banner 728x250

Inovasi Geo-Fert PGE Dorong Panen Kubis 70 Ton di Kamojang

Inovasi Geo-Fert PGE Dorong Panen Kubis 70 Ton di Kamojang
banner 120x600
banner 468x60

KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kelompok Tani Hutan Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, mencatat hasil panen kubis yang signifikan melalui kegiatan Harepan atau panen hasil bumi. Dari lahan seluas sekitar 1,2 hektare, para anggota kelompok berhasil memanen kurang lebih 70 ton kubis varietas Granova. Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pengelolaan lahan pertanian secara terencana dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di sekitar wilayah Kamojang.

Kegiatan panen ini diselenggarakan sepanjang September 2026 oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang bersama masyarakat. Program Harepan dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk mendorong pemanfaatan potensi pertanian lokal secara berkelanjutan. Selain mendampingi proses budidaya, PGE turut memperkenalkan penggunaan Geo-Fert, pupuk yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan tanaman dan membantu petani mengoptimalkan biaya produksi.

banner 325x300

Hasil penjualan kubis Granova tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp78 juta. Nilai ini memberikan tambahan pendapatan yang berarti bagi Kelompok Tani Hutan Cikondang, terutama karena panen dilakukan dari lahan yang dikelola secara produktif bersama. Perolehan tersebut juga menunjukkan peluang pengembangan komoditas hortikultura di Desa Laksana, yang memiliki kondisi lingkungan dan sumber daya lokal yang mendukung kegiatan pertanian.

Di samping meningkatkan hasil produksi, penerapan Geo-Fert memberikan manfaat berupa penghematan biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta. Efisiensi itu membantu mengurangi beban pengeluaran petani tanpa mengabaikan kebutuhan pemupukan tanaman. Dengan demikian, panen 70 ton kubis tidak hanya mencerminkan keberhasilan produksi, tetapi juga memperlihatkan dampak penerapan inovasi pertanian terhadap efisiensi usaha dan pendapatan masyarakat.

Kolaborasi PGE Area Kamojang dan kelompok tani melalui Harepan menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasional. Keberhasilan panen ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan budidaya komoditas lain, meningkatkan kapasitas petani, serta memperluas pemanfaatan teknologi dan produk pendukung pertanian yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

Inovasi Geothermal Organic Fertilizer atau Geo-Fert memanfaatkan ekses uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang untuk mendukung produksi pupuk organik. Teknologi ini menghubungkan sektor energi dan pertanian melalui pemanfaatan panas yang sebelumnya belum digunakan secara optimal. Ekses uap tersebut dialirkan ke ruang pengering sehingga dapat membantu menurunkan kadar air bahan organik secara lebih cepat, terukur, dan higienis.

Panas bumi yang digunakan memiliki suhu sekitar 60–70 derajat Celsius. Suhu tersebut cukup untuk mempercepat proses pengeringan tanpa memerlukan pembakaran bahan bakar tambahan. Dalam metode konvensional, pengeringan pupuk organik dapat berlangsung sekitar 14 hari, terutama ketika kondisi cuaca kurang mendukung. Dengan penerapan Geo-Fert, durasi pengeringan dapat dipersingkat menjadi sekitar 12 jam. Percepatan ini meningkatkan efisiensi produksi sekaligus membantu menjaga konsistensi mutu pupuk.

Proses tersebut diawali dengan pengumpulan dan pengolahan limbah organik yang berasal dari lingkungan sekitar. Bahan kemudian disiapkan agar dapat dikeringkan secara merata menggunakan panas dari ekses uap PLTP Kamojang. Setelah kadar airnya sesuai, material dapat diproses menjadi pupuk organik yang lebih mudah disimpan, dikemas, dan didistribusikan. Pengendalian suhu juga menjadi bagian penting agar kandungan bahan organik tetap terjaga dan produk aman digunakan pada lahan pertanian.

Pemanfaatan panas bumi dalam Geo-Fert menunjukkan bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk bernilai guna, bukan sekadar dibuang atau dibiarkan menumpuk. Pupuk yang dihasilkan dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian, termasuk budidaya sayuran di wilayah Kamojang. Model ini mendorong pemanfaatan sumber daya secara sirkular: ekses panas dari pembangkit dimanfaatkan untuk mengolah limbah, sementara hasil olahannya dikembalikan ke lahan sebagai input pertanian. Selain mengurangi potensi pencemaran, pendekatan tersebut membuka peluang efisiensi biaya, penguatan ekonomi lokal, dan pengembangan pertanian yang lebih berkelanjutan.

