Jakarta | Anisa Bahar menjelaskan bahwa biaya operasi hidung yang dijalaninya tidak selalu sama pada setiap tindakan. Besaran yang perlu disiapkan, menurut pengakuannya, bergantung pada jenis prosedur serta kondisi hidung yang harus diperbaiki. Karena itu, biaya untuk satu operasi tidak dapat langsung disamakan dengan tindakan lain, termasuk operasi awal dan operasi revisi. Perbedaan kebutuhan medis maupun tingkat perbaikan yang diperlukan menjadi hal yang turut menentukan perkiraan pengeluaran dalam proses tersebut.
Untuk operasi revisi terakhir, Anisa menyebut menyiapkan dana sekitar Rp60 juta hingga Rp70 juta. Angka itu disampaikan sebagai perkiraan untuk tindakan yang ia jalani, bukan sebagai tarif yang berlaku umum bagi semua orang. Dalam keterangannya, ia juga membandingkan biaya tersebut dengan tindakan yang ia sebut sebagai operasi hidung natural, yang menurutnya berbiaya sekitar 3.000 dolar Amerika Serikat. Perbandingan itu menunjukkan bahwa jenis prosedur yang berbeda dapat memiliki kisaran biaya yang berlainan.
Anisa menerangkan bahwa prosedurnya bukan sekadar tindakan natural, melainkan operasi revisi atau bongkaran. Istilah tersebut merujuk pada tindakan untuk memperbaiki hasil operasi sebelumnya, sehingga kebutuhan prosedurnya berbeda dari operasi hidung yang dilakukan tanpa riwayat operasi terdahulu. Dengan konteks itu, nominal Rp60 juta sampai Rp70 juta yang ia sebut berkaitan dengan kondisi dan tindakan revisi terakhirnya. Pengalaman tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan biaya yang akan dibutuhkan pasien lain, sebab kebutuhan setiap orang dapat berbeda.
Pengakuan mengenai biaya dan perbedaan jenis tindakan itu disampaikan Anisa saat menjadi bintang tamu dalam sebuah program televisi. Keterangannya kemudian dikutip pada Sabtu (31/10/2026). Ia menekankan bahwa angka biaya bergantung pada tindakan yang diperlukan, sementara perbandingan dengan biaya 3.000 dolar AS merujuk pada prosedur yang ia sebut natural. Dengan demikian, estimasi untuk operasi revisi terakhirnya perlu dipahami sesuai penjelasan Anisa tentang prosedur bongkaran yang dijalaninya, bukan sebagai patokan harga tetap untuk operasi hidung.
Anisa Bahar secara terbuka menceritakan pengalamannya menjalani tindakan operasi plastik, termasuk prosedur pada bagian hidung. Dalam penjelasannya, ia membenarkan bahwa jumlah operasi yang berkaitan dengan hidungnya telah mencapai lima kali. Pengakuan tersebut memberi gambaran mengenai perjalanan perawatan yang ia jalani, sekaligus meluruskan informasi tentang banyaknya tindakan yang pernah dilakukan. Angka lima merujuk pada keseluruhan prosedur di area tersebut, bukan semata-mata satu tindakan yang berdiri sendiri.
Riwayat itu mencakup tindakan revisi, yakni prosedur lanjutan untuk memperbaiki hasil dari tindakan sebelumnya. Dengan demikian, penyebutan lima operasi tidak berarti seluruh tindakan dilakukan dengan tujuan kosmetik yang sama atau berangkat dari alasan yang identik. Setiap prosedur dapat memiliki konteks dan pertimbangan tersendiri, termasuk kebutuhan untuk mengevaluasi atau membenahi hasil yang telah diperoleh. Penjelasan ini penting agar jumlah operasi tidak ditafsirkan secara sederhana tanpa memahami adanya proses revisi.
Keterbukaan Anisa mengenai pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa operasi hidung dapat melibatkan lebih dari satu tahap. Dalam kasusnya, tindakan lanjutan menjadi bagian dari rangkaian prosedur yang ia ceritakan kepada publik. Namun, informasi yang disampaikan tidak perlu ditarik menjadi gambaran umum tentang pengalaman setiap orang, sebab kebutuhan, kondisi, dan hasil tindakan dapat berbeda. Pengalaman pribadi seorang figur publik hanya menjelaskan perjalanan yang ia alami sendiri, bukan rekomendasi medis bagi orang lain.
Konfirmasi mengenai lima kali operasi memberikan konteks bagi pembahasan biaya revisi terakhir, yang menjadi perhatian dalam pemberitaan. Meski demikian, jumlah prosedur dan biaya merupakan dua hal berbeda: pengakuan tentang total tindakan tidak dengan sendirinya menjelaskan rincian biaya setiap tahap. Hal yang dapat ditegaskan dari ceritanya ialah bahwa hitungan tersebut termasuk tindakan revisi untuk memperbaiki hasil terdahulu. Dengan menyampaikan riwayatnya secara terbuka, Anisa membantu menjelaskan bahwa perjalanan operasi hidungnya berlangsung melalui beberapa prosedur, dengan fungsi dan pertimbangan yang tidak selalu sama.
