Jakarta | Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo. Prasetyo menyampaikan pernyataan tersebut mewakili Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah. Pernyataan tertulis itu diterima di Jakarta pada Selasa. Dalam pesan duka tersebut, pemerintah menyampaikan rasa kehilangan sekaligus penghormatan kepada almarhum yang pernah mengemban tugas sebagai pimpinan tertinggi di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Prasetyo menyampaikan doa agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi masa berduka. Ungkapan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah kepada keluarga serta penghormatan atas pengabdian Subagyo selama menjalani tugas bagi bangsa dan negara. Pemerintah berharap keluarga dapat melalui masa sulit ini dengan dukungan dan keteguhan hati.
Dalam menyampaikan belasungkawa, Prasetyo menegaskan bahwa duka atas kepergian seorang tokoh yang pernah memimpin institusi pertahanan negara juga dirasakan oleh pemerintah. Ucapan itu disampaikan atas nama Presiden Prabowo dan pemerintah sebagai ungkapan simpati kepada keluarga almarhum. Doa bagi Subagyo serta keluarga menjadi pokok pesan yang disampaikan dalam pernyataan tersebut, tanpa mengurangi penghormatan terhadap perjalanan pengabdiannya. Pemerintah turut mengajak masyarakat mengenang jasa almarhum dengan sikap hormat dan mendoakan agar keluarga yang berduka memperoleh ketenangan.
Subagyo Hadi Siswoyo dikenal sebagai mantan KSAD dengan pangkat Jenderal TNI (Purn). Penyampaian duka dari Istana mencerminkan penghargaan terhadap sosok yang pernah memegang jabatan penting dalam tubuh TNI AD. Melalui Prasetyo, Presiden dan pemerintah menyampaikan simpati serta doa kepada keluarga yang ditinggalkan. Pesan tersebut juga menegaskan bahwa pengabdian almarhum menjadi bagian dari perjalanan institusi dan kehidupan bangsa. Di tengah suasana kehilangan, doa dan dukungan bagi keluarga diharapkan dapat memberi penguatan untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan tabah dan ikhlas.
Prasetyo menilai Subagyo HS sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang telah mencurahkan kehidupan dan kariernya untuk kepentingan negara. Penilaian tersebut tercermin dari perjalanan panjang almarhum di lingkungan Tentara Nasional Indonesia, tempat ia menjalankan berbagai tanggung jawab hingga mencapai puncak pengabdian sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Bagi pemerintah, kiprah itu bukan semata rangkaian jabatan dan tugas, melainkan bukti kesungguhan seorang prajurit dalam menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Dedikasi Subagyo selama bertugas menjadi bagian penting dari perjalanan institusi TNI dalam mengemban amanat negara dan melayani masyarakat.
Sepanjang pengabdiannya, Subagyo turut menjalankan tugas menjaga kedaulatan, keutuhan, serta kehormatan bangsa. Darma bakti tersebut menjadi bagian dari sejarah pengabdian TNI kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prasetyo memandang jasa almarhum layak dikenang dengan hormat, bukan hanya karena posisi yang pernah diembannya, tetapi juga karena tanggung jawab dan kesetiaan yang menyertai perjalanan tugasnya. Pemerintah menyampaikan penghormatan atas jasa, pengabdian, dan keteladanan Subagyo. Penghormatan itu sekaligus menegaskan arti peran para prajurit yang bekerja untuk menjaga negara, memperkuat persatuan, dan memastikan amanat kepada bangsa tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Prasetyo berharap nilai pengabdian, loyalitas, dan patriotisme yang diwariskan almarhum dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Keteladanan tersebut diharapkan terus hidup dalam sikap para prajurit maupun seluruh pihak yang mengemban amanah bagi negara. Mengenang Subagyo, menurut Prasetyo, berarti menghargai perjalanan panjang seseorang yang telah memberikan tenaga, pemikiran, dan hidupnya untuk Indonesia. Pemerintah pun menyampaikan duka cita serta penghormatan kepada almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. Pada kesempatan itu, Prasetyo menyampaikan perpisahan dengan penuh hormat dan mengucapkan terima kasih atas seluruh pengabdian Subagyo kepada bangsa dan negara. Ucapan tersebut menjadi penegasan bahwa jasa dan keteladanan almarhum akan tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah pengabdian TNI kepada NKRI.
