banner 728x250

Kemarau Panjang Mengerek Harga Cabai di Tigaraksa, Rawit Merah Capai Rp85 Ribu

Kenaikan Drastis Harga Cabai di Tigaraksa: Dampak Kemarau Panjang
banner 120x600
banner 468x60

KABUPATEN TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Harga sejumlah komoditas cabai meningkat signifikan di Pasar Gudang Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Perubahan harga tersebut menjadi perkembangan utama pada perdagangan pangan di wilayah itu, terutama karena cabai merupakan kebutuhan yang banyak digunakan dalam konsumsi sehari-hari. Di berbagai jenis cabai yang mengalami kenaikan, cabai rawit merah tercatat sebagai komoditas dengan peningkatan paling tinggi. Harganya mencapai Rp85 ribu, sehingga menjadi sorotan dalam perkembangan harga cabai di pasar tersebut.

Kenaikan harga cabai itu berkaitan dengan dampak kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino Godzilla terhadap sektor pangan. Kondisi kemarau panjang tersebut memberikan tekanan pada ketersediaan komoditas pangan, termasuk berbagai jenis cabai yang diperdagangkan di Pasar Gudang Tigaraksa. Dampaknya terlihat dari meningkatnya harga sejumlah komoditas cabai, dengan cabai rawit merah mencatat kenaikan yang paling menonjol dibandingkan jenis cabai lainnya.

banner 325x300

Harga cabai rawit merah yang mencapai Rp85 ribu menegaskan besarnya perubahan harga yang terjadi di Pasar Gudang Tigaraksa. Kenaikan ini menjadi bagian dari dampak kemarau panjang terhadap sektor pangan, sebagaimana terlihat pada perdagangan cabai di pasar tersebut. Dengan posisi sebagai komoditas yang mengalami kenaikan paling tinggi, cabai rawit merah menjadi penanda utama perkembangan harga cabai di Tigaraksa. Peristiwa ini menunjukkan bahwa fenomena El Nino Godzilla memiliki dampak terhadap harga komoditas pangan, khususnya cabai, di Kabupaten Tangerang.

Norman, salah seorang pedagang sayur di Pasar Gudang Tigaraksa, menyampaikan bahwa harga sejumlah jenis cabai mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Menurut dia, cabai rawit merah yang sebelumnya dijual di kisaran Rp65.000 per kilogram kini mencapai Rp85.000 per kilogram. Kenaikan tersebut membuat komoditas yang banyak digunakan untuk sambal dan berbagai masakan rumah tangga itu menjadi lebih mahal dibandingkan harga sebelumnya.

Selain rawit merah, harga cabai merah keriting juga mengalami peningkatan cukup signifikan. Norman menyebut harga cabai tersebut sebelumnya berada di sekitar Rp40.000 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp60.000 per kilogram. Dengan demikian, terdapat selisih Rp20.000 untuk setiap kilogram cabai merah keriting, sementara rawit merah naik Rp20.000 dari harga sebelumnya.

Keterangan mengenai perubahan harga itu disampaikan Norman saat ditemui di lapaknya pada Selasa, 29 September 2026. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bukan baru terjadi pada hari tersebut, melainkan telah berlangsung sejak beberapa minggu sebelumnya. Berdasarkan pengamatannya sebagai pedagang, pergerakan harga sudah terlihat sejak tingkat pasar induk. Kondisi itu kemudian berpengaruh terhadap harga yang diterima pedagang di pasar tradisional, termasuk Pasar Gudang Tigaraksa.

Norman tidak menyebut perubahan harga hanya terjadi pada satu jenis cabai. Naiknya harga rawit merah dan cabai merah keriting menunjukkan bahwa tekanan pasokan turut dirasakan pada beberapa komoditas sekaligus. Kemarau panjang menjadi salah satu kondisi yang berkaitan dengan situasi tersebut, terutama karena dapat memengaruhi produksi dan ketersediaan cabai dari daerah pemasok. Ketika pasokan di tingkat awal berkurang atau distribusinya terganggu, harga di pasar berikutnya cenderung ikut bergerak naik.

Bagi pedagang, kenaikan harga dari pasar induk membuat penyesuaian harga jual menjadi sulit dihindari. Sementara itu, konsumen perlu mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli cabai dalam jumlah yang sama. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa harga cabai di Tigaraksa turut dipengaruhi oleh kondisi pasokan sebelum komoditas sampai ke pasar eceran.

