banner 728x250

Delapan Erupsi Anak Krakatau, Abu Tertinggi Terpantau 500 Meter

Delapan Erupsi Anak Krakatau, Abu Tertinggi Terpantau 500 Meter
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Lampung Selatan | Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, mengalami delapan kali erupsi pada Minggu (18/10/2026). Dalam rangkaian letusan tersebut, kolom abu teramati membubung sekitar 100 hingga 500 meter di atas puncak. Abu yang keluar terlihat berwarna kelabu hingga hitam, berdasarkan laporan pemantauan petugas di kawasan gunung api itu. Peristiwa ini tercatat dalam pengamatan sepanjang hari dan menjadi rangkaian aktivitas erupsi yang dilaporkan dari Anak Krakatau.

Kolom abu tertinggi, sekitar 500 meter di atas puncak, terpantau saat erupsi yang terjadi pada pukul 11.44 dan 12.01 WIB. Pada letusan lainnya, tinggi kolom abu berada di kisaran yang lebih rendah, hingga sekitar 100 meter. Perbedaan ketinggian tersebut menunjukkan bahwa karakter kolom yang teramati berubah selama rangkaian erupsi berlangsung. Secara visual, warna kelabu sampai hitam tampak pada kolom abu yang menyertai letusan. Keterangan mengenai tinggi dan warna abu itu merupakan hasil pengamatan yang dilaporkan dari pos pemantauan.

banner 325x300

Suwarno, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, menyampaikan bahwa laporan delapan erupsi tersebut bersumber dari pemantauan petugas. Pos pengamatan itu berada di wilayah Lampung Selatan dan menjadi tempat pengumpulan informasi aktivitas gunung. Catatan waktu erupsi, tinggi kolom, serta warna abu disampaikan untuk menggambarkan kondisi yang terpantau pada Minggu tersebut. Dengan demikian, laporan ini memuat inti kejadian berupa jumlah letusan, rentang ketinggian abu, serta waktu ketika kolom tertinggi terlihat. Informasi tersebut merujuk pada pengamatan, bukan perkiraan terhadap perkembangan aktivitas berikutnya. Pemantauan petugas menjadi dasar penyampaian laporan rangkaian erupsi Anak Krakatau pada hari itu.

Rangkaian erupsi Anak Krakatau pada hari tersebut memperlihatkan perubahan tinggi kolom abu, arah sebaran, serta karakter rekaman seismik. Pada pukul 11.44 WIB, letusan mengeluarkan kolom abu hitam dengan intensitas tebal. Kolom itu bergerak ke utara dan mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, setara 657 meter di atas permukaan laut. Ketinggian tersebut menjadi yang tertinggi di letusan-letusan yang dijelaskan dalam catatan pengamatan.

Berikutnya, pada pukul 12.01 WIB, terjadi erupsi dengan karakter visual serupa. Letusan ini terekam memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama 41 detik. Catatan tersebut melengkapi pengamatan visual dengan ukuran kekuatan sinyal dan durasi, sehingga peristiwa siang hari dapat dibandingkan berdasarkan lebih dari satu indikator. Meski demikian, data yang tersedia tidak menyebutkan perubahan arah maupun ketinggian kolom abu untuk letusan pukul 12.01 WIB secara terpisah.

Dua letusan terjadi berdekatan pada pukul 12.57 dan 12.59 WIB. Keduanya menghasilkan kolom abu tebal berwarna kelabu hingga hitam, dengan tinggi sekitar 100 meter di atas puncak. Sebaran abu mengarah ke timur laut. Dibandingkan kolom pada pukul 11.44 WIB, tinggi yang tercatat pada kedua peristiwa ini jauh lebih rendah, sementara arah pergerakannya berbeda.

Pada pukul 17.22 WIB, kolom abu kembali teramati dengan tinggi sekitar 200 meter di atas puncak, atau 357 meter di atas permukaan laut. Abu bergerak ke barat laut. Pengamatan malam mencatat erupsi pukul 22.22 WIB dengan amplitudo maksimum 45 milimeter dan durasi 100 detik. Tiga menit kemudian, pukul 22.25 WIB, letusan kembali terjadi, tetapi tidak teramati secara visual. Saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung. Dengan demikian, catatan menunjukkan variasi tinggi kolom dan arah abu, serta perbedaan amplitudo dan lama rekaman pada kejadian yang dilengkapi data seismik.

Laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau untuk periode Senin (19/10/2026), pukul 00.00–06.00 WIB, menyebut tingkat aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan masyarakat dan wisatawan perlu mengikuti rekomendasi resmi serta tidak mendekati kawasan berbahaya. Informasi tersebut disampaikan berdasarkan pemantauan visual dan instrumental yang dilakukan selama enam jam pengamatan. Kondisi cuaca dan keterbatasan pandangan turut memengaruhi pengamatan langsung terhadap aktivitas di kawah.

Menurut Suwarno, tubuh gunung tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati selama periode tersebut. Kamera pemantau atau CCTV juga tertutup abu vulkanik, sehingga rekaman visual dari perangkat itu tidak dapat memberikan gambaran yang jelas. Tidak teramatinya asap bukan berarti aktivitas vulkanik berhenti; kondisi tersebut hanya menggambarkan keterbatasan pemantauan visual pada waktu itu. Karena itu, penilaian aktivitas turut mempertimbangkan data kegempaan yang terekam oleh instrumen pengamatan. Pemantauan tetap berlangsung untuk mengetahui perubahan kondisi secara berkelanjutan.

Catatan kegempaan menunjukkan satu gempa frekuensi rendah, 21 gempa hybrid atau fase banyak, tiga gempa vulkanik dangkal, serta satu gempa vulkanik dalam. Gempa hybrid umumnya merekam karakteristik gabungan yang berkaitan dengan pergerakan fluida dan retakan batuan, sementara jenis gempa lainnya membantu menggambarkan dinamika di dalam tubuh gunung. Selain kejadian-kejadian tersebut, tremor menerus juga terekam dengan amplitudo berkisar 1–10 milimeter dan didominasi amplitudo 3 milimeter. Data ini menjadi bagian dari evaluasi tingkat aktivitas, bukan ukuran tunggal untuk memastikan waktu atau besaran erupsi berikutnya. Masyarakat diimbau merujuk informasi dan arahan dari otoritas berwenang, serta tidak menyimpulkan perubahan status hanya dari satu jenis pengamatan. Perkembangan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga pemantauan instrumental dan visual diperlukan untuk memberikan dasar penilaian yang lebih menyeluruh bagi keselamatan warga dan pengunjung di sekitar gunung.

Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diminta mematuhi pembatasan kawasan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Tidak seorang pun diperbolehkan memasuki ataupun melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Larangan ini berlaku bagi kegiatan wisata, pelayaran yang tidak berkepentingan, maupun aktivitas lain yang berisiko mendekatkan warga ke sumber bahaya. Pengawasan terhadap batas aman penting dilakukan, terutama ketika gunung masih menunjukkan aktivitas erupsi. Masyarakat hendaknya mengikuti arahan petugas di lapangan dan tidak menerobos pembatas demi melihat kondisi kawah atau mengambil gambar. Menjaga jarak merupakan langkah perlindungan utama untuk mengurangi paparan terhadap material erupsi yang dapat terlontar sewaktu-waktu.

Akses juga dilarang dalam radius satu kilometer dari pulau baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau. Bentuk serta kondisi pulau baru tersebut dapat berubah, sehingga pendekatan tanpa izin berpotensi membahayakan keselamatan. Suwarno mengimbau masyarakat agar tetap terhadap lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava. Bahaya tidak hanya muncul saat erupsi berlangsung; erupsi sekunder dapat terjadi ketika lava panas bersentuhan dengan air laut maupun air hujan. Kontak tersebut berpotensi memicu letusan uap dan lontaran material. Karena itu, warga diminta menjauhi area terlarang, menggunakan perlindungan yang sesuai jika terjadi hujan abu, serta segera mengikuti instruksi petugas apabila diminta menghindar.

Warga yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung juga diharapkan tetap tenang dan tidak terpancing kabar yang belum terverifikasi. Suwarno mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut aktivitas erupsi ini akan menyebabkan tsunami. Sebelum membagikan kabar, periksa sumbernya dan utamakan informasi resmi dari pihak berwenang. Hindari menyebarkan pesan berantai atau unggahan yang tidak mencantumkan dasar informasi karena dapat menimbulkan kepanikan. Apabila muncul perubahan situasi, ikuti pembaruan dan arahan dari petugas kebencanaan setempat, bukan spekulasi di media sosial. Ketenangan, kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap zona larangan membantu melindungi diri sekaligus mendukung penanganan keadaan.

Baca juga: Perpanjangan Pembelajaran Jarak Jauh di Jakarta di Tengah Erupsi Anak Krakatau | Update Terbaru Mengenai Abu Vulkanik dari Anak Krakatau | Tarif Promo LRT Kelapa Gading–Manggarai Selama Delapan Hari

banner 325x300