banner 728x250
Berita  

Desa Kanung Rayakan Hari Lahir Pancasila dengan Semangat Gotong Royong dan Persatuan

Desa Kanung Rayakan Hari Lahir Pancasila dengan Semangat Gotong Royong dan Persatuan
banner 120x600
banner 468x60

KANUNG, SAWAHAN, MADIUN — Suasana pagi di Desa Kanung, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, terasa berbeda pada hari ini. Warga desa berkumpul di balai desa dan lapangan utama dengan semangat yang begitu hangat. Bendera Merah Putih berkibar, sementara suara anak-anak bermain dan suara petugas desa yang bersiap menyambut kegiatan semakin menambah suasana meriah. Hari ini, Desa Kanung memperingati Hari Lahir Pancasila, momentum penting untuk mengingat kembali dasar negara yang menjadi pondasi persatuan bangsa.

Sejak pukul tujuh pagi, warga dari berbagai usia telah mulai berdatangan. Ibu-ibu menata kursi di halaman balai desa, bapak-bapak mempersiapkan panggung mini untuk kegiatan pentas seni, sementara anak-anak kecil terlihat antusias membawa bendera mini dan spanduk bertuliskan “Bersatu dalam Pancasila, Membangun Desa Bersama.” Kepala Desa Kanung, Bapak Hadi Santoso, membuka kegiatan dengan sambutan singkat di atas panggung. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pedoman untuk membangun solidaritas antarwarga.

banner 325x300

“Pancasila bukan hanya hari ini, bukan hanya peringatan seremonial,” ucap Hadi sambil menatap warga yang hadir. “Nilai-nilai ini harus kita bawa setiap hari, dalam setiap keputusan, dalam setiap gotong royong di desa kita. Bersama, kita bisa menjadikan Kanung lebih maju dan harmonis.”

Kegiatan peringatan tidak berhenti pada sambutan resmi. Warga kemudian diajak mengikuti berbagai rangkaian acara yang sengaja disusun untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Acara diawali dengan pembacaan teks Pancasila oleh para pemuda desa, dilanjutkan dengan penampilan drama singkat yang menceritakan sejarah lahirnya Pancasila dan perjuangan para pendiri bangsa. Para penonton, baik tua maupun muda, terlihat terhanyut dalam narasi sejarah yang dibawakan dengan sederhana tapi mengena.

Di sisi lain lapangan, kelompok ibu-ibu PKK desa menyiapkan stan kuliner dan pameran kerajinan lokal. Aroma masakan tradisional seperti pecel, tahu bacem, dan jenang sumedang memenuhi udara, menarik perhatian warga untuk mencicipi sekaligus membeli hasil karya tetangga mereka sendiri. Penampilan musik akustik dari remaja desa menambah semarak suasana. Anak-anak tampak berlarian di antara tenda, sesekali ikut bernyanyi mengikuti lagu-lagu perjuangan yang dibawakan.

Seorang warga, Pak Joko, 52 tahun, mengaku senang melihat antusiasme masyarakat yang begitu tinggi. “Ini pertama kali saya melihat seluruh lapisan masyarakat terlibat, dari anak-anak sampai kakek nenek. Semangatnya luar biasa. Pancasila hari ini terasa hidup di desa kami,” ujarnya sambil tersenyum.

Kegiatan yang dikemas sedemikian rupa ini memang sengaja dirancang untuk mengedepankan partisipasi aktif warga. Tidak ada sekat antara panitia dan peserta; semua bergotong royong menyiapkan panggung, dekorasi, serta konsumsi. Hal ini mencerminkan salah satu nilai penting Pancasila, yakni gotong royong. Bagi Kepala Desa Hadi, pendekatan ini bukan hanya soal merayakan hari besar nasional, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Selain hiburan dan pameran, Desa Kanung juga mengadakan sesi diskusi singkat mengenai penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa tokoh muda desa, termasuk guru dan pemuda karang taruna, berbagi pengalaman mereka dalam mempraktikkan nilai persatuan, keadilan, dan kerakyatan. Salah satu peserta, Siti Nurhaliza, guru SD setempat, menyampaikan bahwa nilai-nilai Pancasila bisa diaplikasikan mulai dari hal sederhana. “Mengajarkan anak-anak untuk saling menghargai, menolong teman, hingga menjaga lingkungan sekolah adalah bagian dari praktik Pancasila sehari-hari,” ujarnya.

Tidak hanya sebatas kegiatan formal, peringatan Hari Lahir Pancasila di Desa Kanung juga diwarnai aksi sosial. Sejumlah pemuda desa melakukan bakti sosial membersihkan jalan dan sungai kecil yang ada di sekitar pemukiman. Mereka membawa sapu, karung sampah, dan alat kebersihan lain, bekerja bersama tanpa membedakan usia atau status sosial. Aksi ini mendapat aplaus dari warga yang menonton, dan menjadi bukti nyata bahwa Pancasila bukan sekadar kata, tetapi tindakan.

Seiring matahari semakin meninggi, suasana semakin hangat. Anak-anak ikut lomba mewarnai dan lomba tarik tambang, sementara remaja dan orang dewasa berpartisipasi dalam lomba masak dan kuis pengetahuan Pancasila. Setiap kegiatan diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari warga, menciptakan suasana penuh keakraban.

Kepala Desa Hadi menambahkan bahwa momentum Hari Lahir Pancasila juga dimanfaatkan untuk mengumumkan beberapa program baru desa. Di antaranya adalah pelatihan kewirausahaan bagi ibu-ibu, program literasi digital untuk remaja, dan penguatan kelompok tani agar hasil panen lebih optimal. Semua program ini ditujukan untuk memajukan Desa Kanung secara menyeluruh, selaras dengan semangat persatuan dan gotong royong yang dicontohkan oleh Pancasila.

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Doa itu bukan hanya permohonan keselamatan, tetapi juga harapan agar nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan menjadi pedoman bagi seluruh warga Desa Kanung. Warga kemudian meninggalkan lapangan dengan senyum, sambil membawa kenangan manis dari peringatan yang penuh makna.

Seorang remaja desa, Rian, 17 tahun, menyimpulkan suasana hari itu dengan lugas. “Hari ini kami bukan hanya merayakan Pancasila, tapi belajar hidup bersama. Ini membuat saya bangga menjadi bagian dari desa saya sendiri.”

Dari kegiatan ini, jelas terlihat bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila di Desa Kanung bukan sekadar seremoni formal. Kegiatan ini menghidupkan nilai persatuan, gotong royong, dan kebersamaan di level akar rumput. Dengan melibatkan semua lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, Desa Kanung berhasil menampilkan sebuah model peringatan yang tidak hanya mengingat sejarah, tetapi juga menguatkan fondasi sosial dan moral warga.

Semangat yang tercipta hari ini akan menjadi modal penting bagi Desa Kanung dalam membangun masa depan yang lebih cerah. Persatuan dan kebersamaan bukan hanya slogan, tetapi nyata dalam setiap tindakan dan senyum warga. Hari Lahir Pancasila di desa ini mengingatkan bahwa dari desa kecil pun, nilai-nilai besar bangsa bisa hidup dan berkembang, menjadi inspirasi bagi daerah lain di Kabupaten Madiun.

Dengan suara tawa anak-anak yang masih terdengar di kejauhan, aroma kuliner yang masih menggoda, dan semangat warga yang tak luntur, Pancasila bukan hanya sejarah. Hari ini, di Desa Kanung, Pancasila hidup, tumbuh, dan menjadi kekuatan nyata bagi masa depan desa dan warganya.

banner 325x300

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *