banner 728x250

Iwan Setiawan Gantikan Mohammad Fadjar sebagai Pangkostrad, Maruli Singgung Bursa Panglima TNI

Iwan Setiawan Gantikan Mohammad Fadjar sebagai Pangkostrad, Maruli Singgung Bursa Panglima TNI
banner 120x600
banner 468x60

Pada 7 Oktober 2026, Letjen TNI Iwan Setiawan ditunjuk menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar. Pergantian tersebut menandai perubahan kepemimpinan pada salah satu komando utama strategis TNI Angkatan Darat yang memiliki peran penting dalam menyiapkan dan mengerahkan kekuatan tempur.

Penunjukan Iwan Setiawan menjadi perhatian karena posisi Pangkostrad merupakan salah satu jabatan strategis di lingkungan TNI AD. Pemegang jabatan ini bertanggung jawab memimpin Kostrad serta memastikan kesiapan satuan dalam menjalankan tugas operasi, baik untuk kepentingan pertahanan maupun penugasan lain sesuai kebijakan komando. Dengan demikian, pergantian dari Mohammad Fadjar kepada Iwan Setiawan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berkaitan dengan kesinambungan kepemimpinan dan kesiapan organisasi.

banner 325x300

Nama Iwan Setiawan sebelumnya telah dikenal dalam struktur kepemimpinan TNI Angkatan Darat. Penugasannya sebagai Pangkostrad menempatkan dirinya pada posisi yang menuntut kemampuan mengelola satuan besar, menjaga kesiapan personel dan alutsista, serta menerjemahkan kebijakan pimpinan TNI ke dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Sementara itu, Mohammad Fadjar meninggalkan jabatan tersebut setelah memimpin Kostrad dalam periode sebelumnya.

Perubahan jabatan ini juga berlangsung ketika pembicaraan mengenai bursa Panglima TNI kembali mendapat perhatian. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak turut menyinggung dinamika tersebut, meskipun penunjukan Pangkostrad dan proses pergantian Panglima TNI merupakan hal yang berbeda. Jabatan Pangkostrad berada dalam garis komando TNI AD, sedangkan Panglima TNI memimpin seluruh matra dan pengangkatannya mengikuti mekanisme serta kewenangan yang berlaku.

Karena itu, penunjukan Iwan Setiawan sebaiknya dipahami terlebih dahulu sebagai penyegaran kepemimpinan di Kostrad. Perkembangan selanjutnya, termasuk penjelasan resmi mengenai alasan pergantian dan agenda kerja pejabat baru, akan menjadi perhatian untuk melihat arah penguatan organisasi serta kesiapan strategis TNI Angkatan Darat.

Pergantian posisi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dikonfirmasi oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak. Konfirmasi tersebut disampaikan ketika Maruli ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 7 Oktober 2026. Ia membenarkan bahwa Iwan Setiawan menggantikan Mohammad Fadjar sebagai Pangkostrad.

Keterangan Maruli menjadi penegasan atas informasi mengenai perubahan kepemimpinan di salah satu satuan strategis TNI Angkatan Darat itu. Pangkostrad memiliki peran penting dalam memimpin Kostrad, yang merupakan salah satu komando utama operasional TNI Angkatan Darat. Karena itu, pergantian pejabat pada posisi tersebut menjadi perhatian, terutama di tengah pembahasan mengenai dinamika kepemimpinan di lingkungan militer.

Saat ditanya mengenai penunjukan Iwan Setiawan, Maruli memberikan tanggapan singkat. Ia justru mempertanyakan mengapa kabar tersebut belum diketahui oleh awak media. “Mengapa kabar tersebut belum diketahui awak media?” ujar Maruli.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Maruli tidak menyampaikan penjelasan panjang mengenai proses penunjukan maupun alasan pergantian Mohammad Fadjar. Ia hanya mengonfirmasi perubahan jabatan dan menanggapi pertanyaan wartawan mengenai nama Iwan Setiawan. Dengan adanya konfirmasi dari KSAD, informasi mengenai pergantian Pangkostrad memperoleh penegasan dari pejabat resmi TNI Angkatan Darat.

Penunjukan Iwan Setiawan juga muncul bersamaan dengan perhatian publik terhadap bursa Panglima TNI. Namun, dalam kesempatan tersebut, Maruli tidak merinci kaitan pergantian Pangkostrad dengan pembahasan mengenai calon Panglima TNI berikutnya. Ia juga tidak menguraikan tahapan keputusan atau pihak yang menetapkan penunjukan tersebut.

Informasi yang disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan itu menjadi dasar bagi pemberitaan mengenai posisi baru Iwan Setiawan. Sementara itu, rincian lebih lanjut mengenai serah terima jabatan, masa tugas Mohammad Fadjar, serta agenda kepemimpinan Iwan sebagai Pangkostrad masih menunggu keterangan resmi berikutnya dari institusi terkait. Konfirmasi Maruli untuk saat ini menegaskan dua hal: Iwan Setiawan menempati posisi Pangkostrad dan Mohammad Fadjar tidak lagi menjalankan jabatan tersebut.

