banner 728x250

Dukungan bagi Penenun Gringsing dan Pelestarian Adat Tenganan

Dukungan bagi Penenun Gringsing dan Pelestarian Adat Tenganan
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Karangasem | Tri Tito Karnavian dan Selvi Gibran Rakabuming mengunjungi Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Bali, pada Jumat (23/10/2026). Kehadiran keduanya menempatkan desa yang dikenal dengan tradisi dan kerajinan tenun gringsing ini dalam perhatian terhadap pelestarian warisan budaya sekaligus dukungan bagi masyarakat setempat. Kunjungan tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan adat melalui perhatian yang menyentuh kehidupan warga, termasuk kesehatan para penenun lanjut usia.

Dalam kegiatan itu, Tri hadir sebagai Ketua Umum Seruni Kabinet Merah Putih sekaligus Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Sementara itu, Selvi mengemban peran sebagai Pembina Seruni Kabinet Merah Putih sekaligus Ketua Umum Dekranas. Kedudukan tersebut mencerminkan keterkaitan kunjungan dengan pemberdayaan masyarakat dan perhatian pada kerajinan tradisional. Tenun gringsing bukan sekadar produk budaya, melainkan bagian dari pengetahuan dan praktik yang diwariskan serta dijaga oleh warga Tenganan.

banner 325x300

Perhatian kepada penenun berusia lanjut menjadi salah satu sisi penting dari kunjungan ini. Keahlian menenun gringsing bertumpu pada keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman panjang, sehingga para perajin senior memiliki peran penting dalam keberlangsungan tradisi. Dukungan kesehatan bagi mereka dapat membantu menjaga kesejahteraan pribadi sekaligus memungkinkan pengetahuan dan keterampilan tetap dihargai di lingkungan desa. Pelestarian budaya, dengan demikian, berkaitan erat dengan perhatian kepada orang-orang yang menjalankan dan mewariskan praktik tersebut.

Kunjungan ke Tenganan Pegringsingan mempertemukan agenda pelestarian adat dengan dukungan bagi kehidupan masyarakat. Perhatian terhadap kesehatan penenun lanjut usia dapat berjalan berdampingan dengan upaya merawat kerajinan, identitas, dan tradisi lokal. Dalam konteks itu, peran Seruni Kabinet Merah Putih dan Dekranas memberi ruang bagi isu kesejahteraan warga serta kesinambungan kerajinan tradisional untuk mendapat perhatian. Kehadiran Tri dan Selvi juga menggarisbawahi bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga melalui pengenalan hasil karya, tetapi melalui kepedulian terhadap komunitas yang mempertahankannya dari generasi ke generasi.

Penyerahan 500 unit kacamata ditujukan bagi warga lanjut usia di Tenganan, dengan perhatian khusus kepada para penenun kain gringsing. Bantuan ini menjadi bentuk dukungan bagi masyarakat yang tetap menjalankan kegiatan sehari-hari dan menjaga tradisi menenun pada usia lanjut. Kacamata tidak diberikan tanpa mempertimbangkan kondisi penglihatan setiap orang. Sebelum pembagian, para penerima menjalani pemeriksaan mata untuk mengetahui tingkat minus masing-masing. Dengan demikian, proses pemeriksaan menjadi bagian penting dari bantuan, bukan sekadar kegiatan tambahan dalam penyerahan kacamata.

Pemeriksaan tersebut membantu memastikan kacamata yang diberikan sesuai dengan kebutuhan penglihatan penerima. Kebutuhan setiap warga dapat berbeda, sehingga informasi mengenai tingkat minus diperlukan agar bantuan dapat disesuaikan. Pendekatan ini diharapkan membuat kacamata lebih bermanfaat dalam mendukung aktivitas harian para lansia. Bagi penenun gringsing, penglihatan merupakan salah satu hal yang diperlukan ketika melakukan pekerjaan menenun yang membutuhkan perhatian pada detail. Namun, tidak ada hasil pemeriksaan atau rincian khusus mengenai kondisi maupun jumlah penerima yang disampaikan. Karena itu, manfaat bantuan dapat dijelaskan sebagai dukungan yang disiapkan berdasarkan kebutuhan masing-masing, tanpa mengasumsikan hasil yang belum diketahui.

Selvi berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi para warga lanjut usia yang menerimanya. Harapan itu mencakup para penenun gringsing, yang melalui keterampilan dan kegiatan mereka turut menjaga keberlanjutan tradisi Tenganan. Ketersediaan kacamata yang sesuai diharapkan membantu penerima menjalani kegiatan dengan dukungan penglihatan yang lebih tepat. Pemeriksaan mata sebelum pembagian juga menunjukkan pentingnya memahami kebutuhan penerima ketika merancang bantuan. Dengan menyalurkan 500 unit kacamata sekaligus menyertakan pemeriksaan, dukungan ini berupaya menjangkau lansia secara lebih sesuai. Harapan Selvi menjadi penekanan bahwa bantuan tersebut bukan hanya soal jumlah barang yang dibagikan, melainkan juga tentang kegunaan nyata bagi mereka yang membutuhkan, terutama warga lanjut usia dan para penenun kain gringsing di Tenganan.

