pada Jumat, 30 Oktober 2026. Pada hari itu, ia mengikuti sidang pengajuan judul tesis sebagai bagian dari proses pendidikan magister. Tahap ini menjadi kesempatan untuk mengajukan dan membahas arah penelitian yang akan dikembangkan dalam tesis. Bagi mahasiswa, proses tersebut menuntut persiapan dan komitmen, sementara bagi Dado, agenda akademik itu berlangsung bersamaan dengan perannya sebagai pemain Persib. Kehadirannya dalam sidang memperlihatkan bahwa pendidikan tetap menjadi bagian penting dari prioritas yang ia jalani.
Program Magister Manajemen dengan konsentrasi pemasaran juga memberi ruang bagi Dado untuk mempelajari bidang yang berkaitan dengan strategi, pengelolaan, dan pemahaman pasar. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal yang berguna, baik dalam aktivitas profesional maupun dalam merencanakan langkah setelah masa bermain. Menjalani studi sambil berkarier sebagai pesepak bola tentu membutuhkan pengaturan waktu dan ketekunan, meski rincian rutinitasnya tidak selalu terlihat oleh publik. Langkah Dado menegaskan bahwa pendidikan tinggi dapat ditempuh di berbagai tahap kehidupan, termasuk ketika seseorang memiliki tuntutan pekerjaan yang padat. Bagi penggemar Persib, kabar tentang studinya menghadirkan sisi lain dari sosok Dado: seorang pemain yang juga berupaya membangun bekal akademik. Sidang pengajuan judul tesis tersebut menjadi salah satu tahap nyata dalam perjalanan itu, menuju penyelesaian studi magister dan persiapan masa depan yang lebih luas.
Bagi Dedi Kusnandar, menempuh studi magister di tengah kesibukan membela Persib bukan sekadar kegiatan tambahan. Pendidikan menjadi cara untuk menyiapkan diri menghadapi tahap kehidupan yang akan datang, termasuk masa setelah ia tidak lagi bermain sebagai pesepak bola profesional. Ia memahami bahwa karier pemain memiliki batas waktu: kondisi fisik, usia, dan tuntutan kompetisi membuat profesi di lapangan tidak dapat dijalani selamanya. Kesadaran itu mendorongnya untuk mulai membangun bekal sejak masih aktif bermain, alih-alih menunggu sampai kariernya benar-benar berakhir.
Pengalaman sebagai pemain memberi Dedi banyak pelajaran, tetapi ia juga menyadari pentingnya pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal. Studi magister memberinya ruang untuk belajar di luar rutinitas latihan, pertandingan, dan pemulihan. Dengan membagi perhatian sepak bola dan perkuliahan, ia berupaya memperluas wawasan serta mengembangkan kemampuan yang tidak hanya bergantung pada aktivitas fisik di lapangan. Proses tersebut menunjukkan bahwa persiapan untuk masa depan dapat berjalan bersamaan dengan tanggung jawab profesional yang sedang dijalani.
Pendidikan, dalam konteks ini, merupakan bekal untuk menghadapi perubahan ketika masa bermain kelak selesai. Pengetahuan di luar sepak bola dapat membantu seseorang memahami pilihan dan tantangan yang mungkin muncul setelah pensiun, meskipun langkah berikutnya tidak harus ditentukan sekarang. Dedi tidak perlu mengaitkan studinya dengan satu profesi atau rencana tertentu agar upaya tersebut berarti. Yang tampak adalah kesadaran untuk tidak menggantungkan seluruh masa depan pada karier yang terbatas waktunya. Dengan terus belajar, ia mempersiapkan diri secara lebih luas dan memberi perhatian pada kehidupan di luar lapangan, tanpa mengurangi komitmennya kepada Persib maupun tuntutan sebagai pemain profesional saat ini.
Menjalankan peran sebagai pemain Persib sekaligus mahasiswa membuat Dedi Kusnandar menghadapi tanggung jawab yang datang dari dua bidang berbeda. Di satu sisi, ia dituntut menjalani latihan, tampil dalam pertandingan, dan menjaga kondisi fisik agar siap memenuhi kebutuhan tim. Di sisi lain, statusnya sebagai mahasiswa membawa kewajiban akademik yang tetap perlu diperhatikan dan diselesaikan. Kedua peran itu sama-sama membutuhkan perhatian, tenaga, serta komitmen. Karena itu, kehidupan Dedi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sepak bola, tetapi juga dengan proses belajar yang terus berjalan. Menjalani keduanya berarti berhadapan dengan tuntutan yang perlu dipenuhi tanpa mengabaikan salah satunya.
