banner 728x250

Erick Thohir Desak Klub dan Operator Liga Bertindak Tegas atas Kekerasan Suporter

Erick Thohir Desak Klub dan Operator Liga Bertindak Tegas atas Kekerasan Suporter
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Bogor | Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta klub dan operator kompetisi I.League bertindak tegas terhadap kekerasan yang melibatkan suporter. Ia menekankan bahwa upaya menjaga pertandingan tetap aman tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Klub dan pengelola kompetisi perlu menjalankan tanggung jawab masing-masing agar aturan yang berlaku benar-benar diterapkan. Sikap tegas diperlukan ketika terjadi pelanggaran, sehingga tindakan kekerasan tidak dianggap wajar atau dibiarkan tanpa penanganan. Pesan tersebut menempatkan keselamatan sebagai perhatian utama dalam penyelenggaraan sepak bola, baik sebelum pertandingan, selama laga berlangsung, maupun setelah penonton meninggalkan stadion.

Bagi PSSI, penonton seharusnya dapat datang untuk menyaksikan pertandingan dan kembali ke rumah dengan selamat. Keselamatan suporter menjadi dasar agar pengalaman menonton sepak bola berlangsung tanpa ancaman kekerasan. Karena itu, klub dan operator liga perlu memberi perhatian serius pada potensi gangguan yang dapat membahayakan penonton. Lingkungan pertandingan yang aman juga mendukung jalannya kompetisi dan menjaga kepercayaan publik terhadap penyelenggara. Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada suporter, tetapi juga kepada pihak-pihak yang memiliki peran dalam mengelola pertandingan. Tanggung jawab bersama tersebut perlu diwujudkan melalui kepatuhan terhadap ketentuan yang telah ada serta penanganan pelanggaran secara konsisten.

banner 325x300

PSSI meminta aturan yang tersedia dimaksimalkan untuk menindak pelanggaran terkait kekerasan suporter. Dengan demikian, perhatian diarahkan pada penerapan ketentuan yang sudah berlaku, bukan pada penambahan kebijakan atau sanksi yang tidak disebutkan. Klub dan operator I.League diharapkan memastikan aturan itu dijalankan secara tegas ketika terjadi pelanggaran. Penegakan yang konsisten dapat memperjelas bahwa keselamatan penonton merupakan tanggung jawab penting dalam kompetisi. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya mencegah kekerasan berulang dan memastikan hak penonton untuk menyaksikan pertandingan dengan aman tetap dihormati. Erick menegaskan, seluruh pihak perlu mengambil peran agar suporter dapat menikmati sepak bola tanpa rasa khawatir, serta pulang dengan selamat setelah pertandingan berakhir.

Rentetan kejadian kekerasan yang menjadi perhatian pada Oktober 2026 berlangsung dalam beberapa konteks berbeda, tetapi seluruhnya melibatkan perjalanan atau kehadiran dalam kegiatan sepak bola. Peristiwa pertama terjadi pada 11 Oktober, ketika bus yang membawa pemain Persib Bandung U-18 diserang di sebuah rest area di Kilometer 360, Batang. Lokasi tersebut berada di jalur perjalanan, bukan di dalam stadion. Insiden yang menimpa rombongan pemain muda ini menambah perhatian terhadap keselamatan tim saat melakukan perjalanan darat.

Sehari setelahnya, pada 12 Oktober 2026, terjadi pelemparan benda keras ke bus rombongan suporter Persija Jakarta. Bus tersebut sedang melintas dari arah Cikampek di Tol Palikanci, tepatnya pada Kilometer 200 di wilayah Cirebon. Rincian yang disampaikan mengenai kejadian ini menyebut sasaran dan lokasi pelemparan, tanpa perlu menyamakan peristiwanya dengan penyerangan terhadap bus Persib U-18. Kedua insiden berlangsung berdekatan dalam waktu, namun melibatkan rombongan berbeda serta terjadi di titik perjalanan yang berlainan.

Peristiwa ketiga terjadi pada 25 Oktober 2026 dan berujung pada korban jiwa. Seorang suporter Persib meninggal dunia setelah dibacok seusai menyaksikan pertandingan melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. Berbeda dari dua kejadian sebelumnya yang menyasar bus di jalan tol atau rest area, kekerasan ini menimpa seorang penonton setelah pertandingan. Kematian suporter tersebut membuat dampak insiden tidak hanya berkaitan dengan kerusakan atau ancaman terhadap kendaraan rombongan, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa.

Urutan tanggal menunjukkan tiga kejadian itu berlangsung dalam rentang dua pekan lebih: serangan terhadap bus pemain pada 11 Oktober, pelemparan ke bus suporter pada 12 Oktober, lalu pembacokan fatal setelah pertandingan pada 25 Oktober. Perbedaan tempat dan bentuk kekerasan perlu dicatat secara jelas agar tiap insiden tidak tercampur dalam pemberitaan. Meski demikian, rangkaian tersebut sama-sama menyoroti risiko yang dihadapi pemain dan suporter dalam aktivitas sepak bola, baik ketika bepergian maupun setelah menyaksikan pertandingan. Rincian yang tersedia juga menegaskan bahwa keamanan perlu diperhatikan di luar area stadion, termasuk di jalur perjalanan dan kawasan sekitar lokasi pertandingan.