Subagyo HS meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 16.20 WIB. Informasi mengenai waktu dan tempat wafat tersebut disampaikan secara terpisah dari pernyataan Istana. Kabar itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan hidup seorang tokoh militer yang pernah memimpin Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Meski informasi yang beredar berfokus pada kabar wafatnya, keterangan yang disampaikan tidak memuat rincian lebih lanjut mengenai kondisi Subagyo sebelum meninggal. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan dalam laporan ini terbatas pada lokasi, hari, tanggal, dan waktu wafat yang disebutkan.
Kabar tersebut dibenarkan Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Muhammad Nas, saat dikonfirmasi di Jakarta pada Senin, 19 Oktober 2026. Konfirmasi dari pejabat TNI itu memastikan bahwa informasi meninggalnya Subagyo bukan sekadar kabar yang beredar, melainkan telah diterima dan dinyatakan benar oleh pihak yang berwenang memberikan keterangan atas nama institusi. Nas menyampaikan bahwa semua pihak turut berduka atas kepergian almarhum. Pernyataan singkat tersebut mencerminkan suasana duka yang dirasakan berbagai kalangan, terutama mereka yang mengenal atau pernah bekerja bersama Subagyo selama pengabdiannya di lingkungan militer.
Nas juga menyampaikan doa agar almarhum husnul khotimah. Doa tersebut menjadi bagian dari tanggapan resmi atas kabar wafatnya Subagyo, sekaligus ungkapan belasungkawa kepada keluarga dan pihak-pihak yang ditinggalkan. Dalam menyampaikan kabar seperti ini, keterangan mengenai waktu dan tempat wafat serta konfirmasi pejabat terkait menjadi informasi utama yang dapat disampaikan kepada publik. Belum ada rincian lain dalam keterangan yang dirujuk mengenai tindak lanjut setelah wafatnya Subagyo, sehingga informasi tentang prosesi pemakaman tidak disertakan. Dengan demikian, laporan mengenai peristiwa ini tetap berpegang pada fakta yang telah disampaikan: Subagyo wafat di Yogyakarta pada Senin sore, dan kabar tersebut telah dibenarkan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI.Perjalanan militer Subagyo HS dimulai dari pendidikan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) di Magelang. Ia lulus pada 1970 dan kemudian dikenal sebagai perwira dari Korps Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus. Latar belakang pasukan khusus tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di lingkungan TNI Angkatan Darat. Seiring waktu, Subagyo menempati sejumlah posisi komando, hingga memperoleh kepercayaan untuk memimpin satuan elite tersebut. Kariernya berlangsung dalam masa perubahan di tubuh militer dan pemerintahan, yang kemudian membawanya ke jabatan tertinggi di Angkatan Darat.
Pada 1994–1995, Subagyo menjabat Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat mayor jenderal. Pada periode yang sama, Prabowo Subianto bertugas sebagai Wakil Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat bintang satu. Keduanya berada dalam struktur kepemimpinan Kopassus dengan jenjang jabatan dan pangkat yang berbeda. Setelah masa jabatan Subagyo sebagai Danjen Kopassus berakhir, posisi tersebut kemudian digantikan oleh Prabowo. Catatan mengenai masa kepemimpinan ini menunjukkan pergantian komando di satuan tersebut sekaligus menempatkan Subagyo sebagai salah satu perwira yang berperan dalam perjalanan Kopassus pada pertengahan dekade 1990-an. Pengalamannya memimpin pasukan khusus mendahului penugasan di tingkat yang lebih tinggi.
Subagyo selanjutnya menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sejak Februari 1998 hingga November 1999. Masa tugas itu berlangsung ketika kepemimpinan nasional berganti dalam rentang waktu yang relatif singkat. Ia memulai jabatan pada masa Presiden Soeharto, lalu tetap menjabat ketika B.J. Habibie menjadi presiden, dan mengakhiri masa tugasnya pada masa kepresidenan K.H. Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur. Dengan demikian, karier Subagyo sebagai KSAD melintasi tiga pemerintahan.
Baca juga: Pemerintah Tinjau Kembali Kebijakan Sertifikasi Halal untuk UMKM | Dampingi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Borobudur, Bamsoet Tegaskan Lapas Harus Mampu Membentuk Warga Binaan yang Siap Hidup Taat Hukum | Pemerintah Luncurkan 24 Proyek Fasilitas Energi dari Sampah di Indonesia












