banner 728x250

Kisah Bayi 24 Hari di Surabaya dan Penjelasan Dokter soal Pemberian Makanan Terlalu Dini

Kisah Bayi 24 Hari di Surabaya dan Penjelasan Dokter soal Pemberian Makanan Terlalu Dini
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Bayi berusia 24 hari bernama Alena di Surabaya dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami kondisi kritis. Kabar tersebut menjadi perhatian publik karena kondisi kesehatan Alena disebut memburuk setelah ia diduga diberi telur mentah ketika mengalami demam. Bayi itu kemudian harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Informasi mengenai dugaan pemberian telur mentah tersebut berasal dari unggahan di platform Threads milik akun @calistaarisha. Pengunggah disebut sebagai bibi atau tante Alena. Dalam unggahannya, ia menyampaikan bahwa telur mentah diberikan oleh nenek Alena saat bayi tersebut demam, dengan alasan membantu menurunkan suhu tubuh. Setelah itu, kondisi Alena dikabarkan semakin memburuk hingga keluarga membawanya ke rumah sakit.

banner 325x300

Meski demikian, keterangan dari unggahan media sosial perlu dipahami secara hati-hati. Dugaan bahwa pemberian telur mentah berkaitan langsung dengan memburuknya kondisi Alena belum dapat diperlakukan sebagai kepastian medis maupun hukum tanpa hasil pemeriksaan dokter dan informasi resmi dari pihak berwenang. Penyebab meninggalnya bayi juga memerlukan penilaian klinis berdasarkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta hasil pemeriksaan penunjang yang tersedia.

Peristiwa ini sekaligus menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menangani bayi baru lahir, terutama ketika mengalami demam. Pemberian makanan atau bahan tertentu berdasarkan kebiasaan keluarga dan informasi yang beredar di masyarakat tidak dapat menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Pada usia 24 hari, bayi memiliki kebutuhan dan risiko kesehatan yang berbeda dari anak yang lebih besar, sehingga setiap gejala perlu ditanggapi secara serius. Orang tua atau pengasuh sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila bayi demam, tampak lemas, sulit menyusu, mengalami perubahan napas, atau menunjukkan tanda kegawatan lainnya.

Alena, bayi berusia 24 hari, disebut menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10). Dalam proses perawatan tersebut, ia sempat ditempatkan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu unit khusus yang menangani bayi dengan kondisi yang memerlukan pemantauan dan dukungan medis secara intensif. Penempatan di ruang ini menunjukkan bahwa kondisi Alena membutuhkan perhatian berkelanjutan dari tim medis.

Selama dirawat, Alena mendapat penanganan intensif karena mengalami demam. Tim medis melakukan perawatan sesuai kondisi yang dihadapi, dengan pemantauan terhadap keadaan bayi secara terus-menerus. Namun, berdasarkan sumber yang tersedia, tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai hasil pemeriksaan, tindakan medis tertentu, ataupun perkembangan klinis secara rinci selama Alena berada di rumah sakit.

Kondisi Alena kemudian disebut semakin kritis. Perubahan tersebut berlangsung dalam masa perawatan di RSUD Dr Soetomo, setelah sebelumnya ia sempat menjalani perawatan di NICU dan mendapatkan penanganan intensif. Keadaan yang memburuk membuat bayi tersebut berada dalam kondisi yang sangat serius hingga akhirnya meninggal dunia.

Informasi mengenai perawatan ini perlu dipisahkan dari dugaan mengenai hal-hal yang mungkin berkaitan dengan kondisi Alena. Sumber yang ada tidak memuat hasil pemeriksaan medis maupun keterangan resmi rumah sakit yang menetapkan penyebab kematian. Karena itu, dugaan tertentu, termasuk kaitan dengan pemberian makanan terlalu dini, belum dapat dinyatakan sebagai penyebab yang terbukti. Kronologi yang dapat disampaikan hanya mencakup perawatan di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10), perawatan di NICU, penanganan intensif karena demam, kondisi yang semakin kritis, dan kematian Alena.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) ketika ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi, yaitu umumnya saat anak berusia sekitar 6 bulan. Pada usia tersebut, bayi mulai memerlukan tambahan energi dan zat gizi untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta proses belajar makan. Namun, usia bukan satu-satunya pertimbangan. Orang tua juga perlu memperhatikan tanda kesiapan bayi, seperti mampu duduk dengan bantuan, memiliki kontrol kepala dan leher yang baik, menunjukkan ketertarikan terhadap makanan, serta dapat membuka mulut ketika ditawari makanan.