Penerapan Geo-Fert dilakukan pada budidaya kubis di lahan seluas 1,2 hektare di Kamojang. Dalam kegiatan tersebut, pupuk yang digunakan berjumlah sekitar 30 ton. Penggunaan pupuk dibagi berdasarkan bentuk dan waktu aplikasinya, yaitu pupuk organik padat sebelum penanaman serta pupuk organik cair selama masa budidaya.

Pupuk organik padat diaplikasikan pada tahap persiapan lahan, sebelum bibit atau tanaman kubis ditanam. Pemberian pada tahap ini menjadi bagian dari penyiapan media tanam sebelum kegiatan penanaman dimulai. Sekitar 30 ton Geo-Fert digunakan dalam kegiatan budidaya pada lahan tersebut. Informasi penggunaan ini mencakup aplikasi pupuk organik padat yang dilakukan sebelum tanaman berada di lahan.

Setelah penanaman berlangsung, pupuk organik cair digunakan secara berkala. Aplikasinya dilakukan setiap 15 hari selama masa budidaya kubis. Dengan demikian, pemberian pupuk cair mengikuti interval waktu dua mingguan dan dilanjutkan selama periode pemeliharaan tanaman. Jadwal tersebut membedakan penggunaan pupuk cair dari pupuk organik padat yang diberikan pada tahap awal.

Rangkaian penggunaan Geo-Fert terdiri atas dua tahapan utama. Tahap pertama adalah aplikasi pupuk organik padat sebelum penanaman pada lahan seluas 1,2 hektare. Tahap kedua adalah penggunaan pupuk organik cair setiap 15 hari selama tanaman kubis dibudidayakan. Secara keseluruhan, sekitar 30 ton Geo-Fert diaplikasikan dalam kegiatan tersebut, dengan penerapan disesuaikan dengan bentuk pupuk dan waktu penggunaannya.

Data ini menggambarkan tata cara aplikasi pupuk dalam kegiatan budidaya kubis, tanpa mengubah pembagian tahapan yang telah ditetapkan. Pupuk padat digunakan sebelum penanaman, sedangkan pupuk cair diberikan secara berkala setelah proses penanaman dimulai. Kedua bentuk pupuk tersebut menjadi bagian dari penerapan Geo-Fert pada lahan kubis di Kamojang.

Program panen kubis di Kamojang memperlihatkan hasil yang menonjol, baik dari sisi jumlah maupun ukuran komoditas yang dihasilkan. Dalam pelaksanaan panen tersebut, total produksi kubis dilaporkan mencapai sekitar 70 ton. Capaian ini menjadi salah satu indikator bahwa penerapan inovasi Geo-Fert mampu mendukung pengelolaan lahan pertanian secara lebih produktif, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar wilayah kerja panas bumi.

Ukuran kubis yang dipanen juga menjadi perhatian. Beberapa buah tercatat memiliki bobot sekitar 6 kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kubis lokal yang umumnya berada di kisaran 3 kilogram. Perbedaan ukuran ini menunjukkan potensi peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan bahan organik dan pendekatan budidaya yang dikembangkan dalam program tersebut. Hasil panen itu sekaligus memperkuat peluang pengembangan pertanian lokal dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Andi Joko Nugroho, menyampaikan bahwa pemanfaatan panas bumi tidak terbatas pada penyediaan energi. “Panas bumi juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang dapat dipakai kembali untuk bertani,” ujarnya.

Pernyataan tersebut berkaitan langsung dengan pelaksanaan program panen di Kamojang. Melalui pengolahan limbah organik menjadi produk yang berguna bagi pertanian, masyarakat didorong untuk mengurangi limbah sekaligus meningkatkan kualitas input budidaya. Pendekatan ini menciptakan hubungan pengelolaan lingkungan, pemanfaatan energi panas bumi, dan peningkatan hasil pertanian.

Panen kubis seberat 70 ton dengan ukuran sebagian hasil mencapai 6 kilogram menjadi gambaran awal dari manfaat pendekatan tersebut. Selain menghasilkan komoditas dengan bobot lebih besar daripada rata-rata lokal, program ini memperlihatkan bagaimana inovasi dapat diterapkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan panas bumi. PGE menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas manfaat panas bumi melalui pemberdayaan dan pertanian berkelanjutan.

banner 325x300