Erick Thohir menilai pembatasan kehadiran suporter tandang dapat menjadi salah satu langkah antisipasi untuk mengurangi potensi keributan dalam pertandingan sepak bola. Kebijakan ini membatasi jumlah atau bahkan meniadakan kehadiran pendukung tim tamu pada laga tertentu. Menurut pandangannya, langkah tersebut telah dipilih sebagai bagian dari upaya menjaga situasi pertandingan tetap terkendali, terutama ketika ada risiko yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara dan klub.

Dalam keterangannya, Erick menyebut sejumlah klub tidak mengizinkan suporter tandang datang untuk pertandingan tertentu. Keputusan semacam itu dapat berbeda dari satu laga ke laga lain, dengan mempertimbangkan keadaan dan potensi gangguan yang mungkin muncul. Ia juga menyampaikan bahwa kebijakan terkait pertandingan tandang telah diambil oleh liga maupun klub ketika terjadi hal-hal yang dinilai tidak baik. Dengan demikian, pengaturan tersebut bukan semata keputusan satu pihak, melainkan dapat melibatkan sejumlah unsur dalam penyelenggaraan kompetisi.

Pembatasan ini perlu dipahami sebagai langkah pencegahan, bukan sebagai bukti bahwa persoalan kekerasan telah teratasi. Kekerasan suporter merupakan masalah serius karena dapat mengancam keselamatan penonton, pemain, petugas, dan masyarakat di sekitar lokasi pertandingan. Insiden dapat menimbulkan cedera, kerusakan, serta rasa tidak aman, baik di dalam maupun di luar stadion. Karena itu, keputusan mengenai kehadiran pendukung tim tamu perlu disertai perhatian terhadap kondisi setiap pertandingan dan komunikasi yang jelas kepada suporter.

Upaya menjaga keamanan juga membutuhkan tanggung jawab bersama dari klub, operator liga, aparat, dan para pendukung. Pembatasan bisa membantu mengurangi salah satu risiko, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin tidak terjadinya kekerasan atau konflik. Penyelenggara tetap perlu menilai situasi secara cermat, menyiapkan pengamanan yang memadai, dan memastikan aturan diterapkan secara konsisten. Pada saat yang sama, klub dapat mendorong dukungan yang tertib serta menyampaikan informasi secara terbuka agar suporter memahami alasan kebijakan. Pendekatan pencegahan yang disesuaikan dengan kondisi pertandingan penting untuk melindungi keselamatan tanpa mengabaikan perlunya penanganan lebih luas terhadap perilaku kekerasan.

Erick Thohir membedakan penanganan kekerasan yang terjadi di dalam lapangan dengan tindak kriminal di luar stadion. Pelanggaran selama pertandingan berkaitan dengan aturan kompetisi dan dapat ditangani melalui mekanisme disiplin yang berlaku. Sebaliknya, tindakan pidana di luar arena membutuhkan proses penegakan hukum oleh aparat berwenang. Pembedaan ini penting agar respons terhadap setiap insiden sesuai dengan lokasi, sifat pelanggaran, serta pihak yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya. Klub dan operator liga tetap perlu bertindak tegas dalam lingkup tanggung jawab masing-masing, sekaligus mendukung proses hukum ketika suatu kejadian masuk ranah kriminal.

Dalam menyampaikan pesannya kepada klub, Erick menekankan bahwa suporter tidak seharusnya menjadi korban kekerasan ataupun gagal pulang dengan selamat setelah mendukung tim. Keselamatan penonton, menurut pesan tersebut, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sampingan dalam penyelenggaraan pertandingan. Klub perlu menyadari dampak tindakan yang membahayakan pendukung, sedangkan operator kompetisi dan pihak terkait perlu memastikan langkah pengamanan berjalan dengan baik. Sikap tegas juga diperlukan agar kejadian serupa tidak dianggap wajar atau dibiarkan berulang. Pesan ini menempatkan perlindungan suporter sebagai tanggung jawab bersama, tanpa mengabaikan proses penanganan yang semestinya bagi setiap pelanggaran.

Untuk sejumlah insiden terkait sepak bola yang terjadi di luar stadion, Erick menyampaikan apresiasi kepada kepolisian atas upaya pengusutan yang telah dilakukan.

Baca juga: Ancaman Hukum untuk Mantan Kepala Sekolah SMPN 18 Malang atas Kasus Kekerasan | Pembaruan Kasus Kekerasan Seksual yang Melibatkan ANW | Kemudahan Akses Aborsi Aman bagi Korban Kekerasan Seksual

banner 325x300