Operasi hidung pertama Anisa Bahar berawal dari kecelakaan yang dialaminya pada 1997. Peristiwa tersebut membuat hidungnya mengalami cedera dan memerlukan penanganan medis melalui operasi. Dengan demikian, tindakan awal itu bukan semata-mata keputusan untuk mengubah penampilan, melainkan berkaitan dengan kondisi yang perlu ditangani setelah kecelakaan. Anisa kemudian menceritakan pengalaman tersebut ketika membahas rangkaian operasi hidung yang pernah dijalaninya.
Menurut pengakuannya, hasil operasi pertama belum sepenuhnya sesuai dengan harapannya. Setelah tindakan medis itu, bentuk hidungnya masih tampak miring. Kondisi tersebut menjadi hal yang ia rasakan dan perhatikan setelah operasi, sehingga pengalaman awal itu tidak berakhir dengan kepuasan terhadap hasilnya. Meski operasi telah dilakukan untuk menangani cedera, bentuk hidung yang terlihat miring membuat Anisa merasa tidak nyaman.
Pengalaman pada 1997 itu menjadi titik awal dalam kisah operasi hidung Anisa. Cedera akibat kecelakaan memerlukan operasi, tetapi hasilnya belum membuat ia merasa nyaman sepenuhnya. Keterangan mengenai bentuk yang masih tampak miring memberi konteks atas penilaiannya terhadap tindakan pertama, tanpa mengubah fakta dasar bahwa operasi tersebut dilakukan setelah hidungnya mengalami cedera. Anisa mengaitkan awal perjalanan itu dengan kecelakaan dan penanganan medis yang menyusul.
Dalam membicarakan operasi-operasi berikutnya, pengalaman pertama ini penting sebagai latar: tindakan tersebut berawal dari kebutuhan menangani cedera, sedangkan ketidakpuasan terhadap hasil muncul karena hidung masih terlihat miring. Perbedaan alasan awal menjalani operasi dan perasaan setelah melihat hasilnya membantu menjelaskan mengapa pengalaman itu tetap menjadi bagian dari cerita yang ia ungkapkan. Tidak ada rincian lain mengenai kecelakaan maupun penanganannya yang perlu ditambahkan untuk memahami pokok pengakuan tersebut. Yang disampaikan Anisa secara sederhana adalah urutan peristiwa: kecelakaan pada 1997, cedera pada hidung, operasi sebagai penanganan medis, lalu rasa tidak nyaman karena bentuk hidung belum sepenuhnya sesuai harapan. Kisah awal ini menjadi dasar untuk memahami pengalaman pribadinya, tanpa menyimpulkan lebih jauh mengenai penyebab kecelakaan atau tindakan medis lainnya. Ia menyebut hasil awal itu sebagai sesuatu yang belum memuaskan, sementara penyebab operasi pertamanya tetap jelas, yakni cedera yang dialaminya dalam kecelakaan tersebut.
Operasi revisi terbaru yang dijalani Anisa Bahar tidak bertujuan membuat hidungnya semakin mancung. Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut justru diminta untuk mengurangi bagian hidung yang dinilai terlalu tinggi. Dengan demikian, fokus revisi kali ini adalah menyesuaikan bentuk yang sudah ada, bukan menambah ketinggian atau membuat perubahan agar hidung tampak lebih menonjol. Keputusan itu berkaitan dengan keinginannya memperoleh bentuk yang terasa lebih proporsional menurut dirinya sendiri. Setelah beberapa kali menjalani operasi hidung, Anisa menyampaikan bahwa masih ada bagian yang membuatnya kurang nyaman. Permintaan untuk mengurangi bagian tersebut menjadi alasan utama revisi terakhir, sebagaimana ia ungkapkan dalam keterangannya.
Anisa juga pernah mengeluhkan bentuk hidungnya yang belum simetris dan terlihat miring. Kondisi itu disebut membuatnya merasa terganggu, sehingga ia ingin mencari penyesuaian melalui operasi revisi. Keluhan tersebut memberi konteks mengapa tujuan tindakan kali ini berbeda dari sekadar membuat hidung lebih mancung. Bagian yang dianggap terlalu tinggi ingin dikurangi, sementara bentuk keseluruhan diharapkan terasa lebih seimbang baginya. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci bagian mana yang diubah secara teknis ataupun seberapa besar pengurangannya. Karena itu, alasan yang dapat disampaikan adalah permintaan Anisa untuk memperbaiki proporsi dan menangani ketidaknyamanan yang ia rasakan, bukan kesimpulan mengenai perubahan tertentu pada hasil akhir.
Selain persoalan tampilan, Anisa mengaku hidungnya pernah terasa tersumbat.
Baca juga: Surat Terakhir Seorang Pelajar SMPN 92 Jakarta
321 kunjungan





