banner 728x250

Peringatan AHY soal Kebutuhan Air dan Dampak Lingkungan Pusat Data AI

Peringatan AHY soal Kebutuhan Air dan Dampak Lingkungan Pusat Data AI
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan bahwa perkembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan membawa konsekuensi terhadap kebutuhan sumber daya. Fasilitas tersebut tidak hanya memerlukan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server dan sistem pendingin, tetapi juga membutuhkan air bersih dalam proses operasionalnya. Karena itu, pemanfaatan air harus dihitung secara cermat sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan pusat data.

Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat menghadiri Digital Infrastructure Summit 2026 yang diselenggarakan Biru Muda Project di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, pada Senin, 12 Oktober 2026. Ia menilai, peningkatan kapasitas infrastruktur digital perlu diikuti pemahaman yang menyeluruh mengenai dampak lingkungan. Pusat data AI memang berperan penting dalam mendukung layanan digital, pengolahan informasi, serta berbagai inovasi teknologi, tetapi pembangunannya tidak boleh mengabaikan keterbatasan sumber daya alam.

banner 325x300

AHY menekankan pentingnya efisiensi pemakaian air dalam setiap proyek infrastruktur digital. Perencanaan lokasi, penerapan teknologi pendinginan yang hemat air, pemantauan konsumsi, dan penggunaan kembali air dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Pengelola dan pengembang juga perlu memastikan bahwa kebutuhan fasilitas tidak mengurangi akses masyarakat terhadap air bersih. Menurutnya, pembangunan pusat data harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan warga. Dengan pendekatan itu, transformasi digital dapat berkembang secara berkelanjutan, tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap ketersediaan air maupun ekosistem di sekitar kawasan pembangunan.

AHY menekankan bahwa pembangunan infrastruktur digital perlu dilakukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Pemerataan tersebut penting agar masyarakat, baik di pusat pertumbuhan maupun di daerah yang masih berkembang, memperoleh akses dan peluang yang setara dalam memanfaatkan ekonomi digital. Konektivitas internet, jaringan telekomunikasi, kapasitas komputasi, serta layanan digital yang andal tidak seharusnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Infrastruktur yang menjangkau berbagai daerah akan memperluas kesempatan belajar, bekerja, berwirausaha, dan mengakses layanan publik berbasis teknologi.

Ketimpangan infrastruktur berisiko memperlebar jarak antarwilayah dan antarkelompok masyarakat. Daerah dengan jaringan yang lebih baik cenderung lebih cepat menarik investasi, mengembangkan usaha berbasis teknologi, dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, wilayah yang tertinggal dalam konektivitas dan fasilitas digital dapat semakin sulit mengejar perkembangan tersebut. Pihak yang memiliki akses sekaligus penguasaan terhadap teknologi, termasuk AI, berpotensi memperoleh peluang ekonomi yang lebih besar dibandingkan mereka yang belum memiliki sumber daya dan kemampuan serupa.

Peningkatan adopsi ekonomi digital dan perdagangan elektronik juga mendorong kebutuhan terhadap pusat data di berbagai daerah. Pusat data menjadi fondasi penting untuk menyimpan, mengolah, dan menyalurkan informasi yang mendukung transaksi digital, layanan pemerintahan, industri, serta berbagai aplikasi berbasis AI. Kehadiran fasilitas tersebut secara lebih tersebar dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sejumlah lokasi utama, meningkatkan ketahanan layanan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Menurut gagasan AHY, pengembangan ekosistem digital perlu dipersiapkan dan dilaksanakan secara bersamaan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini mencakup pembangunan jaringan, pusat data, sumber daya manusia, keamanan digital, dan kebijakan yang mendukung inovasi. Dengan pendekatan yang terpadu, pertumbuhan teknologi tidak hanya dinikmati oleh kelompok atau daerah tertentu, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperluas kesempatan dan memperkuat pemerataan pembangunan nasional.

AHY menekankan bahwa pembangunan setiap pusat data perlu memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku. Ketentuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesiapan teknologi, kapasitas fasilitas, atau keandalan operasional, tetapi juga mencakup aturan mengenai dampak lingkungan. Dengan demikian, pembangunan pusat data tidak semestinya dipandang sebagai proyek infrastruktur yang dapat berjalan tanpa mempertimbangkan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Penilaian mengenai kepatuhan suatu proyek, menurut AHY, diserahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan. Pihak berwenang perlu memeriksa apakah fasilitas yang dibangun telah sesuai dengan standar serta ketentuan yang ditetapkan. Pemeriksaan itu penting untuk memastikan bahwa seluruh persyaratan telah dipenuhi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan, terutama ketika kegiatan pusat data berpotensi menggunakan sumber daya alam dalam jumlah besar.

