Jakarta | Sidang kabinet paripurna berlangsung di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada 21 Oktober 2026. Pertemuan tersebut bertepatan dengan genap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momen ini menempatkan agenda kabinet dalam konteks perjalanan pemerintahan sejak pasangan tersebut mulai menjalankan tugasnya pada 2024. Para anggota Kabinet Merah Putih berkumpul di Istana untuk mengikuti sidang yang dipimpin Presiden Prabowo.
Dalam agenda itu, Prabowo mengumpulkan para menteri dan anggota kabinet untuk membahas evaluasi atas seluruh program kerja pemerintah. Sidang kabinet paripurna menjadi forum bagi jajaran pemerintahan untuk meninjau pelaksanaan berbagai program selama dua tahun pertama masa kerja. Pembahasan yang mencakup keseluruhan program pemerintah menunjukkan bahwa pertemuan tersebut disiapkan sebagai agenda evaluasi lintas bidang, dengan para anggota kabinet hadir dalam satu forum resmi di lingkungan Istana Kepresidenan.
Sidang ini juga menandai dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, sehingga perhatian tertuju pada peninjauan terhadap pekerjaan pemerintah sejak awal masa jabatan. Namun, keterangan mengenai agenda evaluasi tidak dengan sendirinya menjelaskan hasil atau kesimpulan yang dicapai dalam pertemuan. Karena itu, sidang tersebut dapat dicatat sebagai forum untuk mengevaluasi program kerja pemerintah, tanpa menyatakan bahwa program tertentu dinilai berhasil, perlu diperbaiki, atau mengalami perubahan. Informasi yang tersedia menegaskan waktu, lokasi, peserta utama, dan tujuan evaluasi, tetapi tidak memuat rincian hasil pembahasan maupun keputusan yang diambil. Dengan demikian, fokus pemberitaan pada peristiwa ini adalah berlangsungnya sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta tepat pada peringatan dua tahun pemerintahan, serta keterlibatan Kabinet Merah Putih dalam agenda evaluasi tersebut.
Halaman kompleks Istana tampak ramai ketika para peserta sidang evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran mulai berdatangan. Kendaraan bergerak memasuki area dan kemudian tersusun di mobil-mobil lain yang telah lebih dahulu terparkir. Aktivitas kedatangan tersebut menghadirkan suasana sibuk, dengan sejumlah kendaraan pejabat menjadi bagian dari pemandangan di sekitar lokasi. Di tengah deretan itu, sebuah Maung berwarna putih terlihat mencolok dan menarik perhatian orang-orang yang berada di halaman.
Maung tersebut merupakan kendaraan produksi dalam negeri. Warna putihnya mudah dikenali di kendaraan dengan bentuk dan warna yang beragam, sementara kehadirannya menunjukkan bahwa kendaraan itu digunakan dalam aktivitas resmi para pejabat. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebutkan siapa yang menaiki atau menggunakan Maung tersebut. Karena itu, pengamatan di lokasi hanya dapat memastikan bahwa kendaraan itu berada di kompleks istana, tanpa mengaitkannya dengan nama atau jabatan tertentu.
Maung putih itu terparkir bersama kendaraan lain, termasuk sejumlah mobil mewah seperti Lexus dan Alphard. Perpaduan kendaraan-kendaraan tersebut membuat halaman istana menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang mengamati kedatangan peserta sidang. Kendaraan produksi lokal itu tampil berdampingan dengan model yang dikenal luas sebagai mobil premium, menciptakan kontras visual yang cukup jelas tanpa perlu mengubah suasana resmi acara. Deretan mobil tersebut juga mencerminkan beragam pilihan kendaraan yang hadir di lokasi.
Kehadiran Maung di tengah kesibukan kedatangan menjadi salah satu detail yang menonjol dari suasana hari itu. Bukan hanya karena tampil berbeda, tetapi juga karena kendaraan buatan Indonesia tersebut tampak di lingkungan kegiatan kenegaraan yang dihadiri para pejabat. Meski demikian, perhatian pada mobil itu tidak mengungkap identitas penggunanya maupun alasan kendaraan tersebut dipilih. Yang terlihat hanyalah Maung berwarna putih terparkir di Lexus, Alphard, dan kendaraan lain saat halaman kompleks istana dipenuhi mobil para peserta.
Daftar pejabat yang hadir mencakup nama dan jabatan berikut. Kehadiran tersebut meliputi para pejabat yang disebutkan dalam daftar ini tersebut. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Pratikno, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, anggota Wantimpres Rocky Gerung, serta Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Usai memberikan keterangan kepada awak media, Rocky membuat gestur simbol love sign ke arah mereka. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu istana, sementara para jurnalis tetap menjalankan tugas peliputan di area kedatangan. Momen singkat tersebut berlangsung di tengah perhatian media terhadap siapa saja yang hadir dalam sidang. Kamera televisi dan kamera foto tampak diarahkan kepada kendaraan serta pejabat yang tiba. Sejumlah awak media juga menggunakan telepon genggam untuk merekam atau mengambil gambar suasana. Perhatian itu menunjukkan bahwa kedatangan peserta dan tamu menjadi bagian penting dari peliputan, terutama ketika sidang berkaitan dengan evaluasi dua tahun pemerintahan. Aktivitas tersebut berlangsung saat kendaraan terus berdatangan ke lokasi.
Pernyataan Rocky tentang keikutsertaannya yang pertama memberi konteks tersendiri bagi kehadirannya di sidang kabinet. Namun, pokok yang ia tekankan adalah urgensi evaluasi setelah dua tahun pemerintahan berjalan. Agenda itu menjadi kesempatan untuk meninjau kembali pelaksanaan pemerintahan dalam periode tersebut, sekaligus memperhatikan berbagai hal yang perlu dinilai. Rocky menyampaikan pandangannya kepada jurnalis sebelum masuk ke istana, tanpa menambahkan keterangan lain yang mengubah makna pernyataannya. Gestur love sign kemudian menutup interaksi singkatnya dengan para peliput di area luar. Di sekitar lokasi, kamera televisi, kamera foto, dan telepon genggam tetap tertuju pada kendaraan maupun pejabat yang datang, merekam rangkaian kedatangan menuju sidang evaluasi Prabowo-Gibran.
Baca juga: dukungan pan terhadap kepemimpinan prabowo | Evaluasi Usulan Perpanjangan Car Free Day di Jakarta: Apakah Efektif Mengurangi Polusi? | Rapat Terbatas Pendidikan Gratis: Kebijakan Baru Prabowo