Norman menilai cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu utama berkurangnya pasokan cabai yang masuk ke pasar. Kondisi tersebut terutama terlihat ketika kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya. Curah hujan yang rendah membuat ketersediaan air untuk tanaman menurun, sementara cabai membutuhkan perawatan dan kelembapan yang cukup agar dapat tumbuh hingga masa panen. Situasi ini akhirnya memengaruhi kemampuan petani dalam mempertahankan tanaman di lahan.

Kemarau panjang membuat proses penanaman cabai menjadi lebih sulit. Petani harus menghadapi lahan yang kering serta kebutuhan penyiraman yang lebih besar. Dalam keadaan seperti itu, tanaman tidak selalu mampu berkembang secara normal. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi sejak masa awal penanaman dan berlanjut hingga tanaman memasuki fase pembentukan buah. Tantangan tersebut membuat jumlah tanaman yang dapat dipelihara sampai panen berkurang.

Selain menyulitkan penanaman, cuaca ekstrem juga meningkatkan risiko kerusakan tanaman cabai di tingkat petani. Sebagian tanaman mati sebelum sempat dipanen, sehingga hasil yang seharusnya dikirim ke pasar tidak seluruhnya tersedia. Sejumlah petani bahkan mengalami gagal panen akibat tanaman tidak mampu bertahan selama periode kemarau. Keadaan ini mempersempit pasokan dari sentra produksi dan turut memengaruhi ketersediaan cabai bagi pedagang.

Menurut Norman, berkurangnya pasokan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi tanaman di lapangan. Ketika banyak tanaman mengalami kerusakan atau mati sebelum menghasilkan buah, volume cabai yang bisa dipanen otomatis menurun. Pasar kemudian menerima pasokan yang lebih terbatas dari tingkat petani. Faktor cuaca menjadi perhatian penting karena dampaknya dirasakan langsung sejak proses budidaya, sebelum cabai dikumpulkan dan didistribusikan kepada konsumen.

Kenaikan harga cabai di Tigaraksa mulai terasa langsung dalam aktivitas belanja masyarakat. Cabai rawit merah yang mencapai Rp85 ribu per kilogram membuat konsumen harus menyesuaikan pengeluaran, terutama mereka yang menjadikan cabai sebagai kebutuhan harian untuk memasak. Dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya, sebagian pembeli memilih mengurangi jumlah cabai yang dibeli agar anggaran belanja tetap mencukupi kebutuhan lain.

Perubahan perilaku tersebut terlihat dari pembelian yang tidak lagi dilakukan dalam jumlah seperti biasanya. Konsumen yang sebelumnya dapat membeli satu kilogram atau lebih kini cenderung mengambil dalam takaran lebih sedikit. Sebagian lainnya memilih membeli sesuai kebutuhan untuk satu atau dua kali memasak. Kenaikan harga membuat daya beli melemah, sehingga cabai tetap dibeli, tetapi dengan volume yang lebih kecil.

Dampak serupa dirasakan para pedagang di pasar. Ketika pembeli mengurangi jumlah belanja, cabai yang dibawa untuk dijual tidak selalu terserap dalam waktu yang sama seperti sebelum harganya melonjak. Pedagang pun menghadapi penurunan transaksi, karena tingginya harga membuat konsumen lebih berhati-hati dalam menentukan jumlah pembelian.

Norman, salah seorang pedagang, mengakui bahwa kenaikan harga cabai berpengaruh terhadap pendapatannya. Ia menyebut omzet yang diperoleh kini turun hingga sepertiga dibandingkan pendapatan normal sebelum harga cabai mengalami kenaikan. Menurut pengakuan tersebut, penurunan omzet berkaitan dengan berkurangnya jumlah pembelian konsumen di pasar. Pedagang tetap melayani permintaan yang ada, tetapi nilai transaksi yang terkumpul tidak lagi setara dengan kondisi sebelum harga meningkat. Situasi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga cabai tidak hanya membebani konsumen melalui berkurangnya daya beli, tetapi juga menekan pendapatan pedagang yang bergantung pada volume penjualan harian.

banner 325x300