Kota Makassar | Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Makassar menggelar Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Buatan melalui program PGRI Power tahun 2026. Kegiatan ini menjadi langkah organisasi guru di Makassar untuk mendorong penguasaan keterampilan digital yang semakin relevan dalam dunia pendidikan. Dengan mengangkat koding dan kecerdasan buatan sebagai fokus, gerakan tersebut menempatkan kesiapan guru sebagai bagian penting dari respons terhadap perubahan teknologi yang memengaruhi cara masyarakat belajar dan bekerja pada masa kini.
Gerakan tersebut dibuka oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Makassar pada Selasa. Pembukaan ini menandai dimulainya kegiatan yang mengusung upaya peningkatan pemahaman guru terhadap koding dan kecerdasan buatan. Melalui program PGRI Power 2026, PGRI Kota Makassar membawa tema keterampilan teknologi ke dalam perhatian para pendidik, sekaligus menegaskan bahwa pemahaman terhadap perkembangan digital merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam lingkungan pendidikan.
Fokus kegiatan adalah mendorong guru memahami keterampilan koding dan kecerdasan buatan. Koding berkaitan dengan kemampuan menyusun instruksi bagi perangkat digital, sementara AI dapat membantu menjelaskan berbagai cara teknologi mengolah informasi dan menghasilkan respons. Pemahaman terhadap kedua bidang ini memberi guru landasan untuk mengenali peluang, batasan, serta penggunaannya secara tepat. Gerakan ini mengarahkan perhatian pada pemahaman dasar, bukan sekadar pengenalan istilah atau mengikuti perubahan teknologi tanpa pertimbangan terhadap kebutuhan pembelajaran.
Penguasaan koding dan AI tidak menghapus peran utama guru dalam pendidikan. Teknologi dapat menjadi bagian dari konteks belajar, tetapi pendidik tetap berperan membimbing, menjelaskan, membangun hubungan dengan siswa, serta mempertimbangkan kebutuhan mereka. Karena itu, ajakan untuk mahir teknologi berjalan seiring dengan pentingnya menjaga nilai dan tanggung jawab pendidikan. Gerakan nasional yang diselenggarakan PGRI Kota Makassar ini menempatkan peningkatan pemahaman teknologi sebagai upaya yang dapat mendukung peran guru, bukan menggantikannya.
Munafri memandang teknologi sebagai kekuatan yang telah mengubah berbagai sisi kehidupan sehari-hari. Perubahan itu terlihat dalam cara orang berkomunikasi, mencari dan memperoleh informasi, serta membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Kehadiran perangkat digital dan jaringan internet membuat pertukaran pesan berlangsung lebih cepat, sementara beragam pengetahuan dapat diakses dari banyak tempat. Dampaknya juga terasa di ruang pendidikan. Anak-anak tidak lagi hanya menerima informasi melalui penjelasan guru atau buku, tetapi berjumpa dengan sumber belajar yang beragam, interaktif, dan tersedia hampir setiap saat. Karena itu, pengalaman belajar generasi muda terbentuk oleh lingkungan yang berbeda dari pengalaman generasi sebelumnya.
Perubahan akses tersebut turut membentuk kebiasaan belajar dan cara peserta didik berinteraksi. Murid masa kini cenderung lebih terbuka untuk mengajukan pertanyaan, berdialog, dan menyampaikan pandangan secara langsung kepada guru. Mereka dapat terbiasa mencari jawaban sendiri, lalu membandingkan informasi yang ditemukan dengan penjelasan di kelas. Sikap aktif ini tidak selalu berarti menolak arahan atau kurang menghormati pendidik. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi bagian dari pola komunikasi yang berkembang seiring perubahan sosial dan teknologi. Guru perlu memahami latar kebiasaan tersebut agar dapat merespons pertanyaan dengan tepat, mendorong diskusi yang sehat, dan menjaga proses pembelajaran tetap terarah.
Menurut Munafri, karakter peserta didik memang berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap masa menghadirkan kondisi, kebiasaan, dan cara berkomunikasi yang tidak sepenuhnya sama. Oleh sebab itu, perilaku murid saat ini perlu dipahami sebagai dinamika zaman, bukan langsung dinilai menggunakan ukuran yang berasal dari pengalaman pendidikan masa lalu. Pengalaman lama tetap memiliki nilai, tetapi tidak selalu cukup untuk menjelaskan kebutuhan dan respons anak dalam lingkungan yang kini sarat teknologi. Pemahaman terhadap perubahan ini membantu pendidik menyesuaikan pendekatan tanpa kehilangan tujuan pendidikan. Guru dapat tetap menetapkan batas, membangun sikap saling menghormati, sekaligus memberi ruang bagi rasa ingin tahu dan keberanian murid untuk menyampaikan pendapat. Dengan begitu, komunikasi di kelas menjadi lebih relevan dengan kehidupan peserta didik serta mendukung mereka belajar secara kritis, bertanggung jawab, dan beretika.