Aktivitas sebagai pesepak bola profesional menuntut kesiapan fisik dan konsistensi. Latihan serta pertandingan merupakan bagian dari tanggung jawabnya bersama Persib, sementara menjaga kebugaran menjadi hal penting untuk mendukung perannya di lapangan. Pada saat bersamaan, kegiatan akademik memiliki target dan kewajibannya sendiri. Dedi perlu tetap mengikuti proses pendidikan dan menuntaskan hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Perbedaan sifat kedua bidang tersebut membuat pembagian perhatian menjadi tantangan tersendiri. Sepak bola menuntut keterlibatan langsung dan kesiapan tubuh, sedangkan pendidikan menuntut kesungguhan dalam menjalani kegiatan akademik. Keduanya hadir sebagai bagian dari keseharian yang harus dijalankan.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa membela Persib dan menempuh pendidikan bukan dua hal yang berlangsung terpisah dari tanggung jawab pribadi Dedi. Ia perlu menghadapi tuntutan latihan, pertandingan, pemeliharaan kondisi fisik, dan penyelesaian kegiatan akademik sebagai bagian dari perannya. Kesibukan di dunia sepak bola tidak serta-merta menghapus kewajiban sebagai mahasiswa, begitu pula pendidikan tidak mengurangi tanggung jawabnya terhadap tim. Menjalani kedua bidang itu memerlukan komitmen yang berkelanjutan. Kisah ini menggambarkan upaya seorang pemain untuk tetap menjalankan karier olahraga sambil melanjutkan pendidikan, dengan berbagai tanggung jawab yang menyertai masing-masing pilihan tersebut. Fokusnya adalah memenuhi kewajiban di lapangan dan dalam kehidupan akademik.
Keputusan Dedi Kusnandar melanjutkan pendidikan ke jenjang magister tidak semata-mata didorong oleh keinginan untuk menambah gelar di belakang namanya. Bagi pemain Persib tersebut, kuliah menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan dan mengembangkan diri di tengah perjalanan karier profesional. Pendidikan dipandang sebagai ruang untuk belajar, bukan hanya pencapaian formal yang berhenti setelah ijazah diperoleh. Dengan demikian, langkah menempuh S2 memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memenuhi target akademik.
Ketertarikan Dedi pada dunia pendidikan turut menjadi alasan ia memilih melanjutkan studi. Minat tersebut membuat proses belajar memiliki nilai tersendiri, sekaligus membuka kesempatan untuk memahami hal-hal baru. Kesibukan sebagai pesepak bola memang menuntut waktu dan perhatian, tetapi keinginan untuk tetap belajar mendorongnya memanfaatkan peluang yang tersedia. Menjalani pendidikan di sela kegiatan bersama Persib menunjukkan bahwa pengembangan diri dapat terus diupayakan, meskipun seseorang memiliki tanggung jawab profesional yang padat.
Melalui jenjang S2, Dedi berkesempatan memperkaya wawasan dan membangun bekal untuk masa depan. Pendidikan memberinya jalur untuk terus bertumbuh, baik selama masih aktif berkarier di lapangan maupun dalam perjalanan hidup selanjutnya. Pilihan ini juga mencerminkan pandangannya bahwa proses belajar tidak harus menunggu hingga karier sepak bola berakhir. Selama ada kesempatan, pengalaman akademik dapat berjalan berdampingan dengan profesi. Karena itu, langkah Dedi melanjutkan kuliah berkaitan dengan ketertarikannya pada pendidikan dan kemauannya untuk terus berkembang, bukan hanya dengan perolehan gelar.
Baca juga: Krisis Kabut Asap di Palangka Raya: Tantangan Pendidikan dan Kesehatan | Program Pendidikan: Meningkatkan Wawasan Siswa di Istana Kepresidenan | Pembangunan SDN Kebayoran Lama Selatan: Langkah Mewujudkan Pendidikan yang Lebih Baik di Jakarta











