banner 728x250

Asap Karhutla Menyelimuti Palembang, Jarak Pandang Anjlok hingga 400 Meter

Asap Karhutla Menyelimuti Palembang, Jarak Pandang Anjlok hingga 400 Meter
banner 120x600
banner 468x60

KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kondisi tersebut menjadi gambaran utama situasi di wilayah itu, setelah lapisan asap terlihat bertahan sejak pagi hingga sore hari. Keberadaan kabut asap membuat suasana di Palembang tampak tertutup oleh selimut asap sepanjang periode tersebut.

Sejak pagi, kabut asap telah terlihat di berbagai bagian Kota Palembang dan belum beranjak hingga memasuki sore. Situasi ini menunjukkan bahwa paparan asap masih berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang pada hari yang sama. Jarak pandang di wilayah tersebut bahkan anjlok hingga sekitar 400 meter, sehingga kondisi kabut asap terlihat semakin jelas.

banner 325x300

Perubahan jarak pandang menjadi salah satu gambaran penting dari situasi Palembang pada Kamis itu. Asap yang menyelimuti kota tidak hanya muncul sesaat, tetapi bertahan dari pagi sampai sore. Dengan jarak pandang yang turun hingga 400 meter, Palembang berada dalam kondisi yang dipengaruhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

Keadaan tersebut menempatkan kabut asap sebagai peristiwa utama yang berlangsung di Kota Palembang pada 8 Oktober 2026. Dari pagi hingga sore, selimut asap masih menutupi wilayah kota dan membatasi jarak pandang. Situasi ini memperlihatkan bahwa kabut asap karhutla masih menjadi gambaran menonjol di Palembang pada hari tersebut, dengan jarak pandang tercatat anjlok hingga 400 meter.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sejumlah wilayah di Palembang. Kondisi tersebut terlihat cukup pekat dan secara langsung mengganggu aktivitas masyarakat, terutama kegiatan yang berlangsung di luar ruangan. Pemandangan di sekitar lingkungan warga tampak tertutup lapisan asap, sehingga suasana kota terlihat lebih redup dibandingkan biasanya.

Jarak pandang yang anjlok hingga sekitar 400 meter turut memengaruhi mobilitas warga. Ruang pandang yang terbatas membuat kegiatan di luar rumah tidak berlangsung senormal biasanya. Warga yang tetap beraktivitas di luar terlihat harus berhadapan dengan kondisi udara yang dipenuhi asap. Kendaraan dan orang yang melintas tampak berada di tengah kabut tipis hingga pekat, bergantung pada kepadatan asap di lokasi masing-masing.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah warga terlihat mengenakan masker ketika berada di luar rumah. Penggunaan masker menjadi pemandangan yang tampak dalam aktivitas warga di kawasan yang diselimuti asap. Mereka tetap menjalankan keperluan masing-masing, tetapi suasana di lapangan menunjukkan bahwa kabut asap telah memengaruhi kenyamanan kegiatan sehari-hari.

Aktivitas masyarakat pun berlangsung dalam kondisi jarak pandang yang terbatas. Asap yang menyelimuti kawasan membuat lingkungan sekitar sulit terlihat dengan jelas dari kejauhan. Kondisi ini menjadi gambaran langsung dampak kabut asap karhutla terhadap kehidupan warga Palembang, khususnya pada kegiatan yang mengharuskan mereka berada di luar rumah. Sejumlah warga yang melintas dengan mengenakan masker memperlihatkan bahwa keberadaan asap pekat tidak hanya terlihat dari perubahan suasana kota, tetapi juga dari cara masyarakat beraktivitas di lapangan. Dengan pandangan yang terbatas dan udara yang dipenuhi asap, kegiatan warga berjalan di tengah kondisi yang berbeda dari hari-hari biasa.

Penurunan jarak pandang akibat asap kebakaran hutan dan lahan turut memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Pada Kamis, jarak pandang di wilayah Palembang sempat anjlok hingga sekitar 400 meter. Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi karena jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan proses pendaratan maupun keberangkatan pesawat.

Sejumlah penerbangan mengalami penundaan sebagai dampak dari kondisi atmosfer tersebut. Keputusan untuk menunda penerbangan diambil dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan penumpang, awak pesawat, serta petugas bandara. Dalam situasi jarak pandang rendah, maskapai dan pengelola bandara perlu menyesuaikan operasional dengan perkembangan cuaca dan informasi meteorologi sebelum penerbangan dilanjutkan.

Gangguan terhadap jadwal penerbangan itu juga terjadi sehari sebelumnya. Tercatat tiga penerbangan sipil mengalami gangguan, baik pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan. Gangguan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat di darat, tetapi juga dapat memengaruhi kelancaran konektivitas udara dari dan menuju Palembang.

Perubahan jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam penentuan kelayakan operasional penerbangan. Karena itu, kondisi di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II terus dipantau seiring perubahan konsentrasi asap dan cuaca. Penumpang diimbau memperhatikan informasi terbaru dari maskapai atau pihak bandara terkait jadwal penerbangan mereka. Langkah tersebut diperlukan agar penumpang dapat mengantisipasi kemungkinan penyesuaian waktu perjalanan tanpa mengabaikan prosedur keselamatan yang berlaku.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 7 Oktober 2026, Sumatera Selatan tercatat memiliki 354 titik panas atau hot spot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Angka tersebut menjadi bagian dari pencatatan kondisi kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut pada tanggal yang sama.

Selain titik panas, data BNPB juga mencatat masih terdapat 92 titik api di Sumatera Selatan. Titik-titik api tersebut tercatat membakar lahan dengan luas keseluruhan mencapai 390,61 hektare. Data itu disajikan berdasarkan catatan kebakaran yang tersedia hingga 7 Oktober 2026.

Dengan demikian, catatan per 7 Oktober 2026 memuat dua indikator utama, yakni 354 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi serta 92 titik api yang berkaitan dengan lahan terbakar seluas 390,61 hektare. Penyebutan jumlah titik panas, titik api, dan luas lahan tersebut mengikuti data BNPB tanpa perubahan pada satuan maupun angka yang dilaporkan.

banner 325x300