JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Bahkan dalam catatannya, ada peserta HYROX yang meninggal akibat heat stroke di Prancis dan peserta lain yang meninggal di Bangkok. Untuk mencapai finis dalam kategori ini, biasanya atlet membutuhkan waktu lebih dari satu jam.
Keterangan yang tercatat menyebut Dokter spesialis kedokteran olahraga Antonius Andi Kurniawan, yang menjadi koordinator medis HYROX Indonesia, mengatakan timnya pernah menangani peserta yang mengalami heat stroke di ruangan ber-AC dan peserta lain yang mengalami henti jantung. Jadi, menurut saya, yang berperan faktor internal, misalnya dehidrasi, kurang minum, atau kondisi tubuh yang kurang fit. Tapi menurut saya keselamatan lebih penting daripada budaya.
Data lain dalam laporan menunjukkan Hanya peserta dengan kecepatan sangat tinggi yang dapat menyelesaikan olahraga ini dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Dalam podcast Kueri yang tayang di kanal YouTube TirtoID pada 25 September 2026, Andi menjelaskan risiko medis HYROX dan cara mengantisipasinya. Kardio membuat jantung lebih sehat, sehingga risiko penyakit jantung di kemudian hari kecil. Kalau suhunya di atas 22 derajat Celsius, mereka minta ruangan didinginkan lagi. Tapi panas yang dihasilkan tubuh sendiri bisa meningkat sampai lebih dari 40 derajat, sehingga terjadi heat stroke.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Tren olahraga hibrida HYROX yang kian populer di Indonesia ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang disadari para pegiat kebugaran. Olahraga hibrida yang memadukan lari dan latihan beban ini menyimpan risiko kesehatan, mulai dari fenomena kolaps akibat heat stroke di ruangan ber-AC hingga risiko henti jantung mendadak. Secara umum, HYROX terbagi dalam tiga kategori, yakni single, double, dan pro. Di dalamnya ada komponen lari, endurance, aerobik, dan kekuatan. Jadi, lari dikombinasikan dengan beberapa station yang berisi olahraga kekuatan.
Dalam kategori pro, beban saat olahraga akan lebih berat. Beban tinggi dalam olahraga ini membuatnya tidak terlepas dari ancaman darurat medis. Dalam dua kasus yang ditanganinya itu, kedua pasien tertolong. Fitness, Pilates, HYROX: Mengapa Olahraga Jadi "The New FOMO"? Andi menekankan, ancaman darurat medis dalam berolahraga tidak dapat disepelekan. Andi berpraktik di Klinik Utama Eminence, RS Siloam Mampang, dan RS Carolus Salemba. Ia juga dokter Tim Nasional Angkat Besi Indonesia serta direktur medis sejumlah event lari, seperti Jakarta Running Festival dan Borobudur Marathon. ION WATER Dukung AirAsia HYROX Jakarta Perkuat Ekosistem FitnessApa Itu HYROX: Mengenal Olahraga dan Peluang Cuannya Apa manfaat HYROX bagi kesehatan? Memang benar belum banyak riset. Waktu saya lolos seleksi menjadi koordinator medis HYROX Indonesia, saya mencari riset soal cedera dan masalah kesehatan yang paling sering terjadi, tapi tidak ada. Yang ada hanya satu atau dua riset tentang karakteristik fisik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan HYROX. Pesertanya harus punya endurance yang bagus, artinya fungsi jantung terlatih, dan juga kekuatan otot yang bagus. Kalau bicara gaya hidup sehat, kita memang harus latihan kardio dan kekuatan otot. Latihan kekuatan membuat kita tidak mudah cedera dan mencegah sarkopenia, osteoartritis, serta osteoporosis. HYROX mewakili dua-duanya, asal dilakukan dengan baik. FOTO/iStockphoto Bagaimana heat stroke bisa terjadi di ruangan ber-AC? Panitia punya standar suhu