banner 728x250

Penyesalan Radja Nainggolan atas Kesempatan yang Tak Pernah Terwujud Bersama Indonesia

Penyesalan Radja Nainggolan atas Kesempatan yang Tak Pernah Terwujud Bersama Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Radja Nainggolan kembali membicarakan pilihan karier internasionalnya dan mengungkapkan penyesalan yang masih ia rasakan. Mantan pemain AS Roma tersebut mengaku menyesal karena tidak pernah membela tim nasional Indonesia ketika masih aktif bermain. Pernyataan itu disampaikan saat usianya menginjak 38 tahun, dalam sebuah wawancara dengan media Belanda.

Dalam wawancara tersebut, Radja menjelaskan bahwa kesempatan untuk memperkuat Indonesia sebenarnya pernah terbuka. Ia memiliki peluang untuk mengenakan seragam tim nasional Indonesia pada masa kariernya sebagai pemain. Namun, kesempatan itu tidak ia ambil ketika masih berada dalam periode aktif bermain dan memiliki pilihan untuk menentukan arah karier internasionalnya.

banner 325x300

Radja dikenal sebagai mantan penggawa tim nasional Belgia, selain pernah memperkuat AS Roma. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier internasional yang kini ia bicarakan kembali. Pengakuannya memperlihatkan bahwa peluang membela Indonesia pernah hadir dalam perjalanan kariernya, tetapi tidak terwujud karena keputusan yang diambil pada saat itu.

Pada usia 38 tahun, Radja menyampaikan kembali pandangannya mengenai keputusan tersebut. Ia mengakui adanya rasa menyesal karena kesempatan untuk bermain bagi Indonesia tidak pernah diwujudkan. Pernyataan itu secara khusus merujuk pada masa ketika ia masih aktif sebagai pesepak bola dan dapat mengambil peluang untuk memperkuat negara yang juga berkaitan dengan latar belakangnya.

Dengan demikian, inti pengakuan Radja terletak pada kesempatan yang pernah terbuka, tetapi tidak ia ambil. Kini, ia menyampaikan penyesalan tersebut dalam wawancara dengan media Belanda, setelah perjalanan kariernya sebagai mantan pemain AS Roma dan mantan pemain tim nasional Belgia.

Perubahan pandangan Radja Nainggolan terhadap Indonesia berlangsung secara bertahap. Ketika pertama kali datang ke Indonesia pada 2013, ia masih berada dalam masa kejayaan kariernya di Eropa. Pada periode tersebut, gagasan untuk memperkuat tim nasional Indonesia belum muncul dalam pikirannya. Sepak bola Indonesia belum memberikan kesan yang cukup kuat baginya, sehingga pilihan untuk membela negara tempat keluarganya memiliki akar tersebut tidak dipandang sebagai kemungkinan yang serius.

Sikap itu berubah setelah Radja merasakan langsung atmosfer sepak bola Indonesia melalui Bhayangkara FC. Ia bergabung ketika kariernya sudah memasuki fase akhir, bukan lagi pada masa ketika namanya berada di puncak perhatian sepak bola Eropa. Meski demikian, pengalaman tersebut memberinya sudut pandang baru tentang Indonesia, kompetisi domestik, serta dukungan yang dapat muncul dari masyarakat. Pengalaman bersama Bhayangkara FC membuatnya menyadari bahwa penilaiannya pada 2013 mungkin terlalu cepat dan tidak sepenuhnya mencerminkan potensi hubungan yang dapat dibangun dengan Indonesia.

Dalam refleksinya pada usia 38 tahun, Radja mengaku melihat berbagai hal dengan cara yang berbeda. Usia dan perjalanan karier membuatnya meninjau kembali keputusan-keputusan penting, termasuk kiprahnya di tingkat internasional bersama Belgia. Ia juga mengenang bagaimana perjalanan tersebut berakhir di bawah pelatih Roberto Martinez. Dari sudut pandang tersebut, muncul penyesalan sekaligus pertanyaan mengenai jalan yang mungkin ditempuh apabila sejak awal ia memilih Indonesia.

Radja menilai, secara kemungkinan, ia mungkin dapat menjalani karier internasional selama 15 tahun apabila membela Indonesia. Pernyataan itu bukan kepastian bahwa karier tersebut benar-benar akan berlangsung demikian, melainkan bentuk refleksi atas kesempatan yang telah lewat. Pengalaman di Bhayangkara FC memperlihatkan kepadanya bahwa pilihan yang dahulu tidak terpikirkan mungkin memiliki arti berbeda jika dinilai pada waktu dan usia yang lain.

