banner 728x250

BNPB Kerahkan 2,4 Ton Dry Ice untuk Bantu Penanganan Karhutla Sumsel

BNPB Kerahkan 2,4 Ton Dry Ice untuk Bantu Penanganan Karhutla Sumsel
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan 2,4 ton dry ice dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan dampak kebakaran yang masih menimbulkan asap di sejumlah wilayah. Melalui operasi ini, BNPB berupaya memicu pembentukan hujan agar kondisi atmosfer dan wilayah terdampak dapat terbantu, terutama ketika asap menyebar dan mengganggu kegiatan masyarakat. Penggunaan dry ice menjadi salah satu bahan dalam penerbangan operasi modifikasi cuaca, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi awan serta peluang terjadinya hujan. Langkah ini tidak berarti sumber kebakaran otomatis padam, sehingga penanganan karhutla tetap memerlukan pemadaman dan pemantauan di lapangan.

Operasi tersebut menjadi penting karena asap karhutla masih mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Keberadaan asap dapat mengurangi jarak pandang dan memengaruhi kelancaran operasional penerbangan, sehingga kondisi cuaca serta kualitas udara di sekitar bandara terus menjadi perhatian. Gangguan yang berlangsung menunjukkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan di area kebakaran, tetapi juga berpotensi merembet ke layanan transportasi dan kegiatan warga. Karena itu, upaya mengurangi asap dan mendukung penanganan kebakaran dibutuhkan secara terkoordinasi. BNPB menjalankan modifikasi cuaca untuk membantu menciptakan hujan, namun kondisi penerbangan tetap bergantung pada perkembangan cuaca dan tingkat jarak pandang yang berlaku.

banner 325x300

Pengerahan dry ice tersebut merupakan langkah dukungan terhadap penanganan karhutla di Sumatra Selatan, bukan pernyataan bahwa gangguan di bandara telah sepenuhnya teratasi. Selama asap masih memengaruhi jarak pandang, aktivitas penerbangan dapat menghadapi kendala dan perlu mengikuti penilaian keselamatan serta ketentuan operasional. Informasi mengenai dampak kebakaran dan perkembangan cuaca menjadi penting bagi masyarakat, penumpang, maupun pengelola layanan transportasi. Penumpang yang akan bepergian melalui Palembang dapat memeriksa informasi terbaru dari maskapai dan pihak bandara sebelum berangkat. Di sisi penanganan, operasi modifikasi cuaca berjalan sebagai salah satu upaya untuk membantu mengurangi dampak asap, sementara pemadaman karhutla dan pemantauan kondisi tetap diperlukan. Perkembangan situasi di wilayah terdampak akan menentukan langkah berikutnya.

Operasi modifikasi cuaca untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan berlangsung selama dua hari, pada 15–16 Oktober 2026. Dalam periode tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan pesawat untuk menjalankan misi penyemaian bahan ke atmosfer. Pesawat diberangkatkan dari Bandara Raden Inten II, Bandar Lampung, sebagai titik keberangkatan operasi. Rentang pelaksanaan itu menjadi dasar pencatatan penggunaan bahan dan durasi penerbangan dalam kegiatan bantuan penanganan karhutla.

Selama dua hari operasi, BNPB menggunakan total 2,4 ton dry ice. Bahan tersebut diterbangkan dalam tiga sorti, dengan akumulasi waktu terbang mencapai 7 jam 3 menit. Angka itu menggambarkan keseluruhan kegiatan penerbangan yang dilaksanakan dalam rangkaian misi pada 15 dan 16 Oktober, bukan jumlah satu sorti saja. Informasi mengenai jumlah dry ice, banyaknya sorti, serta total durasi penerbangan disampaikan oleh Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Pelaksanaan dalam beberapa sorti memungkinkan kegiatan berlangsung sebagai rangkaian penerbangan selama masa operasi. Setiap sorti merupakan bagian dari upaya modifikasi cuaca yang ditujukan untuk membantu penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Dalam laporan ini, jumlah bahan dan waktu terbang dicatat secara kumulatif untuk keseluruhan dua hari. Karena itu, tiga sorti dan durasi 7 jam 3 menit merujuk pada total kegiatan, sementara 2,4 ton merupakan total dry ice yang digunakan selama periode tersebut.

