Jakarta | Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada Selasa. Peresmian ini menandai hadirnya ruang pamer khusus yang didedikasikan bagi arca Dewi Prajnaparamita, salah satu peninggalan paling penting dari masa Singasari. Kehadiran galeri tersebut memperkuat posisi arca sebagai pusat perhatian dalam pengembangan pengalaman kunjungan di Museum Nasional.
Arca Dewi Prajnaparamita merupakan mahakarya seni pahat abad ke-13 yang dikenal karena kehalusan bentuk, ketenangan ekspresi, serta detail artistiknya. Representasi sosok dewi kebijaksanaan transenden itu kerap disebut sebagai “Mona Lisa dari Jawa” atau “Mona Lisa van Java”. Julukan tersebut menggambarkan nilai estetika dan daya pikat arca yang telah menarik perhatian publik maupun kalangan pemerhati sejarah dan seni.
Melalui galeri baru ini, Museum Nasional Indonesia menyediakan konteks pameran yang lebih terarah bagi pengunjung untuk mengenal arca Prajnaparamita. Penempatannya dalam ruang khusus tidak hanya menonjolkan keindahan fisik karya, tetapi juga menggarisbawahi keterkaitannya dengan warisan budaya Singasari serta perkembangan seni Jawa kuno. Galeri ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bahwa arca tersebut bukan sekadar objek bersejarah, melainkan bagian penting dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
Peresmian pada Selasa itu sekaligus menempatkan Prajnaparamita sebagai salah satu daya tarik utama Museum Nasional. Dengan dibukanya galeri khusus, perhatian terhadap mahakarya abad ke-13 tersebut memperoleh ruang yang lebih kuat dalam narasi museum. Pengunjung dapat menjadikan galeri ini sebagai tujuan utama untuk menyaksikan langsung karya yang selama ini dikenal luas melalui julukannya sebagai Mona Lisa dari Jawa, sekaligus mengenali nilai sejarah dan artistik yang membuatnya tetap relevan hingga kini.
Fadli Zon menilai arca Prajnaparamita sebagai salah satu puncak pencapaian seni rupa klasik Indonesia. Penilaian tersebut tidak semata-mata didasarkan pada usia atau status sejarahnya, melainkan juga pada kualitas artistik, ketepatan proporsi, kehalusan pengerjaan, serta kekuatan ekspresi yang terpancar dari keseluruhan bentuk. Baginya, arca peninggalan Singasari itu memiliki kedudukan estetika yang setara, bahkan dinilai dapat melampaui Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang tersimpan di Museum Louvre, Prancis. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa mahakarya Nusantara layak ditempatkan dalam percakapan mengenai karya seni dunia.
Perbedaan masa penciptaan menjadi salah satu aspek penting dalam perbandingan itu. Arca Prajnaparamita dipahat pada abad ke-13, ketika Kerajaan Singasari mencapai masa keemasan di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Sementara itu, Mona Lisa dibuat Leonardo da Vinci pada awal abad ke-16, beberapa abad setelah arca tersebut diwujudkan. Rentang waktu itu memperlihatkan bahwa tradisi artistik di Nusantara telah menghasilkan karya dengan tingkat kematangan tinggi jauh sebelum periode Renaisans mencapai puncaknya di Eropa.
Fadli juga menyoroti tantangan teknis yang dihadapi pembuat arca. Menurutnya, memahat batu andesit jauh lebih rumit dibandingkan melukis di atas kanvas karena seniman harus mengurangi material secara permanen dan tidak memiliki ruang luas untuk memperbaiki kesalahan. Kerumitan itu tampak pada detail wajah serta sikap tubuh yang terkendali. Ekspresi Prajnaparamita hadir dengan ketenangan, keanggunan, dan nuansa meditatif, disertai senyum misterius yang mengingatkan pada daya tarik Mona Lisa. Sosok tersebut menggambarkan dewi kebijaksanaan transendental dan kerap diidentifikasikan dengan Ken Dedes, tokoh penting dalam sejarah awal Singasari. Perpaduan simbol keagamaan, keindahan ideal, serta keterampilan pahat menjadikan arca ini bukan hanya benda bersejarah, tetapi juga pernyataan artistik tentang kedalaman spiritual dan kecanggihan budaya Indonesia klasik.