Selain menyoroti kesempatan yang tidak pernah terwujud untuk membela Indonesia, Radja Nainggolan juga menyampaikan kekagumannya terhadap antusiasme masyarakat terhadap sepak bola. Menurut pandangannya, fanatisme suporter di Indonesia menjadi salah satu hal yang membuat ia semakin menghargai atmosfer sepak bola di negara tersebut. Ia melihat bahwa dukungan terhadap tim nasional tidak hanya muncul ketika menghadapi lawan yang memiliki reputasi besar, tetapi juga dalam pertandingan melawan tim yang menurutnya bukan termasuk kekuatan utama.

Radja mencontohkan pertandingan Indonesia melawan Vietnam atau Irak. Dalam pandangannya, laga seperti itu dapat dihadiri sekitar 70 ribu penonton. Besarnya jumlah penonton tersebut ia anggap sebagai gambaran kuat mengenai perhatian masyarakat terhadap sepak bola nasional. Bagi Radja, gairah seperti itu menunjukkan bahwa pertandingan sepak bola memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan publik Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai kesan pribadinya terhadap suasana dan respons suporter yang ia amati.

Ia juga menyinggung besarnya perputaran uang di sepak bola Indonesia. Menurut Radja, perhatian terhadap para pemain tidak hanya terlihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari dukungan berbagai merek mewah kepada sejumlah pemain. Ia memandang hal itu sebagai tanda bahwa pemain sepak bola di Indonesia dapat memperoleh sorotan dan dukungan komersial yang besar.

Untuk menggambarkan perbedaannya, Radja membandingkannya dengan pemain internasional seperti Ivar Jenner. Menurut Radja, Jenner hanya bermain untuk Jong Utrecht di sana, meskipun tetap memiliki hubungan dengan sepak bola Indonesia melalui tim nasional. Perbandingan itu ia gunakan untuk menunjukkan pandangannya mengenai besarnya perhatian dan peluang komersial yang dapat diterima pemain dalam ekosistem sepak bola Indonesia. Seluruh penilaian tersebut merupakan kesan Radja mengenai fanatisme suporter, aliran dana, dan perhatian merek kepada pemain.

Ketertarikan Radja Nainggolan terhadap Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan sepak bola atau kemungkinan membela tim nasional. Pengalamannya selama berada di Indonesia juga membentuk kesan yang mendalam secara sosial. Ia melihat adanya hubungan yang terasa lebih cair kelompok kaya dan masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam pandangannya, kedua kelompok tersebut dapat berada di ruang yang sama tanpa sekat sosial yang terlalu mencolok. Pengamatan itu berbeda dari pengalaman yang ia rasakan atau lihat di sejumlah negara Eropa, ketika perbedaan status ekonomi sering kali tampak lebih tegas dalam kehidupan sehari-hari.

Radja pernah menggambarkan pemandangan yang menurutnya menarik di sekitar sebuah gedung apartemen tinggi. Di satu sisi, terdapat orang-orang yang mengenakan kemeja dan dasi, kemungkinan baru selesai bekerja atau sedang menjalankan aktivitas profesional. Namun, tidak jauh dari mereka, ada pula masyarakat yang mendorong gerobak dan menjual makanan. Mereka tetap beraktivitas di lingkungan yang sama, duduk dan berinteraksi dalam ruang sosial yang tidak sepenuhnya terpisah. Bagi Radja, pemandangan semacam itu menunjukkan karakter Indonesia yang lebih terbuka dan manusiawi, karena perbedaan latar belakang tidak selalu menghalangi orang untuk berbagi tempat serta suasana.

Kenyamanan tersebut juga ia rasakan ketika menyantap makanan di warung-warung sederhana. Radja mengaku tidak canggung berada di tengah masyarakat dan justru menikmati pengalaman makan di tempat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Ia memuji keramahan masyarakat Indonesia yang membuat dirinya merasa diterima, bukan sekadar dipandang sebagai pesepak bola terkenal. Kesan sosial itu semakin memperkuat ketertarikannya terhadap Indonesia. Radja menyadari bahwa jika waktu dapat diputar kembali, ia tidak akan ragu memilih untuk membela tim nasional Indonesia. Akan tetapi, keinginan tersebut kini hanya menjadi angan-angan, sebab peluangnya untuk memperkuat Garuda telah tertutup.

Baca juga: Olahraga Bersama Pererat Persahabatan Prajurit TNI dan Negara Sahabat di SGS 2026 | Menjamin Sukses Pelaksanaan MTQ Nasional: Tanggung Jawab Bersama | Sambut HUT Ke-81 TNI Tahun 2026, Kodim 1714/Puncak Jaya Bersama Rakyat Menanam Pohon Demi Masa Depan Baik

banner 325x300