Tri mengaku terkesan dengan kekayaan adat dan budaya yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan. Baginya, desa ini memiliki kekhasan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tradisi, serta cara warga merawat nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi. Keunikan tersebut menjadikan Tenganan bukan sekadar tujuan kunjungan, melainkan ruang hidup budaya yang penting untuk dipahami dan dihargai. Ia menilai keberadaan desa adat beserta praktik tradisinya merupakan warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya, sehingga tetap bermakna bagi masyarakat setempat sekaligus dapat dikenal oleh generasi berikutnya.

Selain mengapresiasi tradisi yang ditemui, Tri juga menyampaikan kesan positif terhadap sambutan masyarakat Tenganan. Keramahan warga membuat kunjungan terasa hangat dan memberi kesempatan bagi para tamu untuk mengenal desa secara lebih dekat. Menurutnya, hubungan yang baik pengunjung dan masyarakat merupakan bagian penting dari pengalaman berkunjung, terutama ketika tujuan kunjungan mencakup pembelajaran mengenai budaya. Ia berharap kunjungan seperti ini dapat mendorong dukungan yang lebih luas bagi pengembangan potensi desa. Dukungan tersebut, menurut Tri, dapat diarahkan pada berbagai bidang, termasuk kebudayaan dan ekonomi, dengan tetap menghormati adat serta kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, pengembangan tidak hanya memperkenalkan kekhasan Tenganan kepada khalayak, tetapi juga memberi manfaat yang berkelanjutan bagi warganya.

Kesan serupa disampaikan Selvi, yang menyebut kunjungannya ke Tenganan sebagai pengalaman pertama. Kesempatan tersebut membuatnya dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat adat dan memahami bahwa tradisi merupakan bagian yang menyatu dengan keseharian warga. Ia secara khusus menyoroti kain gringsing, yang dikenal luas sebagai salah satu kekhasan desa. Menurut Selvi, kain itu menarik bukan hanya karena keindahan hasilnya, tetapi juga karena keterkaitannya dengan pengetahuan dan keterampilan yang dijaga oleh para penenun. Pengalaman menyaksikan kekayaan budaya tersebut memberinya pemahaman lebih dekat tentang pentingnya pelestarian. Kunjungan itu pun menjadi pengingat bahwa warisan seperti kain gringsing membutuhkan perhatian, penghargaan, dan dukungan agar keterampilan menenun dapat terus diwariskan. Apresiasi pengunjung dapat membantu memperkuat pengenalan terhadap budaya Tenganan, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal secara selaras dengan adat.Selvi menekankan bahwa keberlanjutan kain gringsing bergantung pada regenerasi penenun. Keterampilan membuat kain khas Tenganan ini tidak cukup hanya dipertahankan oleh para perajin yang telah lama menekuninya; pengetahuan dan kecakapan tersebut perlu diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian, proses menenun tetap memiliki penerus dan tidak berhenti ketika para penenun senior tidak lagi aktif. Regenerasi juga memberi kesempatan bagi anak muda untuk mengenal nilai, ketelitian, serta kesabaran yang melekat dalam setiap tahap pembuatan gringsing.

Upaya pelestarian, menurut pandangan Selvi, perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan sebagai kegiatan sesaat. Kain gringsing merupakan bagian dari identitas masyarakat setempat sekaligus sumber kebanggaan yang mencerminkan warisan budaya Tenganan. Karena itu, menjaga keberadaan kain ini berarti turut merawat pengetahuan dan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Jika keterampilan menenun terus dipelajari dan dipraktikkan, generasi berikutnya dapat memahami makna gringsing sekaligus berperan dalam mempertahankan tradisi tersebut. Keberlanjutan itu penting agar gringsing tetap dikenal sebagai karya yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan dan jati diri masyarakat Tenganan.

Selvi juga menyampaikan kesediaan Dekranas untuk membantu pembinaan bagi para penenun. Dukungan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kemampuan perajin dan mendorong lebih banyak generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan menenun. Pembinaan yang berlangsung secara konsisten diharapkan memberi ruang bagi pengetahuan tradisional untuk diteruskan, sekaligus membantu para penenun mengembangkan keterampilannya.

Baca juga: Dukungan Kementerian Perhubungan dalam Operasi Evakuasi Korban KM Virgo 8 | Wujudkan Dukungan Pembangunan di Desa, Babinsa Hadiri Musrenbangdes | Tujuh Jenazah Tiba Melalui Jalur Udara, Lanud Sjamsudin Noor Teguhkan Dukungan SAR KM Virgo

banner 325x300