banner 728x250
Hukum  

Perenungan di Masjid Nabawi Mengiringi Keputusan Ruben Onsu Mengadopsi Thayaka

Polisi Jelaskan Dua Laporan Ruben Onsu soal Video Call dan Konten yang Beredar
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Ruben Onsu mengungkap bahwa perenungannya selama menjalankan umrah ikut memengaruhi keputusan untuk mengadopsi seorang bayi laki-laki bernama Thayaka Putra Onsu. Pengalaman itu berawal ketika ia mengikuti kajian di Pintu 19 Masjid Nabawi, Madinah. Dalam kajian tersebut, pembahasan mengenai doa anak bagi orang tua yang telah meninggal dunia membuat Ruben memikirkan kembali arti kehadiran seorang anak dalam kehidupan keluarga.

Informasi mengenai pengalaman tersebut disampaikan Ruben melalui kanal YouTube pribadinya. Pernyataannya dikutip pada Minggu, 18 Oktober 2026. Ia menceritakan bahwa suasana ibadah di Madinah, disertai materi kajian yang didengarnya, menjadi bagian dari proses batin sebelum mengambil keputusan. Kisah itu menunjukkan bahwa keputusan keluarga tersebut tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk mengasuh, tetapi juga dengan renungan tentang hubungan orang tua dan anak serta nilai doa dalam kehidupan seorang Muslim.

banner 325x300

Dalam ajaran Islam, doa anak yang saleh sering dipahami sebagai salah satu amal yang pahalanya dapat terus mengalir bagi orang tua setelah mereka meninggal. Gagasan itu menjadi pokok yang direnungkan Ruben ketika berada di Masjid Nabawi. Ia kemudian menghubungkan pesan kajian tersebut dengan langkah mengadopsi Thayaka, meski keputusan besar seperti ini juga membawa tanggung jawab jangka panjang dalam merawat, membimbing, dan memberi perlindungan kepada seorang anak.

Ruben tidak menggambarkan pengalaman umrah itu sebagai satu-satunya faktor yang menentukan pilihannya. Namun, peristiwa di Pintu 19 menjadi momen penting yang mendorongnya mempertimbangkan kembali makna menjadi orang tua. Cerita tersebut memberi konteks spiritual pada kabar adopsi Thayaka Putra Onsu, sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman ibadah dapat memantik refleksi pribadi. Bagi Ruben, kajian tentang doa anak bagi orang tua yang telah wafat menjadi pengingat tentang ikatan keluarga yang melampaui urusan sehari-hari, serta pentingnya membangun hubungan dengan kasih sayang dan tanggung jawab.

Materi kajian yang diikuti Ruben Onsu di tanah suci mendorongnya merenungkan kembali hubungan spiritual dengan ketiga anaknya. Pembahasan dalam kajian itu menyentuh peran anak dalam mendoakan orang tua setelah mereka meninggal dunia. Bagi Ruben, tema tersebut terasa dekat dengan kehidupannya sebagai orang tua, sehingga tidak berhenti sebagai bahasan keagamaan yang ia dengarkan saat itu saja. Ia terus memikirkannya setelah kajian berlangsung, terutama ketika mengaitkannya dengan keadaan keluarganya sendiri.

Ruben menyadari bahwa dirinya dan anak-anaknya memiliki keyakinan yang berbeda. Kesadaran tersebut menjadi salah satu hal yang ia pertimbangkan dalam melihat hubungan mereka, termasuk dalam kaitannya dengan doa dan kehidupan setelah kematian. Ia memahami bahwa pembicaraan mengenai anak yang mendoakan orang tua membawa makna tertentu baginya, sebab keyakinan yang dianut anak-anaknya tidak sama dengan keyakinan dirinya. Perbedaan itu membuatnya bertanya dan berpikir lebih jauh tentang sisi spiritual hubungan orang tua dan anak.

Inti yang disampaikan Ruben ialah bahwa kajian tersebut membahas anak-anak yang mendoakan orang tua setelah orang tua meninggal, sementara keyakinan ketiga anaknya berbeda dengannya. Ia tidak mengabaikan kenyataan itu, tetapi justru membawanya dalam perenungan setelah mengikuti kajian di Masjid Nabawi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari prosesnya mempertimbangkan keputusan mengadopsi Thayaka, sekaligus memahami tanggung jawab yang menyertai peran sebagai orang tua. Perenungan itu bukan semata-mata tentang perbedaan keyakinan, melainkan juga tentang bagaimana ia memandang ikatan keluarga, kasih sayang, dan masa depan anak-anaknya. Dengan demikian, kajian di tanah suci menghadirkan pertanyaan personal yang terus ia pikirkan: bagaimana hubungan spiritual dalam keluarga dapat dipahami ketika orang tua dan anak tidak memiliki keyakinan yang sama. Ruben mengaitkan pertanyaan tersebut dengan pengalamannya sendiri, tanpa mengubah pokok bahasan kajian yang ia dengar.Setelah kembali ke Indonesia, Ruben Onsu mulai mengenal Thayaka, seorang bayi yang berada dalam perawatan yayasan milik Melanie Subono. Pertemuan itu menjadi bagian penting dari proses yang kemudian mendorong Ruben mempertimbangkan untuk mengadopsinya. Bagi Ruben, kedekatan tersebut tidak muncul dari satu peristiwa besar saja, melainkan tumbuh melalui beberapa pengalaman yang menyentuh perasaannya. Salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika ia menyapa Thayaka melalui panggilan video.

