Bandung, Jawa Barat — Persib Bandung menutup perjalanan di Super League 2025/2026 dengan keberhasilan mempertahankan posisi teratas dan meraih gelar juara. Kepastian itu diperoleh setelah Maung Bandung bermain imbang tanpa gol, 0-0, melawan Persijap Jepara pada pekan terakhir kompetisi. Hasil tersebut cukup untuk mengamankan trofi, meskipun Persib tidak mampu menambah angka secara maksimal di pertandingan penutup.
Persib mengakhiri musim dengan koleksi 79 poin. Jumlah itu sama dengan yang dikumpulkan Borneo FC, sehingga penentuan juara tidak hanya bergantung pada perolehan angka di klasemen. Persib akhirnya berhak menempati posisi pertama berkat keunggulan dalam rekor head to head atas pesaingnya tersebut. Keunggulan itu menjadi pembeda penting dalam persaingan yang berlangsung ketat hingga pertandingan terakhir.
Gelar Super League 2025/2026 juga memiliki makna khusus bagi Persib karena memperpanjang catatan dominasi klub asal Bandung tersebut. Trofi ini merupakan gelar ketiga secara beruntun, setelah Persib lebih dahulu menjadi juara pada musim 2023/2024 dan 2024/2025. Rangkaian prestasi itu menegaskan konsistensi Persib dalam mempertahankan performa di level tertinggi sepak bola nasional.
Hasil imbang melawan Persijap memang tidak menghasilkan pesta kemenangan melalui skor besar, tetapi nilainya tetap sangat penting. Persib mampu menjaga jarak kompetitif dengan Borneo FC sekaligus memastikan seluruh kerja sepanjang musim berujung pada trofi. Dengan demikian, musim 2025/2026 kembali ditutup Persib sebagai kampiun, sekaligus mencatatkan babak baru dalam sejarah klub melalui raihan tiga gelar liga secara berturut-turut.
Keberhasilan Persib pada musim 2025/2026 tidak hanya berkaitan dengan pemain yang tampil paling sering di lapangan, tetapi juga dengan komposisi skuad dan kontribusi setiap individu dalam tahap yang berbeda. Dalam konteks tersebut, Dion Markx dan Thom Haye memiliki keterkaitan dengan perjalanan Persib, meskipun peran keduanya tidak dapat disamakan. Dion tercatat sebagai bagian dari skuad Persib pada musim 2025/2026, sedangkan Thom menjadi salah satu pemain penting yang memberikan pengaruh langsung sepanjang kompetisi.
Dion Markx berada dalam struktur tim Persib pada musim ketika klub tersebut meraih keberhasilan. Statusnya sebagai bagian dari skuad menunjukkan keterlibatannya dalam proyek tim, tetapi informasi mengenai perannya tidak menggambarkan kontribusi pertandingan yang sama seperti Thom Haye. Pada musim berikutnya, yakni 2026/2027, Dion dipinjamkan ke Persita Tangerang. Langkah tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya dan menempatkan sang pemain dalam lingkungan baru untuk memperoleh pengalaman serta kesempatan bermain yang berbeda.
Sementara itu, Thom Haye memainkan peran yang lebih menonjol dalam jalannya musim Persib 2025/2026. Ia tampil dalam 28 pertandingan Super League dan mencatatkan lima gol serta enam assist. Angka tersebut memperlihatkan kontribusinya dalam dua aspek sekaligus, yaitu membantu membangun serangan dan menciptakan peluang bagi rekan setim. Kehadiran Thom di lini tengah juga memberi Persib pemain yang mampu menjaga aliran permainan, mendukung transisi, serta menghadirkan ancaman melalui keterlibatan langsung dalam proses mencetak gol.
Dengan demikian, hubungan Dion Markx dan Thom Haye dengan keberhasilan Persib perlu dipahami melalui konteks masing-masing. Dion merupakan bagian dari skuad Persib pada musim 2025/2026 sebelum melanjutkan kariernya bersama Persita dengan status pinjaman. Thom, di sisi lain, berperan lebih aktif dalam pertandingan dan menghasilkan catatan statistik yang terukur. Keduanya tercatat dalam rangkaian perjalanan Persib, tetapi posisi, waktu keterlibatan, dan bentuk kontribusinya berbeda.