Arca Prajnaparamita yang ditemukan di kawasan Candi Singasari, Jawa Timur, selama ini dinilai belum dieksplorasi secara optimal. Sebagai salah satu mahakarya penting dari masa Singasari, arca tersebut kerap berada di ruang penyimpanan koleksi sehingga kesempatan masyarakat untuk mengenali nilai sejarah, artistik, dan spiritualnya menjadi terbatas. Kondisi itu membuat kekayaan budaya yang semestinya dapat dipelajari publik belum sepenuhnya hadir dalam pengalaman kunjungan museum. Pembukaan galeri khusus menjadi langkah penting untuk mengubah keadaan tersebut sekaligus menempatkan arca sebagai bagian utama dari narasi warisan Nusantara.
Melalui galeri ini, arca Prajnaparamita ditampilkan dengan standar kuratorial modern yang memperhatikan konteks sejarah, kualitas informasi, serta alur pengalaman pengunjung. Penataan tersebut diharapkan membuat karya yang sebelumnya lebih sering tersimpan dapat diapresiasi secara lebih luas, bukan hanya oleh peneliti dan pemerhati sejarah, tetapi juga oleh keluarga, pelajar, wisatawan, serta generasi muda. Aspek inklusivitas turut menjadi perhatian. Penyandang disabilitas mata dapat memanfaatkan panel informasi berhuruf Braille, panduan narasi audio, dan replika miniatur taktil yang dapat disentuh. Fasilitas itu membuka peluang bagi lebih banyak pengunjung untuk memahami bentuk, detail, dan makna arca melalui cara yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pengalaman pameran juga direncanakan terus dikembangkan melalui pengayaan tata pamer. Proyeksi visual digital dan tata suara tematik akan dihadirkan untuk membantu membangun suasana serta memperkuat hubungan arca, sejarah Singasari, dan konteks kebudayaannya. Pendekatan tersebut diharapkan meningkatkan ketertarikan generasi muda tanpa mengurangi penghormatan terhadap nilai asli koleksi. Fadli mengajak masyarakat menyaksikan karya tersebut secara langsung dengan menegaskan bahwa kunjungan ke Museum Nasional belum lengkap tanpa melihat arca Prajnaparamita. Ajakan itu menempatkan kunjungan langsung sebagai kesempatan untuk menghargai mahakarya tersebut sekaligus memahami pentingnya pelestarian dan penyajian koleksi secara terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.
Peresmian Galeri Prajnaparamita memiliki makna strategis karena berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Museum Indonesia. Momentum tersebut menegaskan kembali peran museum sebagai lembaga yang menjaga warisan budaya, memperluas akses pengetahuan, serta membangun hubungan yang lebih dekat masyarakat dan sejarah. Kehadiran galeri tematik ini juga memperlihatkan upaya Museum Nasional Indonesia untuk menghadirkan koleksi dalam tata pamer yang lebih terarah, kontekstual, dan relevan bagi pengunjung dari berbagai latar belakang.
Pembukaan galeri menjadi bagian dari agenda revitalisasi menyeluruh Museum Nasional Indonesia. Revitalisasi tidak hanya mencakup penguatan fungsi pameran dan layanan publik, tetapi juga pemulihan infrastruktur setelah kebakaran yang terjadi pada September 2023. Perbaikan fisik terhadap dua gedung belakang yang terdampak terus dipercepat agar seluruh kawasan museum dapat kembali menjalankan aktivitasnya secara bertahap, aman, dan optimal. Langkah ini penting untuk memastikan pelindungan koleksi berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pengalaman pengunjung.
Konteks tersebut turut menggambarkan besarnya jaringan permuseuman di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kebudayaan, terdapat 516 museum yang beroperasi di Indonesia. Jumlah itu mencakup museum yang dikelola pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta, dengan karakter koleksi serta sasaran pengunjung yang beragam. Keberagaman pengelola tersebut menunjukkan bahwa pengembangan museum memerlukan kolaborasi, perawatan berkelanjutan, dan strategi program yang mampu menjangkau publik secara lebih luas.
Kehadiran galeri tematik seperti Galeri Prajnaparamita diharapkan dapat menghidupkan ekosistem museum sebagai ruang edukasi yang dinamis sekaligus penggerak ekonomi budaya nasional. Aktivitas pameran, penelitian, pendidikan, dan kunjungan publik dapat membuka peluang kerja sama dengan komunitas, pelaku kreatif, lembaga pendidikan, serta sektor pariwisata. Dengan pengelolaan yang konsisten, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga ruang pertemuan yang memperkuat apresiasi terhadap kebudayaan Indonesia.
Baca juga: Inisiatif Baru Bank Syariah Nasional untuk Meningkatkan Kolaborasi Bisnis di Bandung | Upaya Pemadaman Kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru | Menjamin Sukses Pelaksanaan MTQ Nasional: Tanggung Jawab Bersama






