JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Timnas Indonesia menorehkan pencapaian bersejarah dengan menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026. Gelar tersebut diraih setelah Indonesia menundukkan Thailand dalam partai final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10). Pertandingan berjalan ketat hingga waktu normal berakhir, sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Dalam drama dari titik putih tersebut, Indonesia tampil lebih tenang dan berhasil mengamankan kemenangan dengan skor 4-2. Hasil itu memastikan trofi FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi milik skuad Garuda sekaligus memperkuat momentum positif sepak bola nasional di level regional. Timnas Indonesia dalam turnamen ini ditangani John Herdman, yang membawa pendekatan taktik dan persiapan tersendiri sepanjang kompetisi.
Keberhasilan tersebut juga menyoroti kontribusi para pemain Persija Jakarta yang masuk dalam skuad juara. Kehadiran lima penggawa klub ibu kota menjadi perhatian, terutama ketika pembahasan beralih pada porsi penampilan mereka selama turnamen. Tidak seluruh pemain mendapatkan kesempatan bermain dalam jumlah besar, sehingga catatan menit bermain menjadi salah satu isu yang muncul setelah Indonesia memastikan gelar.
Perbincangan mengenai minimnya menit bermain itu tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan tim dalam setiap pertandingan. Pelatih memiliki pertimbangan terkait strategi, kondisi pemain, serta situasi pertandingan ketika menentukan susunan utama dan pergantian pemain. Karena itu, status sebagai bagian dari skuad juara tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya menit di lapangan.
Isu tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Shin Tae Yong. Pernyataan itu menambah sudut pandang dalam menilai keterlibatan pemain Persija di balik keberhasilan Timnas Indonesia. Selain merayakan kemenangan atas Thailand, perhatian publik pun tertuju pada bagaimana setiap pemain berkontribusi, baik melalui penampilan langsung maupun perannya dalam persiapan tim. Sorotan terhadap menit bermain lima penggawa Persija selanjutnya menjadi bagian penting untuk memahami perjalanan Indonesia hingga mengangkat trofi di hadapan pendukungnya sendiri.
Lima pemain Persija Jakarta tercatat menjadi bagian dari skuad tim nasional dalam rangkaian turnamen yang dibahas. Kelima nama tersebut adalah Rizky Ridho, Shayne Pattynama, Rayhan Hannan, Jordi Amat, dan Nadeo Argawinata. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Persija menyumbangkan lima penggawa dalam daftar pemain tim nasional, meskipun catatan menit bermain setiap pemain tidak sama.
Dari lima pemain tersebut, Rizky Ridho menjadi salah satu pemain yang diturunkan oleh John Herdman selama turnamen. Namanya termasuk dalam catatan pemain Persija yang memperoleh kesempatan bermain pada pertandingan-pertandingan yang dibahas. Fakta tersebut menempatkan Rizky sebagai bagian dari tiga penggawa klub yang tampil di lapangan dalam rangkaian turnamen tersebut.
Rayhan Hannan juga dimainkan oleh John Herdman. Seperti Rizky Ridho, Rayhan tercatat tampil dalam pertandingan yang menjadi pembahasan. Shayne Pattynama melengkapi daftar pemain Persija yang mendapatkan kesempatan bermain selama turnamen. Dengan demikian, terdapat tiga pemain Persija yang benar-benar diturunkan, yaitu Rizky Ridho, Rayhan Hannan, dan Shayne Pattynama.
Dua nama lainnya, Jordi Amat dan Nadeo Argawinata, tetap tercantum sebagai bagian dari lima pemain Persija yang masuk skuad tim nasional. Namun, dalam rangkaian pertandingan yang dibahas, keduanya tidak disebut tampil. Catatan ini membedakan status mereka dari tiga pemain lain yang dimainkan oleh John Herdman, tanpa mengubah fakta bahwa kelimanya berada dalam skuad yang sama.
Komposisi tersebut memperlihatkan perbedaan jumlah pemain yang masuk skuad dan jumlah pemain yang memperoleh menit bermain. Persija memiliki lima wakil dalam tim nasional, tetapi catatan penampilan selama turnamen hanya mencakup Rizky Ridho, Rayhan Hannan, dan Shayne Pattynama. Sementara itu, Jordi Amat serta Nadeo Argawinata tidak disebut tampil dalam pertandingan yang menjadi bagian dari pembahasan.