Perhatian terhadap pemakaian air menjadi bagian penting dalam pembahasan tersebut. Efisiensi penggunaan air bukan sekadar persoalan operasional yang menentukan biaya atau kinerja sebuah pusat data. Pengelolaan air juga berkaitan langsung dengan perlindungan lingkungan, keberlanjutan sumber daya, dan kemampuan masyarakat untuk tetap memperoleh kebutuhan dasar. Apabila kebutuhan fasilitas meningkat tanpa pengelolaan yang memadai, tekanan terhadap ketersediaan air dapat berdampak lebih luas pada lingkungan dan kehidupan warga.

Karena itu, kepatuhan terhadap standar lingkungan perlu ditempatkan sebagai unsur utama dalam pembangunan pusat data. Setiap rencana fasilitas harus memperhatikan dampak penggunaan air serta memastikan bahwa pengoperasiannya tidak mengganggu kebutuhan dasar masyarakat. Penilaian oleh pihak yang berwenang diperlukan agar kesesuaian proyek dengan ketentuan dapat dipastikan secara objektif, sekaligus menjaga agar perkembangan pusat data tetap berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.

AHY menyebut Indonesia memiliki sejumlah bendungan dan reservoir yang dapat mendukung kebutuhan air bagi rumah tangga maupun berbagai kegiatan industri. Infrastruktur tersebut menjadi modal penting untuk menjaga ketersediaan air di tengah pertumbuhan penduduk, ekspansi kawasan perkotaan, dan perkembangan sektor ekonomi digital. Pusat data yang menopang layanan kecerdasan artifisial dan berbagai platform digital juga memerlukan air, terutama untuk membantu proses pendinginan peralatan dan menjaga keandalan operasionalnya.

Karena itu, menurut AHY, perencanaan infrastruktur air perlu memperhitungkan kebutuhan pusat data sejak tahap awal. Pembangunan bendungan, reservoir, jaringan distribusi, serta fasilitas pengolahan air harus dirancang berdasarkan proyeksi kebutuhan jangka panjang. Pendekatan tersebut diperlukan agar pertumbuhan industri digital dapat berlangsung tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap sumber daya air di wilayah sekitarnya. Perencanaan juga perlu mempertimbangkan kapasitas lingkungan, kondisi hidrologis, dan potensi peningkatan kebutuhan pada masa mendatang.

Meski demikian, pemanfaatan air untuk industri tidak boleh mengesampingkan kepentingan masyarakat. Kebutuhan rumah tangga harus tetap menjadi prioritas, disertai jaminan pasokan untuk pertanian dan peternakan. Keseimbangan ekosistem pun perlu dijaga karena sungai, danau, lahan basah, serta kawasan resapan memiliki fungsi penting bagi keberlanjutan sumber air. Pengambilan air yang melampaui daya dukung lingkungan berisiko memperbesar kekeringan, mengurangi produktivitas pangan, dan memicu persaingan antar pengguna.

AHY juga mengingatkan pentingnya mencegah pencemaran serta penggunaan air yang tidak efisien. Industri, termasuk pusat data, perlu menerapkan teknologi hemat air, mengolah limbah sesuai standar, dan memantau dampak operasionalnya secara transparan. Ketahanan air bersih, menurut pandangannya, harus diperhatikan bersamaan dengan ketahanan pangan dan energi. Ia menilai persoalan air bukan hanya tantangan nasional, melainkan isu dunia yang pada masa depan berpotensi menjadi sumber konflik antarnegara apabila tidak dikelola melalui kerja sama, perencanaan, dan tata kelola yang bertanggung jawab.

Baca juga: Dampak Musim Kemarau terhadap Setu Cilodong dan Lingkungan Sekitarnya | DANREM 091/ASN DIDAMPINGI DANDIM 0901/SAMARINDA PASTIKAN KEBUTUHAN AIR BERSIH SISWA SEKOLAH RAKYAT TERPENUHI | Wujudkan Lingkungan Sehat, Babinsa Sumberdiren Ajak Warga Garum Gotong Royong Jumat Bersih

banner 325x300