Munafri menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tidak serta-merta menghapus peran guru dalam pendidikan. Perangkat digital dapat membantu menjelaskan konsep, menyajikan informasi, dan mendukung proses belajar yang lebih fleksibel. Namun, kemampuan tersebut tidak menjadikan teknologi sebagai pengganti utuh bagi sosok pendidik. Guru tetap memiliki tanggung jawab penting dalam membimbing peserta didik, membaca kebutuhan mereka, serta menciptakan suasana belajar yang mendorong perkembangan.
Pendidikan juga tidak dapat dipersempit menjadi kegiatan menyampaikan materi atau memindahkan pengetahuan dari satu pihak kepada pihak lain. Di ruang kelas, guru membangun hubungan dengan peserta didik melalui perhatian, empati, dan keteladanan. Interaksi manusiawi ini membantu anak merasa dihargai, berani bertanya, dan belajar memahami dirinya maupun orang lain. Unsur hati dan jiwa dalam proses pendidikan tidak mudah direplikasi oleh sistem otomatis, sekalipun teknologi dapat memberikan respons yang tampak personal.
Karena itu, pemanfaatan AI perlu ditempatkan sebagai pendukung, bukan pusat pendidikan. Teknologi dapat meringankan pekerjaan administratif, menyediakan bahan ajar, atau membantu guru menyesuaikan pendekatan pembelajaran. Dengan dukungan tersebut, pendidik berpeluang menyediakan lebih banyak waktu untuk berdialog, mengamati kemajuan siswa, dan memberi pendampingan yang sesuai. Keputusan tentang kebutuhan belajar dan perkembangan peserta didik tetap memerlukan pertimbangan profesional serta pemahaman terhadap konteks yang dihadapi.
Munafri juga menekankan pentingnya profesionalitas guru yang berkembang seiring perubahan zaman. Pendidik perlu memahami teknologi, termasuk koding dan kecerdasan buatan, agar mampu memanfaatkannya secara tepat dan mengajarkan literasi digital kepada siswa. Keterampilan baru ini bukan berarti guru harus mengejar setiap tren tanpa pertimbangan, melainkan mampu menilai manfaat, keterbatasan, dan dampaknya terhadap pembelajaran.
Pada akhirnya, penggunaan teknologi harus tetap berpijak pada nilai-nilai dasar pendidikan: membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu hidup bersama. Guru yang melek teknologi dapat menggabungkan alat digital dengan empati dan tanggung jawab. Dengan demikian, inovasi memperkuat proses belajar tanpa menghilangkan hubungan manusiawi yang membuat pendidikan bermakna.
Tantangan yang dihadapi guru saat teknologi berkembang bukanlah menghindari perangkat digital, kecerdasan buatan, atau perubahan cara peserta didik memperoleh informasi. Tantangannya adalah memahami teknologi dan menggunakannya secara tepat untuk menunjang pembelajaran. Guru tetap berperan penting dalam membimbing, menjelaskan, dan membangun karakter; teknologi dapat membantu proses tersebut, bukan menggantikannya. Jika digunakan dengan tujuan yang jelas, beragam perangkat digital dapat membuat kegiatan belajar lebih efektif, menarik, serta sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan murid.
Munafri mengajak para guru untuk bersikap adaptif dengan berusaha memahami dunia anak-anak masa kini. Pemahaman itu mencakup bahasa yang mereka gunakan, pola pikir yang terbentuk melalui paparan informasi digital, cara mereka berkomunikasi, serta lingkungan tempat mereka belajar dan berinteraksi. Dengan mengenali konteks tersebut, guru dapat memilih pendekatan dan media yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik. Sikap adaptif bukan berarti mengikuti setiap tren atau mengabaikan pertimbangan pendidikan. Guru tetap perlu menilai manfaat, keandalan, keamanan, dan kesesuaian teknologi sebelum menerapkannya di kelas.
Penguasaan koding dan AI dapat menjadi bagian dari upaya tersebut apabila diarahkan untuk memperkaya proses belajar, misalnya membantu menyajikan materi dengan cara yang beragam atau memberi ruang bagi murid untuk berlatih dan mengeksplorasi gagasan. Namun, penggunaan teknologi perlu disertai pendampingan, aturan yang bertanggung jawab, dan interaksi manusiawi. Guru dapat memanfaatkan perangkat digital tanpa kehilangan kedekatan dengan peserta didik maupun tujuan pembelajaran.
Baca juga: Dukungan PAN Terhadap Pendidikan Inklusif di Indonesia | Rapat Terbatas Pendidikan Gratis: Kebijakan Baru Prabowo | Perjuangan Dinda dan Farras dalam Meraih Mimpi Pendidikan