Sebelum ditunjuk sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Iwan Setiawan menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) TNI Angkatan Darat. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari rekam jejaknya di lingkungan TNI AD, khususnya dalam bidang pembinaan dan pengembangan kecabangan infanteri. Penunjukan itu menempatkan Iwan pada posisi strategis yang memiliki peran penting dalam pembinaan kesiapan satuan serta pelaksanaan tugas pokok Kostrad.

Iwan menggantikan Mohammad Fadjar yang sebelumnya mengemban jabatan Pangkostrad selama sekitar dua tahun. Pergantian tersebut disampaikan sebagai bagian dari dinamika dan kebutuhan organisasi, bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri di luar pola pembinaan karier prajurit. Dalam struktur TNI AD, rotasi jabatan merupakan mekanisme yang lazim dilakukan untuk memberikan penyegaran, memperluas pengalaman, sekaligus memastikan kesinambungan kepemimpinan pada satuan-satuan strategis.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyebut pergantian itu sebagai rotasi biasa dalam organisasi TNI AD. Maruli menjelaskan bahwa masa tugas Mohammad Fadjar yang telah berlangsung sekitar dua tahun menjadi salah satu pertimbangan pergantian tersebut. “Itu rotasi biasa. Karena sudah dua tahun,” ujar Maruli, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan mengenai pergantian Pangkostrad.

Pernyataan Maruli menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan di Kostrad dilakukan berdasarkan pertimbangan organisasi dan masa penugasan. Dengan demikian, penunjukan Iwan tidak hanya mencerminkan perpindahan jabatan, tetapi juga bagian dari proses penyegaran komando di tubuh TNI AD. Rotasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penempatan perwira pada jabatan strategis dapat dilakukan setelah melalui evaluasi terhadap kebutuhan satuan, pengalaman, serta kesinambungan pelaksanaan tugas.

Perubahan ini juga berlangsung ketika nama-nama perwira tinggi mulai dikaitkan dengan dinamika bursa Panglima TNI. Namun, Maruli menekankan konteks pergantian Pangkostrad sebagai rotasi rutin organisasi. Karena itu, penunjukan Iwan dan berakhirnya masa tugas Mohammad Fadjar perlu dipahami terutama sebagai keputusan kedinasan dalam kerangka pembinaan organisasi TNI AD.

Nama Maruli kembali masuk dalam pembicaraan mengenai bursa calon Panglima TNI di tengah rotasi jabatan strategis di tubuh TNI. Pergantian posisi Pangkostrad dari Mohammad Fadjar kepada Iwan Setiawan turut memunculkan perhatian terhadap kemungkinan perubahan penugasan pada level pimpinan tertinggi. Dalam konteks tersebut, Maruli disebut sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki pengalaman dan rekam jejak untuk dipertimbangkan.

Saat dimintai tanggapan mengenai kabar tersebut, Maruli menyatakan tidak mempermasalahkannya. Ia tidak menunjukkan keberatan atas munculnya namanya dalam pemberitaan maupun pembahasan publik terkait calon Panglima TNI. Sikap itu disampaikan tanpa memberikan penegasan mengenai ada atau tidaknya komunikasi resmi terkait kemungkinan penugasan tersebut.

Maruli juga menekankan bahwa penyebutan sejumlah nama sebagai calon tidak hanya berlaku bagi dirinya. Menurut dia, semua pihak yang disebut dalam bursa, termasuk seluruh kepala staf, berada dalam posisi sebagai calon. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pembicaraan mengenai kandidat masih berada pada tahap wacana dan belum mengarah pada keputusan tertentu.

Dengan demikian, kemunculan nama Maruli perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika pembahasan mengenai kandidat Panglima TNI. Posisi kepala staf dari masing-masing matra juga dapat menjadi pertimbangan dalam berbagai spekulasi yang beredar, tetapi penyebutan tersebut belum menunjukkan adanya penetapan. Proses penentuan Panglima TNI tetap bergantung pada mekanisme dan keputusan yang berlaku, sehingga setiap nama yang beredar masih berada dalam ruang kemungkinan.

Rotasi jabatan di lingkungan TNI dapat terus memunculkan pertanyaan mengenai arah penataan organisasi dan kepemimpinan ke depan. Namun, sampai terdapat keterangan resmi mengenai proses tersebut, pernyataan Maruli menegaskan bahwa seluruh nama yang disebut, termasuk dirinya dan para kepala staf, masih berkedudukan sebagai calon dalam pembicaraan publik, bukan sebagai pihak yang telah dipastikan memperoleh jabatan.

banner 325x300