Keterangan BNPB memberi gambaran mengenai skala dukungan udara yang dikerahkan dalam operasi itu. Informasi tentang lokasi keberangkatan, waktu pelaksanaan, serta penggunaan bahan menjadi unsur penting untuk menjelaskan jalannya misi secara terukur. BNPB menyampaikan data tersebut melalui Berton SP Panjaitan dalam kapasitasnya sebagai Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan. Dengan demikian, rincian operasi yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2026 mencakup tiga sorti penerbangan, total waktu 7 jam 3 menit, dan penggunaan 2,4 ton dry ice.

Pada sorti pertama, pesawat BNPB melakukan penyemaian dry ice di kawasan sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan. Keterangan tersebut disampaikan Berton saat menjelaskan langkah awal penanganan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca. Lokasi penyemaian berada di sekitar bandara, sehingga kegiatan ini menjadi bagian dari upaya yang dilakukan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Penyemaian berlangsung pada pagi hingga siang hari. Untuk kegiatan tersebut, bahan yang digunakan tercatat sebanyak 800 kilogram dry ice. Angka ini merujuk pada bahan untuk penyemaian yang dijelaskan dalam keterangan mengenai sorti pertama, bukan jumlah keseluruhan dry ice yang disiapkan atau dikerahkan dalam operasi. Pembedaan ini penting agar rincian kegiatan awal tidak disalahartikan sebagai total penggunaan bahan.

Dry ice menjadi bahan yang dibawa pesawat dalam pelaksanaan penyemaian tersebut. Kegiatan pada rentang pagi sampai siang menandai dimulainya langkah udara BNPB di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Rincian lokasi, waktu, dan jumlah bahan itu memberi gambaran mengenai pelaksanaan sorti awal, sementara informasi tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan hasil penyemaian atau dampaknya terhadap kondisi kebakaran.

Dalam konteks pengerahan 2,4 ton dry ice untuk membantu penanganan karhutla Sumsel, pemakaian 800 kilogram pada penyemaian awal perlu dibaca secara terbatas sesuai keterangan yang tersedia. Tidak ada dasar dari rincian tersebut untuk menyatakan bahwa seluruh persediaan dry ice telah digunakan pada sorti pertama. Jumlah 800 kilogram hanya menunjukkan bahan yang dipakai untuk kegiatan penyemaian pada pagi hingga siang hari itu. Informasi mengenai penyemaian berikutnya, jumlah bahan yang dialokasikan untuk setiap sorti, maupun waktu pelaksanaan selanjutnya memerlukan keterangan terpisah. Dengan demikian, laporan sorti awal menyajikan rincian operasi secara spesifik tanpa mengaburkan perbedaan pemakaian pada satu kegiatan dan total pengerahan bahan. Kejelasan angka serta cakupan informasi membantu pembaca memahami langkah BNPB secara akurat, terutama ketika membandingkan kebutuhan bahan untuk kegiatan awal dengan jumlah yang disebut dalam keseluruhan operasi penanganan karhutla di Sumatera Selatan.

Berton menyampaikan bahwa pemantauan jarak pandang setelah kegiatan penyemaian menunjukkan angka yang berbeda pada dua waktu pengamatan di siang hari. Pada pukul 13.00 WIB, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jarak pandang sebesar 1.000 meter. Angka tersebut menjadi catatan kondisi pada waktu pengukuran itu, bukan gambaran yang otomatis berlaku untuk seluruh wilayah ataupun sepanjang hari. Informasi ini disampaikan sebagai bagian dari pemantauan setelah penyemaian dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.

Sekitar pukul 14.30 WIB, atau kurang lebih satu setengah jam setelah pengamatan pukul 13.00 WIB, jarak pandang di bandara tercatat berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 meter. Dengan demikian, urutan angka yang disampaikan adalah 1.000 meter pada pukul 13.00 WIB, kemudian 1.500–2.000 meter di bandara sekitar pukul 14.30 WIB. Perbedaan rentang nilai itu perlu dibaca sesuai waktu dan lokasi pengukurannya. Data pukul 14.30 WIB secara khusus merujuk pada bandara, sedangkan keterangan sebelumnya menyebut catatan BMKG pada pukul 13.00 WIB.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa angka jarak pandang yang dipantau pada siang hari tidak sama pada kedua waktu itu.

Baca juga: Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Tragedi di Garis Depan Penanganan Karhutla Kalimantan Tengah | Pemberian Penanganan Jalan Parung Panjang: Solusi atas Kerusakan Parah

banner 325x300