banner 728x250

Sungai Kapuas Surut, Distribusi BBM ke Kalbar Dialihkan lewat Darat

Sungai Kapuas Surut, Distribusi BBM ke Kalbar Dialihkan lewat Darat
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Kayong Utara. Meski | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya kendala dalam distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Barat. Gangguan tersebut berkaitan dengan kondisi Sungai Kapuas yang mengalami penyurutan akibat fenomena El Niño. Ketika debit air berkurang, alur sungai menjadi dangkal sehingga tidak memungkinkan kapal tanker pengangkut BBM melintas seperti biasa. Kondisi itu menghambat jalur pengiriman yang digunakan untuk memasok kebutuhan di wilayah tersebut.

Keterangan Bahlil disampaikan di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa surutnya Sungai Kapuas menjadi kendala bagi kapal tanker yang membawa bahan bakar. Permasalahan utama bukan semata-mata ketersediaan BBM, melainkan keterbatasan akses bagi kapal untuk melewati alur sungai yang dangkal. Dengan demikian, kondisi perairan berpengaruh langsung terhadap kelancaran pengangkutan melalui jalur tersebut. Informasi yang disampaikan itu secara khusus menyebut kendala distribusi di Kalimantan Barat dan lokasi penyampaian keterangan di Balikpapan.

banner 325x300

Fenomena El Niño disebut sebagai penyebab sungai mengering dan kedalaman alurnya berkurang. Bagi pengiriman BBM yang mengandalkan kapal tanker, kedalaman jalur menjadi faktor penting agar kapal dapat bergerak dengan aman dan mencapai tujuan. Ketika kondisi sungai tidak mendukung pelayaran, distribusi melalui sungai menghadapi hambatan. Bahlil menyampaikan bahwa pengiriman BBM ke Kalimantan Barat kemudian dialihkan lewat darat. Peralihan tersebut menjadi langkah untuk menjaga penyaluran tetap berjalan ketika kapal tanker tidak dapat melintas di Sungai Kapuas. Keterangan ini menegaskan hubungan perubahan kondisi sungai dan pilihan moda angkutan untuk mengirim bahan bakar. Uraian tersebut tidak menyebut rincian volume pasokan, durasi gangguan, atau wilayah lain yang terdampak. Karena itu, penjelasan mengenai kendala ini terbatas pada distribusi BBM di Kalimantan Barat, penyebab berupa surutnya Sungai Kapuas, serta pengalihan pengiriman ke jalur darat. Informasi tersebut disampaikan oleh Bahlil di Kilang Pertamina Balikpapan pada tanggal yang disebutkan, bukan sebagai keterangan mengenai kejadian di lokasi lain.

Untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak bagi masyarakat Kalimantan Barat saat Sungai Kapuas surut, pola penyaluran disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kapal tetap dimanfaatkan dalam proses distribusi, tetapi perannya bukan untuk meneruskan pengiriman sampai tujuan melalui sungai. Kapal digunakan sebagai tempat penampungan BBM, sehingga bahan bakar yang dibawa dapat tetap tersedia untuk kemudian dipindahkan ke sarana angkutan lain. Penyesuaian ini menjadi bagian dari langkah untuk mengatasi hambatan pada jalur perairan tanpa menghentikan upaya memasok kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, perubahan cara pengiriman berfokus pada pemindahan BBM dari kapal ke mobil tangki, lalu penyaluran dilanjutkan lewat darat.

Perubahan pola tersebut dijelaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia setelah ia menanyakan kepada Pertamina mengenai langkah yang dilakukan untuk menghadapi kondisi sungai. Berdasarkan penjelasan itu, kapal berfungsi sebagai penampung sementara, sedangkan mobil tangki mengambil alih tahap pengangkutan berikutnya. BBM dipindahkan dari kapal ke kendaraan tangki, kemudian dibawa melalui jalur darat untuk didistribusikan. Skema ini menunjukkan bahwa penanganan pasokan dilakukan dengan menyesuaikan moda transportasi terhadap keadaan, bukan dengan mengandalkan kapal untuk seluruh rangkaian pengiriman. Informasi yang disampaikan berfokus pada perubahan fungsi kapal dan penggunaan angkutan darat sebagai cara menjaga distribusi tetap berjalan.

Pengalihan tersebut memungkinkan penyaluran BBM diteruskan meski kondisi Sungai Kapuas menghambat pergerakan kapal sebagaimana biasanya. Kapal tetap menjadi bagian dari proses, yakni sebagai tempat penyimpanan sebelum bahan bakar dipindahkan, sementara mobil tangki membawa BBM melalui jalur darat. Bagi masyarakat, tujuan utama dari penyesuaian ini adalah menjaga ketersediaan pasokan di tengah kendala transportasi. Penjelasan Bahlil menegaskan bahwa Pertamina menyiapkan cara distribusi alternatif dengan memanfaatkan kedua moda secara berurutan: kapal untuk menampung dan kendaraan tangki untuk mengirim. Rincian mengenai rute, jumlah armada, maupun jadwal pengiriman tidak disampaikan dalam uraian tersebut. Karena itu, hal yang dapat dipastikan adalah adanya perubahan tahapan penyaluran agar suplai BBM ke Kalimantan Barat tetap diupayakan.