Rizky Ridho menjadi pemain Persija dengan menit bermain paling banyak dalam perjalanan Timnas Indonesia meraih keberhasilan di turnamen tersebut. Ia tampil dalam empat pertandingan dengan total waktu 139 menit. Rinciannya, Ridho bermain selama 11 menit ketika Indonesia menghadapi Singapura, kemudian 8 menit saat melawan Malaysia. Kesempatan bermainnya meningkat secara signifikan pada dua laga berikutnya. Ia tampil selama 60 menit ketika berjumpa Bangladesh dan kembali mencatatkan 60 menit saat Indonesia menghadapi Thailand. Perincian ini menunjukkan bahwa Ridho memperoleh peran yang lebih besar pada pertandingan-pertandingan penting, terutama ketika tim membutuhkan kestabilan permainan di lini pertahanan.
Rayhan Hannan menempati urutan berikutnya dengan total 26 menit bermain. Pemain muda tersebut mendapat kesempatan tampil selama 15 menit pada pertandingan melawan Singapura. Setelah itu, ia kembali dimainkan selama 11 menit ketika Indonesia berhadapan dengan Thailand. Meskipun jumlah penampilannya tidak sebesar Ridho, kehadiran Hannan tetap menjadi bagian dari pilihan pelatih dalam menjalankan strategi pertandingan. Setiap menit yang diberikan mencerminkan kontribusinya sebagai bagian dari skuad, termasuk ketika tim harus menjaga keseimbangan permainan dan mempertahankan keunggulan.
Sementara itu, Shayne Pattynama mencatatkan waktu bermain paling singkat di ketiga pemain tersebut. Ia hanya tampil selama 19 menit, seluruhnya terjadi pada pertandingan final menghadapi Thailand. Durasi tersebut memang terbatas, tetapi tetap menempatkan Pattynama sebagai bagian dari perjalanan tim menuju gelar juara. Perbedaan jumlah menit bermain ketiganya memperlihatkan bahwa kontribusi dalam sebuah turnamen tidak selalu diukur dari lamanya berada di lapangan. Ridho, Hannan, dan Pattynama tetap menjalankan peran masing-masing sesuai kebutuhan pertandingan. Ketiganya juga menunjukkan bahwa pemain yang masuk dalam skuad juara dapat memberikan dukungan melalui kesiapan, kedisiplinan, dan kontribusi pada momen yang ditentukan oleh pelatih.
Shin Tae Yong memberikan penjelasan mengenai penampilan para pemain Persija yang memperkuat Timnas Indonesia selama FIFA ASEAN Cup. Saat ditemui wartawan di Persija Training Ground, Depok, Rabu (7/10), ia menyebut penilaian terhadap performa mereka belum dapat dilakukan secara menyeluruh. Pasalnya, sebagian besar pemain tersebut lebih sering berada di bangku cadangan dan tidak memperoleh waktu bermain yang cukup di lapangan.
Menurut Shin, kondisi itu membuat kesempatan untuk mengukur kemampuan setiap pemain menjadi terbatas. Seorang pemain yang jarang tampil tidak bisa langsung dinilai hanya berdasarkan beberapa menit yang diberikan kepadanya. Pelatih membutuhkan waktu bermain yang lebih memadai untuk melihat kemampuan, pemahaman terhadap permainan, serta kontribusi pemain dalam situasi pertandingan yang berbeda.
Shin secara khusus menyinggung Hannan, yang hanya mendapat kesempatan bermain dalam waktu singkat. Ia menggambarkan bahwa Hannan baru mulai menemukan ritme ketika pertandingan sudah hampir berakhir. Dengan durasi bermain yang sangat terbatas, pemain bahkan belum sepenuhnya menyesuaikan pernapasan dan kondisi tubuhnya, tetapi laga sudah harus dihentikan. Situasi tersebut membuat penilaian terhadap penampilannya menjadi sulit dilakukan.
Ia juga menjelaskan bahwa pemain yang baru masuk sekitar 10 menit sebelum pertandingan berakhir menghadapi tantangan yang berat. Tubuh mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tempo permainan, tekanan pertandingan, dan tuntutan fisik setelah lama berada di bangku cadangan. Ketika proses penyesuaian itu baru dimulai, waktu pertandingan justru segera habis. Karena itu, Shin memandang kesempatan singkat semacam tersebut belum cukup untuk menunjukkan kemampuan pemain secara utuh.