Dalam percakapan jarak jauh itu, Ruben mencoba memanggil bayi tersebut dengan sapaan “baby”. Respons Thayaka membuatnya terkejut. Bayi itu tampak menanggapi panggilan tersebut, sehingga momen sederhana tersebut terasa istimewa bagi Ruben. Interaksi singkat melalui layar itu kemudian meninggalkan kesan kuat dan membuatnya memikirkan kembali hubungan yang mulai terjalin di mereka. Meski hanya berlangsung lewat video, sapaan dan respons itu menjadi pengalaman personal yang sulit ia lupakan.

Ruben mengaku merasakan dorongan serta kedekatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan itu bukan sesuatu yang ia gambarkan sebagai keputusan yang langsung selesai dalam satu hari, tetapi menjadi pengalaman yang mendorongnya untuk terus memikirkan Thayaka dan kemungkinan menjadi orang tua baginya. Dalam keterangan sumber, Ruben disebut berusia 43 tahun. Informasi usia tersebut hanya menjadi latar, sementara inti kisahnya terletak pada pengalaman emosional yang ia rasakan saat berkomunikasi dengan bayi itu.

Panggilan video tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan dapat mulai terasa dekat melalui interaksi yang sederhana. Bagi Ruben, respons Thayaka terhadap sapaan “baby” seolah memberi makna khusus pada perkenalan mereka, meskipun ia sendiri mengakui bahwa perasaan yang muncul sukar diterangkan. Setelah kembali ke Tanah Air dan mengenal bayi dalam pengasuhan yayasan Melanie Subono, pengalaman itu menjadi salah satu bagian yang terus ia ingat ketika memikirkan langkah adopsi. Momen tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh pertimbangannya, tetapi menunjukkan awal kedekatan yang ia rasakan terhadap Thayaka.

Pengalaman Ruben Onsu selama menjalankan ibadah umrah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan batinnya menuju keputusan untuk mengadopsi Thayaka. Di tengah suasana ibadah, ia merasakan kedekatan emosional dengan anak tersebut. Namun, ikatan batin yang muncul tidak serta-merta membuatnya mengambil keputusan. Bagi Ruben, keputusan sebesar adopsi perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya didorong oleh perasaan yang hadir pada satu waktu. Ia menyadari bahwa langkah itu akan membawa tanggung jawab dan perubahan dalam kehidupan keluarga, sehingga perlu dipertimbangkan secara matang.

Karena itu, keinginan tersebut ia bawa dalam doa. Ruben memohon petunjuk Tuhan agar dapat memahami apakah adopsi Thayaka memang merupakan jalan yang tepat baginya dan keluarganya. Perenungan di Masjid Nabawi turut menjadi bagian dari proses tersebut. Alih-alih memastikan pilihan secara tergesa-gesa, ia memilih memberi ruang bagi dirinya untuk berdoa dan menimbang kembali niatnya. Pengalaman spiritual selama umrah dan perkenalan dengan Thayaka pun menjadi rangkaian yang saling terkait dalam perjalanan menuju keputusan itu, tetapi belum menggantikan kebutuhan untuk mencari keyakinan yang lebih kuat.

Setelah pulang, Ruben kembali menjalankan salat malam untuk memantapkan hati dan memohon arahan. Kebiasaan beribadah tersebut memberinya kesempatan untuk menyampaikan harapan sekaligus menyerahkan keputusan kepada Tuhan. Ia berharap proses adopsi dapat berjalan lancar apabila langkah itu memang menjadi jalan terbaik. Harapan tersebut menunjukkan bahwa keinginannya tetap disertai sikap berhati-hati: ia tidak hanya berpegang pada rasa sayang, tetapi juga menantikan kemantapan dalam doa. Pada tahap ini, yang disampaikan adalah harapan dan upaya mencari petunjuk, bukan kepastian mengenai hasil proses adopsi. Ruben masih menempatkan keputusan itu sebagai perkara yang perlu dijalani dengan pertimbangan, doa, dan keyakinan.

banner 325x300