banner 728x250
Budaya  

PNM Perkuat Pelestarian Batik dengan Memberdayakan Perajin Perempuan di Berbagai Daerah

PNM Perkuat Pelestarian Batik dengan Memberdayakan Perajin Perempuan di Berbagai Daerah
banner 120x600
banner 468x60

KOTA JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM terus memperkuat pelestarian batik melalui pemberdayaan perempuan perajin di berbagai daerah Indonesia. Dukungan tersebut ditujukan kepada perempuan yang menggantungkan penghasilan dari usaha membatik, sekaligus menjalankan peran penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya nasional. Melalui kegiatan membatik, para perajin tidak hanya menghasilkan karya bernilai ekonomi, tetapi juga mempertahankan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap lembar batik merepresentasikan kerja, ketekunan, dan kreativitas para perajin yang merawat tradisi di berbagai pelosok Indonesia. Motif, proses, serta ketelitian dalam pembuatannya menjadi bagian dari cerita mengenai keberagaman budaya Indonesia. Karena itu, pemberdayaan perajin perempuan memiliki arti yang lebih luas daripada dukungan terhadap kegiatan usaha. Upaya ini turut membuka ruang bagi perempuan untuk terus berkarya, memperoleh penghasilan, dan menjaga batik tetap hidup di tengah masyarakat.

banner 325x300

Dukungan PNM tersebut menjadi semakin bermakna dalam momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Peringatan ini mengingatkan masyarakat Indonesia terhadap pentingnya merawat dan menghargai batik sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Batik Indonesia juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Pengakuan tersebut memperkuat tanggung jawab untuk melestarikannya secara berkelanjutan, termasuk dengan mendukung para perempuan perajin yang berada di balik setiap proses penciptaan batik. Dengan demikian, keberadaan batik tidak hanya dipandang sebagai hasil karya, tetapi juga sebagai cerminan ketekunan masyarakat yang menjaga warisan budaya Indonesia.

PNM memfasilitasi program klasterisasi batik di sejumlah wilayah, lain Jambi, Madiun, Magelang, dan Lamongan. Program ini dirancang sebagai pelatihan berseri yang dilaksanakan secara berkelompok dengan menghimpun para pengusaha batik sejenis dalam satu wilayah. Melalui pendekatan tersebut, kebutuhan, tantangan, serta potensi pengembangan usaha dapat dipetakan dengan lebih baik sesuai karakteristik setiap daerah.

Klasterisasi memberikan pembekalan yang lebih terarah karena materi pelatihan disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan para perajin. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teknik produksi, pengelolaan usaha, pemasaran, dan peningkatan kualitas, tetapi juga memiliki ruang untuk mendiskusikan pengalaman yang mereka hadapi sehari-hari. Proses belajar menjadi lebih relevan karena pembahasannya berangkat dari jenis usaha yang sama serta lingkungan bisnis yang serupa.

Pelatihan secara berkelompok juga mendorong para pembatik untuk belajar dan berkembang bersama. Mereka dapat saling bertukar pengetahuan, membangun jejaring, serta menemukan peluang kolaborasi untuk memperluas pasar dan memperkuat daya saing produk. Dengan demikian, pelaku usaha tidak harus menjalankan usahanya secara sendiri-sendiri. Dukungan antarpeserta dapat menjadi sumber motivasi sekaligus membantu mereka menghadapi kendala produksi maupun pemasaran secara lebih terukur.

Direktur Utama PNM, Kindaris, menyampaikan bahwa PNM ingin menjaga keberlanjutan batik melalui para pembuatnya. Menurutnya, upaya tersebut tidak berhenti pada pembiayaan, tetapi juga mencakup pemberdayaan yang memberi kesempatan kepada para pembatik untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan kemampuan. Melalui pendampingan serta kegiatan yang berkelanjutan, PNM berupaya memperkuat usaha para pembatik agar tetap tumbuh, mandiri, dan mampu mempertahankan nilai budaya batik di tengah perubahan zaman.