ruangan. Kalau suhu inti tubuh lebih dari 40 derajat, itu bisa terjadi heat stroke, dan itu bisa menjadi kelainan otak. Di maraton ada faktor eksternal dan internal. Di HYROX, faktor eksternalnya hampir tidak ada karena suhunya dingin. Intensitas tinggi yang dikombinasikan dengan gerakan kekuatan juga memicu panas tubuh. Bagaimana penanganan awal heat stroke?Cooling, cooling, cooling. Bagaimana caranya menurunkan suhu tubuh secepat mungkin. Di Jakarta Running Festival biasanya kami guyur es atau pakai handuk es. Di HYROX, atlet dicelupkan ke kolam es di sebelah tempat tidur. Sebelumnya kami pasang pemantau suhu rektal, dan suhunya harus turun sampai di bawah 38 derajat. Awalnya saya pakai suhu telinga, tapi mereka bilang itu tidak valid. Suhu 37 bisa saja sebenarnya 38 atau 39. Waktu kami pakai suhu rektal, suhu atlet itu 42 derajat. Begitu dicelupkan, suhunya turun terus, 41,8, 41,6, lalu akhirnya dia sadar. Saya sempat berpikir di Indonesia ini kurang etis. Apa pemicu henti jantung pada atlet? Pertama, penyakit jantung koroner atau penyempitan pembuluh darah. Biasanya terjadi pada usia di atas 40 atau 45 tahun. Intensitas dan bebannya terlalu tinggi untuk jantungnya. Orang dengan penyakit jantung, hipertensi, atau kolesterol memang harus berolahraga, tapi bukan maraton atau olahraga berintensitas tinggi. Kedua, penebalan otot jantung atau hipertrofi kardiomiopati, yang bisa mengganggu kelistrikan jantung sehingga terjadi sudden cardiac arrest. Sudden cardiac arrest bisa terjadi pada siapa saja, atlet yang fit maupun tidak. Tapi risikonya tinggi ketika seseorang berolahraga melebihi kapasitasnya dan tidak mendengarkan sinyal tubuh, misalnya denyut jantung. Dari HYROX saya belajar, kalau ada peserta kolaps, kami langsung memasang pad AED, bukan EKG dulu. Peserta yang kami tangani awalnya hanya muntah-muntah dan pusing. Di tenda medis dia mulai hilang kesadaran, alatnya merekomendasikan kejut listrik, lalu langsung kami tekan. Berapa batas denyut jantung yang aman saat HYROX? Ada penelitiannya, peserta HYROX bisa mencapai 90 sampai 100 persen dari denyut jantung maksimal. Rumus denyut jantung maksimal adalah 220 dikurangi umur. Kalau umurnya 40, berarti 180. Tapi itu sebenarnya batas untuk atlet. Untuk orang biasa, 50 sampai 70 persen sudah cukup. Kalau sudah terlatih, bisa 80 sampai 90 persen. Mengapa peserta bisa diare saat berolahraga? Istilahnya exercise-induced gastrointestinal syndrome. Saat berolahraga, darah mengalir ke otot, sementara aliran ke pencernaan berkurang sehingga stabilitas pencernaan menurun. Kedua, mekanik, yaitu goncangan yang membuat usus lebih aktif. Di HYROX ada gerakan squat dan lompat, jadi rangsangannya lebih besar. Stres membuat pencernaan ikut terganggu. Soal makanan, sangat berpengaruh. Setiap orang punya kebiasaan pencernaan berbeda, jadi pencernaan juga perlu dilatih. Aturannya, jangan mencoba makanan baru menjelang race, apalagi yang pedas. Kalau biasa makan roti, ya makan roti. View this post on InstagramA post shared by (@tirtoid) Apakah ada pemeriksaan kesehatan sebelum race? Di event olahraga, medical check-up untuk semua peserta itu sulit. Kalau pesertanya 12.000, tidak mungkin masing-masing diminta. Tapi saat mendaftar pasti ada pertanyaan apakah peserta sehat, pernah dilarang dokter berolahraga, atau punya masalah jantung, sendi, dan otot. Itu berdasarkan kejujuran peserta. Kalaupun ada event yang mewajibkan surat dokter, orang akan cari dokter mana saja untuk meminta surat sehat.










