Kabupaten Malang | Pesan tersebut disampaikan Ketua PDIP Jatim Said Abdullah dalam kegiatan konsolidasi internal dan bakti sosial di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Jumat (9/10). Kalau di dalam partai terjadi pertengkaran, saling memfitnah, bertikai, dan membentuk faksi-faksi, eksistensi partai akan habis. Diterbitkan: 09 October 2026, 21:21 WIB Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah meminta seluruh kader partai merapatkan barisan untuk menghadapi Pemilu 2029.
Keterangan yang tercatat menyebut Hal tersebut tidak boleh terjadi," ujar dia. Hal itu tidak banyak gunanya bagi partai," kata Said.
Data lain dalam laporan menunjukkan Menurut dia, kepercayaan rakyat harus menjadi perhatian utama jika partai ingin mencapai target politik pada 2029. Oleh karena itu, dalam kegiatan konsolidasi ini, PDI Perjuangan juga menyalurkan bantuan sosial kepada 300 penerima manfaat serta memberikan santunan kepada 20 anak yatim.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Dia menegaskan soliditas internal menjadi modal utama bagi PDI Perjuangan untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat dan meraih kemenangan. Acara itu dihadiri jajaran pengurus partai mulai dari tingkat DPC, PAC, hingga ranting. Said mengingatkan konsolidasi tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Seluruh kader harus memiliki visi dan langkah sama agar tidak terjebak dalam konflik internal yang berpotensi merugikan partai. Selain memperkuat organisasi, Said meminta kader PDI Perjuangan lebih dekat dengan masyarakat.
Dia secara khusus menyoroti Kabupaten Malang yang belum memiliki bupati dari kader partai tersebut. Alhamdulillah, saat ini Kabupaten Malang belum memiliki bupati dari kader sendiri. Lalu, Ipuk Fiestiandani yang memimpin Banyuwangi, Hanindhito Himawan di Kabupaten Kediri, Mochamad Nur Arifin di Trenggalek dan beberapa nama lainnya. Said menegaskan soliditas merupakan modal sosial yang harus dijaga seluruh kader PDI Perjuangan. Konflik, saling memfitnah, dan pembentukan faksi internal dinilai dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap partai. Kalau partai tidak solid, kita akan kehilangan modal sosial. Modal utama partai adalah soliditas," ucap politisi asal Sumenep tersebut. Dia juga memperingatkan bahwa pertikaian internal dapat mengancam keberlangsungan organisasi. Karena itu, seluruh kader diminta menghindari konflik dan menjaga persatuan dalam menjalankan tugas partai. Tidak ada gunanya berpartai jika seperti itu. Said turut menekankan pentingnya menjalankan keputusan dan arahan organisasi secara konsisten. Dia meminta seluruh struktur partai menjaga keselarasan langkah demi mencapai target politik bersama. Ketika ada arahan dan satu komando, arahan itu tidak boleh diterjemahkan ulang. Tidak boleh ada interpretasi lain. Meski menekankan pentingnya konsolidasi, Said mengingatkan bahwa kedekatan dengan masyarakat juga harus menjadi bagian dari kerja politik kader. Dia menilai perhatian sederhana kepada warga dapat membangun rasa dihargai dan memperkuat hubungan partai dengan rakyat. Bahkan, ketika bertemu dengan kita, rakyat belum tentu membutuhkan bantuan. Disapa saja, rakyat sudah senang karena merasa dihargai." Said menegaskan rakyat merupakan pemilik kehormatan dan kedaulatan, sedangkan para wakil rakyat hanya menjalankan amanah untuk mewakili mereka. Said menegaskan target PDI Perjuangan bukan hanya memenangkan pemilihan legislatif, tetapi juga menempatkan kader sendiri di jabatan kepala daerah. Namun, kita juga punya kewajiban untuk memiliki bupati dari kader sendiri. Kita sudah lelah hanya mendukung dan mencalonkan bupati yang bukan kader sendiri. Dia meminta DPD dan seluruh jajaran partai mulai mempersiapkan langkah untuk mewujudkan target tersebut. Said juga menyoroti posisi Gubernur Jawa Timur yang belum diisi kader PDI Perjuangan dan berharap partai dapat mengusung calon sendiri pada kontestasi mendatang. Ini penting saya sampaikan supaya mulai sekarang DPD dan seluruh jajaran mulai bergerak," ucap Said. Saat ini, PDI Perjuangan punya beberapa kader yang menjadi kepala daerah di Jawa Timur. Ada duet Eri Cahyadi dan Armuji di Surabaya.