Penyusutan muka air Sungai Kapuas membuat kapal kesulitan mencapai Fuel Terminal Sintang, sehingga jalur distribusi utama menghadapi hambatan. Untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi Kabupaten Sintang dan wilayah sekitarnya tetap berjalan, Pertamina Patra Niaga mengaktifkan langkah kontingensi dengan mengoptimalkan fasilitas penyangga di Tayan, Kabupaten Sanggau. Fasilitas ini berfungsi sebagai titik suplai alternatif ketika kondisi sungai membatasi pergerakan kapal menuju terminal. Pengalihan tersebut membantu perusahaan menyesuaikan alur logistik terhadap kondisi lapangan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu akses pengiriman. Dengan demikian, upaya pemenuhan kebutuhan energi masyarakat dapat terus dilakukan selama jalur utama mengalami gangguan.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa BBM dari fasilitas Tayan dimuat langsung dari kapal ke mobil tangki. Setelah proses pemuatan, kendaraan tersebut menempuh perjalanan darat untuk mengirimkan produk ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Skema ini menghubungkan pasokan yang tiba melalui kapal dengan jaringan penyaluran darat, tanpa harus menunggu kapal dapat merapat ke Fuel Terminal Sintang. Perusahaan mengatur pengiriman melalui fasilitas yang masih dapat diakses agar penyaluran menuju daerah kebutuhan tetap berlangsung. Penggunaan mobil tangki juga memberi pilihan operasional ketika kondisi perairan tidak mendukung distribusi sebagaimana biasanya.

Optimalisasi Tayan memberikan keluwesan untuk mendekatkan titik suplai ke wilayah yang membutuhkan, termasuk Sintang dan sekitarnya. Sebagai fasilitas penyangga, lokasinya dapat dimanfaatkan dalam pengaturan ulang rute dan tahapan pengiriman ketika jalur logistik utama terganggu. Langkah ini merupakan bagian dari kesiapsiagaan perusahaan menghadapi perubahan kondisi alam yang memengaruhi akses transportasi, bukan perubahan permanen terhadap pola distribusi. Penyaluran melalui darat tetap memerlukan koordinasi ketersediaan BBM, armada mobil tangki, dan kebutuhan SPBU agar pengiriman dapat disesuaikan secara terukur. Dengan memanfaatkan titik suplai alternatif tersebut, Pertamina Patra Niaga berupaya menjaga kesinambungan distribusi sambil memantau perkembangan muka air Sungai Kapuas. Pengaturan ini memungkinkan pasokan diteruskan sesuai kondisi akses yang tersedia, serta mendukung pelayanan bagi masyarakat dan pengguna kendaraan di Kabupaten Sintang dan kawasan sekitarnya selama hambatan pelayaran berlangsung.

Gangguan distribusi BBM akibat surutnya Sungai Kapuas sempat menimbulkan antrean panjang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Kendala pengiriman membuat pasokan ke beberapa daerah harus dialihkan melalui jalur darat, sehingga penyaluran membutuhkan penyesuaian. Antrean warga dilaporkan lain terjadi di Kabupaten Kayong Utara. Situasi tersebut memperlihatkan dampak hambatan distribusi terhadap akses masyarakat, meskipun keterangan mengenai kondisi stok nasional disampaikan terpisah oleh pemerintah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa stok BBM nasional berada dalam kondisi aman. Ia juga menyampaikan bahwa ketersediaan BBM di Kalimantan tidak jauh berbeda dari kondisi nasional. Pernyataan itu menjadi keterangan umum tentang situasi pasokan, bukan rincian jumlah stok khusus untuk Kalimantan. Karena itu, angka yang disampaikan mengenai persediaan nasional tidak semestinya dibaca sebagai angka tersendiri bagi wilayah tersebut.

Untuk Pertalite, Bahlil menyebut stok nasional rata-rata berada pada kisaran 16–18 hari. Sementara itu, stok solar disebut tidak bermasalah karena Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Keterangan tersebut disampaikan di tengah perhatian terhadap antrean dan kendala penyaluran di sejumlah titik Kalimantan Barat. Perbedaan ketersediaan stok dan kelancaran distribusi penting diperhatikan: stok yang dinyatakan aman secara nasional tidak dengan sendirinya menghilangkan hambatan pengiriman di daerah yang terdampak.

Adapun stok BBM dengan jenis RON 92 RON 95 dan.

Baca juga: Penutupan Gerbang Utama: Akses Dialihkan di Kampus UINSA

banner 325x300