banner 728x250

Bayi Alena Kritis Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

Bayi Alena Kritis Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Alena, bayi yang baru berusia 24 hari, dilaporkan berada dalam kondisi kritis setelah sebelumnya diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Informasi mengenai peristiwa tersebut menjadi perhatian publik karena kondisi bayi memburuk dan memerlukan penanganan medis secara intensif. Namun, dugaan pemberian telur mentah tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti memburuknya kondisi Alena. Hubungan sebab-akibatnya masih memerlukan penjelasan dan pemeriksaan medis yang lengkap.

Alena menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sejak Jumat (9/10). Dalam proses perawatan, bayi tersebut ditempatkan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu unit khusus untuk pasien bayi baru lahir atau neonatus yang membutuhkan pemantauan ketat serta dukungan medis intensif. Perawatan di NICU memungkinkan tim kesehatan mengawasi kondisi vital bayi secara berkelanjutan dan memberikan tindakan sesuai kebutuhan klinisnya.

banner 325x300

Kabar mengenai kondisi Alena beredar melalui unggahan di media sosial. Sejumlah informasi yang dibagikan menyebutkan bahwa bayi tersebut kemudian meninggal dunia setelah menjalani perawatan. Meski demikian, informasi dari media sosial perlu disikapi secara hati-hati sampai terdapat keterangan resmi dari pihak rumah sakit, keluarga, atau otoritas terkait. Detail mengenai perkembangan kesehatan Alena, termasuk penyebab kondisi kritisnya, tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan urutan peristiwa yang beredar.

Pemberian makanan atau minuman tertentu kepada bayi berusia kurang dari enam bulan juga perlu menjadi perhatian. Pada usia tersebut, kebutuhan bayi umumnya dipenuhi melalui ASI atau susu yang sesuai anjuran tenaga kesehatan. Setiap tindakan pemberian makanan tambahan, terutama bahan mentah, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Dalam kasus Alena, fakta mengenai dugaan telur mentah dan kabar meninggalnya bayi merupakan bagian dari informasi yang masih perlu dikonfirmasi melalui sumber tepercaya.

Informasi mengenai kondisi Alena sebelum menjalani perawatan di rumah sakit beredar melalui media sosial. Dalam informasi tersebut, bayi Alena disebut mengalami demam. Kondisi itu kemudian dikaitkan dengan dugaan pemberian telur mentah oleh nenek dari pihak ayah. Pemberian telur mentah tersebut disebut dilakukan dengan alasan untuk membantu menurunkan demam yang dialami Alena.

Setelah diduga diberi telur mentah, kondisi Alena dilaporkan memburuk. Keadaan tersebut kemudian disebut membuat bayi itu memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Namun, informasi yang beredar tidak menjelaskan secara terperinci mengenai kondisi medis Alena, pemeriksaan yang dilakukan, maupun penanganan yang diterimanya. Karena itu, rangkaian kejadian tersebut perlu dipahami sebagai kabar yang masih bersumber dari unggahan dan percakapan di media sosial.

Kabar mengenai meninggalnya Alena juga diketahui dari unggahan seseorang yang mengaku sebagai bibinya. Pengunggah tersebut disebut merupakan saudara kandung dari ibu Alena. Melalui unggahan itu, informasi tentang kondisi terakhir dan kabar duka bayi tersebut kemudian diketahui oleh publik.

Hingga informasi tersebut menjadi perhatian, kronologi mengenai demam, dugaan pemberian telur mentah, memburuknya kondisi, hingga perawatan di rumah sakit masih disampaikan berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Demikian pula kabar meninggalnya Alena berasal dari unggahan pihak yang mengaku memiliki hubungan keluarga dengan bayi tersebut. Oleh sebab itu, setiap detail dalam kronologi ini perlu diperlakukan secara hati-hati dan tidak dipahami sebagai keterangan medis atau pernyataan resmi, kecuali telah dikonfirmasi oleh pihak yang berwenang maupun keluarga secara langsung. Uraian yang beredar hanya menggambarkan dugaan urutan peristiwa sebagaimana disampaikan dalam unggahan tersebut, tanpa menambahkan waktu atau kejadian lain di luar bahan informasi yang tersedia.