Pada tahap awal, tekstur makanan perlu disesuaikan dengan kemampuan bayi. MPASI sebaiknya diberikan dalam bentuk yang dihaluskan, seperti bubur kental atau puree, bukan makanan yang terlalu encer. Porsi dan frekuensi dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai respons anak. Bahan makanan yang digunakan perlu beragam dan mengandung sumber energi, protein, vitamin, serta mineral. Telur, daging, dan ikan boleh diperkenalkan sesuai kesiapan bayi, tetapi seluruh bahan tersebut harus dimasak sampai benar-benar matang untuk mengurangi risiko infeksi.

Kebersihan juga menjadi bagian penting dalam persiapan MPASI. Orang tua atau pengasuh perlu mencuci tangan sebelum mengolah dan memberikan makanan. Peralatan, wadah, serta permukaan yang digunakan harus bersih, sementara makanan perlu disimpan dan disajikan dengan cara yang aman. Langkah-langkah tersebut membantu mencegah kontaminasi yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada bayi.

Dokter anak dr Meta Hanindita, SpA, menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu dokter dapat menyarankan MPASI setelah bayi berusia lebih dari 4 bulan, tetapi sebelum mencapai 6 bulan. Keputusan ini harus didasarkan pada evaluasi medis, tanda kesiapan makan, dan indikasi tertentu, misalnya kenaikan berat badan yang kurang optimal. Sebaliknya, pemberian makanan sebelum usia 4 bulan disebut MPASI dini dan tidak boleh dilakukan tanpa anjuran dokter. Konsultasi diperlukan agar waktu, jenis, tekstur, dan jumlah makanan sesuai dengan kebutuhan setiap bayi.

Ahli gizi Syarief Darmawan menjelaskan bahwa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebelum bayi berusia enam bulan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Pada usia tersebut, saluran cerna bayi masih berada dalam tahap pematangan dan dipersiapkan terutama melalui pemberian ASI eksklusif. Karena itu, makanan selain ASI belum tentu dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh bayi.

MPASI yang diberikan terlalu dini berisiko memicu inflamasi atau peradangan pada usus. Kondisi ini dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi, sehingga asupan yang masuk tidak sepenuhnya mendukung kebutuhan pertumbuhan. Dampaknya mungkin terlihat pada pertambahan tinggi badan yang tidak optimal. Dalam jangka perkembangan, gangguan pemenuhan nutrisi juga berpotensi berkaitan dengan kemampuan kognitif, kecerdasan, dan perkembangan motorik anak. Risiko tersebut tidak berarti pasti terjadi pada setiap bayi, karena dipengaruhi pula oleh kondisi kesehatan, jenis makanan, jumlah asupan, serta faktor pengasuhan lainnya.

Temuan penelitian yang disebut dalam sumber turut menunjukkan adanya hubungan pemberian MPASI dini dan gangguan kesehatan. Studi pada 2024 mengaitkan pemberian makanan pada usia nol sampai enam bulan dengan gangguan pencernaan. Sementara itu, penelitian yang terbit pada 2018 dan 2021 menunjukkan korelasi MPASI dini dan kejadian diare. Hubungan tersebut perlu dipahami sebagai temuan penelitian, bukan kepastian bahwa semua bayi yang menerima makanan lebih awal akan mengalami diare atau masalah pencernaan.

Sumber Kementerian Kesehatan RI juga merangkum risiko jangka pendek dan jangka panjang. Dalam waktu dekat, bayi dapat mengalami berkurangnya frekuensi serta intensitas isapan saat menyusu karena sebagian kebutuhan energinya mulai digantikan makanan. Dalam jangka panjang, pemberian makanan terlalu dini berpotensi berkaitan dengan obesitas, hipertensi, aterosklerosis, dan alergi makanan. Oleh sebab itu, waktu dan kesiapan bayi menjadi pertimbangan penting sebelum MPASI diberikan.

Baca juga: Diare Massal di SMA Negeri 1 Lasem: Kasus Keracunan Makanan | Penyelidikan Terhadap Kecelakaan Akibat Sopir Alphard yang Tabrak Banyak Kendaraan di Surabaya | Wuling Selesaikan Permasalahan Konsumen di Surabaya

banner 325x300