Setelah kompetisi klub berakhir, perjalanan Dion Markx dan Thom Haye berlanjut bersama tim nasional Indonesia. Keduanya masuk dalam rangkaian persiapan skuad untuk FIFA ASEAN Cup 2026, turnamen yang menjadi kesempatan penting bagi Indonesia untuk memperkuat pencapaian di tingkat regional. Thom Haye tercatat sebagai bagian dari skuad yang ditangani John Herdman. Kehadirannya memberi tambahan pilihan di lini tengah, sekaligus memperpanjang catatan positifnya pada tahun 2026.
Dion Markx juga memperoleh panggilan untuk memperkuat Indonesia. Ia diproyeksikan sebagai salah satu opsi di lini belakang, meskipun dalam perjalanan turnamen lebih sering berada di bangku cadangan. Perannya tetap menjadi bagian dari kedalaman skuad yang disiapkan untuk menghadapi rangkaian pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026. Pemanggilan tersebut menunjukkan bahwa Markx masih dipertimbangkan dalam rencana tim, meski kesempatan bermainnya tidak sebanyak pemain lain.
Indonesia kemudian menutup turnamen dengan keberhasilan meraih gelar perdana FIFA ASEAN Cup 2026. Pada pertandingan penentuan melawan Thailand, kedua tim bermain imbang 2-2 hingga 120 menit. Pemenang akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Indonesia mengakhiri babak tersebut dengan kemenangan 4-2 atas Thailand, sekaligus memastikan trofi pertama dalam sejarah keikutsertaannya pada turnamen tersebut.
Gelar itu menjadi penutup penting bagi perjalanan tim nasional setelah kompetisi klub selesai. Bagi Thom Haye, keberadaannya dalam skuad asuhan John Herdman menambah makna terhadap rangkaian prestasi pada 2026. Sementara itu, Dion Markx turut menjadi bagian dari tim yang mencatat sejarah, meskipun lebih banyak menunggu kesempatan dari bangku cadangan. Dua pemain tersebut pun menutup periode itu dengan status sebagai pemain Indonesia yang mengoleksi dua gelar pada tahun yang sama.
Catatan 2026 menempatkan Dion Markx dan Thom Haye dalam sebuah pencapaian yang sama-sama istimewa. Keduanya berhasil mengoleksi dua gelar dalam tahun yang sama, meskipun perjalanan, peran, dan konteks keberhasilan mereka tidak sepenuhnya identik. Satu gelar diraih melalui kompetisi domestik bersama Persib, sementara gelar lainnya diperoleh ketika memperkuat timnas Indonesia di panggung internasional.
Thom Haye merasakan pencapaian tersebut sebagai pemain senior Persib. Pengalaman serta kedewasaannya menjadi bagian dari perjalanan klub dalam meraih trofi domestik. Pada saat yang sama, Haye juga turut mencatat sejarah bersama Indonesia setelah menjadi bagian dari tim yang memenangkan gelar perdana FIFA ASEAN Cup. Dua keberhasilan itu memperlihatkan konsistensinya dalam memberikan kontribusi pada level klub dan tim nasional sepanjang 2026.
Sementara itu, Dion Markx menjalani musim sebagai pemain Persib sebelum kemudian dipinjamkan ke Persita. Status tersebut memberikan konteks berbeda terhadap gelar domestik yang tercatat dalam perjalanan kariernya pada tahun ini. Meski tidak menempuh jalur yang sama dengan Haye setelah masa peminjamannya, Markx tetap tercatat sebagai bagian dari skuad Persib yang meraih gelar kompetisi domestik. Ia kemudian melengkapi catatan tersebut melalui keberhasilan bersama timnas Indonesia.
Persamaan keduanya terletak pada kombinasi prestasi klub dan tim nasional dalam satu kalender kompetisi. Perbedaannya terlihat dari pengalaman dan situasi masing-masing: Haye meraih kesuksesan bersama Persib sebagai pemain senior, sedangkan Markx menjalani musim di Persib sebelum melanjutkan kiprahnya dengan status pinjaman ke Persita. Baik Haye maupun Markx kini menjadi bagian dari sejarah Indonesia sebagai peraih gelar perdana FIFA ASEAN Cup, sekaligus pemilik dua gelar pada 2026.