Spesialis anak dr Denta Satria Kurniawan, SpA, menjelaskan bahwa organ bayi baru lahir belum siap menerima makanan selain air susu ibu (ASI). Saluran cerna, ginjal, dan sistem kekebalan tubuhnya masih dalam tahap pematangan. Kondisi tersebut membuat bayi lebih rentan mengalami gangguan ketika diberi bahan makanan seperti pisang, bubur, atau telur, termasuk telur yang masih mentah.

Kemampuan menelan bayi juga belum sempurna. Koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas masih berkembang, sehingga makanan dapat tersedak atau masuk ke saluran napas. Masuknya makanan ke saluran pernapasan berpotensi menyebabkan batuk berat, sesak, infeksi, bahkan gangguan yang memerlukan penanganan segera. Risiko ini semakin besar jika tekstur, jumlah, dan cara pemberian makanan tidak sesuai dengan perkembangan bayi.

Selain masalah tersedak, pemberian makanan terlalu dini dapat memicu muntah, perut kembung, diare, infeksi, serta reaksi alergi. Sistem pencernaan dan daya tahan tubuh yang belum matang membuat bayi belum mampu mengolah atau menghadapi berbagai komponen dalam makanan secara optimal. Pada bayi yang sangat kecil, muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dalam waktu singkat, sehingga berkembang menjadi dehidrasi dan keadaan yang mengancam nyawa.

Makanan selain ASI juga berisiko menyebabkan kurang gizi apabila menggantikan asupan ASI. ASI dinilai lebih sesuai bagi kebutuhan bayi dan mengandung zat gizi serta antibodi yang membantu mendukung pertumbuhan dan perlindungan terhadap infeksi. Karena itu, pemberian makanan kepada bayi perlu mengikuti usia dan kesiapan perkembangannya, serta dilakukan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan. Jika bayi mengalami tersedak, muntah berulang, diare, sesak, atau tampak lemas setelah diberi makanan, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.

Menurut dr Denta saat dihubungi pada Senin (12/10/2026), telur mentah memiliki risiko kesehatan karena dapat terkontaminasi bakteri. Kontaminasi tersebut tidak hanya mungkin terjadi pada permukaan cangkang, tetapi juga pada bagian dalam telur. Karena itu, telur yang dikonsumsi tanpa proses pemasakan yang memadai berpotensi membawa mikroorganisme penyebab infeksi ke dalam tubuh, terutama pada kelompok yang sistem kekebalannya belum berkembang secara optimal.

Salah satu bakteri yang perlu diwaspadai adalah Salmonella. Pada anak yang lebih besar, infeksi bakteri ini umumnya dapat menimbulkan gangguan saluran pencernaan, termasuk diare. Namun, kondisi tersebut dapat berbeda pada bayi baru lahir. Daya tahan tubuh bayi yang masih sangat rendah membuat infeksi lebih mudah berkembang dan menyebar, sehingga risikonya tidak terbatas pada keluhan pencernaan ringan.

Pada bayi baru lahir, infeksi Salmonella dapat berkembang menjadi kondisi berat, seperti sepsis atau radang selaput otak. Muntah dan diare juga dapat menyebabkan bayi kehilangan cairan dalam waktu relatif cepat. Dehidrasi pada usia tersebut perlu diwaspadai karena dapat memperburuk kondisi tubuh dan membuat infeksi berpotensi berakibat fatal. Bayi memiliki cadangan cairan yang terbatas, sehingga kehilangan cairan berulang dapat menjadi persoalan serius.

Risiko telur mentah tidak hanya berkaitan dengan kontaminasi bakteri. Dr Denta juga menjelaskan bahwa telur termasuk makanan yang cukup sering memicu alergi. Reaksi alergi dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi atau terpapar bahan makanan tertentu, dengan tingkat reaksi yang dapat berbeda pada setiap individu. Pada bayi, informasi mengenai pemberian makanan tetap perlu diperhatikan, khususnya ketika makanan tersebut diberikan dalam keadaan mentah.

banner 325x300