Pelaksanaan klasterisasi perajin batik dilakukan PNM di berbagai daerah untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus membuka ruang pengembangan keterampilan. Salah satu contohnya berada di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Di wilayah ini, para peserta memperoleh pelatihan batik ecoprint yang memanfaatkan bentuk dan warna alami dari daun, bunga, serta bagian tumbuhan lainnya. Pelatihan tersebut ditujukan untuk memperluas keterampilan perajin, mendorong kreativitas dalam menghasilkan motif, dan menambah pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kegiatan produksi. Dengan bekal tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mempertahankan teknik membatik yang telah dikuasai, tetapi juga mampu menciptakan produk dengan karakter yang lebih beragam dan sesuai dengan perkembangan minat pasar.

Dukungan fasilitas juga diberikan di Desa Gandusari, Magelang, melalui pembentukan kampung binaan batik. PNM menyediakan ruang pelatihan membatik serta alat pengunci warna untuk mendukung proses belajar dan menjaga mutu hasil produksi. Nasabah mendapatkan pendampingan dari trainer agar dapat mengembangkan kemampuan, dari teknik batik tradisional menuju ecoprint. Materi pelatihan mencakup proses pewarnaan, termasuk penerapan teknik yang tepat untuk membantu mempertahankan kualitas, ketahanan, dan tampilan warna pada kain. Pengetahuan tersebut penting karena kualitas pewarnaan menjadi salah satu faktor yang menentukan daya tarik serta nilai jual produk batik.

Fasilitas di kampung binaan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi nasabah PNM. Masyarakat sekitar yang bukan nasabah juga dapat memanfaatkannya untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan keterampilan membatik. Keterbukaan ini memperluas dampak pemberdayaan karena pengetahuan, sarana, dan peluang berkarya dapat diakses oleh komunitas secara lebih luas. Melalui pelatihan yang berkelanjutan dan fasilitas bersama, perajin perempuan maupun masyarakat setempat memiliki ruang untuk meningkatkan kemampuan, menghasilkan produk bernilai tambah, serta menjaga keberlanjutan batik sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Dukungan PNM terhadap perajin batik tidak berhenti pada pembentukan klaster. Para perajin juga memperoleh pelatihan membatik untuk memperkuat keterampilan, pendampingan dalam menjalankan usaha, serta akses pemasaran agar produk setempat dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Dukungan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha, sekaligus membantu perajin perempuan mengembangkan kemampuan dan kemandirian ekonominya. Melalui pendekatan ini, batik tidak hanya dipandang sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai sumber penghidupan yang perlu dirawat bersama.

Kindaris menjelaskan bahwa klaster memberikan ruang bagi para pembatik untuk belajar, memanfaatkan fasilitas, dan saling membantu secara bersama-sama. Dalam satu wadah, perajin dapat berbagi pengalaman mengenai proses produksi, bertukar pengetahuan, serta mencari solusi atas tantangan yang dihadapi dalam mengelola usaha. Pola tersebut mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dalam pembinaan nasabah PNM. Menurut pandangan itu, usaha yang dijalankan bersama akan lebih mudah berkembang karena setiap perajin dapat saling menguatkan dan melengkapi.

Semangat kebersamaan juga mendukung pelaksanaan pelatihan dan pendampingan secara lebih berkelanjutan. Perajin dapat menggunakan fasilitas yang tersedia untuk meningkatkan mutu karya, sementara akses pemasaran membantu memperkenalkan batik dari berbagai daerah kepada konsumen. Dengan demikian, klaster berfungsi sebagai ruang pembelajaran sekaligus sarana untuk memperkuat hubungan antarperajin dan memperluas peluang usaha. Bagi PNM, merawat batik berarti memastikan para pembatik tetap berdaya, mampu melanjutkan keterampilan yang dimiliki, dan terus memperoleh dukungan untuk menjalankan usahanya.

banner 325x300