JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Sekitar 50 ribu buruh yang tergabung dalam Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia (KBPBI) dijadwalkan menggelar aksi di Jakarta pada Kamis, 24 September 2026. Aksi tersebut menjadi momentum bagi para buruh untuk menyampaikan aspirasi terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan. Dengan jumlah peserta yang besar, kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama kelompok pekerja di Ibu Kota pada hari tersebut.
Rangkaian aksi disebut akan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Titik awal yang diinformasikan berada di sekitar Mal Grand Indonesia, kawasan yang berada di pusat Jakarta. Kehadiran massa dalam jumlah besar di lokasi itu perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama warga yang memiliki aktivitas di area sekitarnya pada waktu pelaksanaan.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menyampaikan bahwa aksi besar tersebut tetap akan dilaksanakan secara damai. Ia juga menyebut jumlah massa yang diperkirakan hadir hampir mencapai 50 ribu buruh. Pernyataan itu menegaskan skala kegiatan sekaligus tujuan penyampaian aspirasi yang akan dilakukan oleh para peserta.
KBPBI menjadi wadah bagi buruh dari berbagai kelompok yang akan hadir dalam aksi tersebut. Mereka dijadwalkan menyampaikan pandangan mengenai RUU Perlindungan Ketenagakerjaan melalui kegiatan yang terpusat di Jakarta. Informasi mengenai waktu dan lokasi awal aksi penting diketahui sejak dini agar masyarakat dapat menyesuaikan kegiatan pada Kamis, 24 September 2026. Perkembangan selanjutnya mengenai pergerakan massa dan kondisi di sekitar titik aksi menjadi hal yang perlu diperhatikan menjelang pelaksanaan.
Semanggi menjadi titik awal mobilisasi peserta aksi buruh pada 24 September 2026. Berdasarkan informasi yang tersedia, kawasan ini ditetapkan sebagai lokasi pertama berkumpulnya massa sebelum pergerakan dilanjutkan ke sejumlah titik berikutnya. Posisi Semanggi sebagai titik kumpul awal membuat kawasan tersebut perlu diperhatikan sejak pagi, terutama oleh pengguna jalan yang hendak melintas atau berkegiatan di sekitarnya.
Massa diperkirakan mulai berkumpul sekitar pukul 10.00 WIB. Pada tahap awal ini, peserta aksi berada di kawasan Semanggi untuk menghimpun barisan sebelum bergerak secara bersama-sama. Waktu tersebut menjadi penanda penting dalam kronologi mobilisasi, meskipun kepadatan lalu lintas dan dampak terhadap aktivitas di sekitar lokasi dapat berkembang mengikuti jumlah peserta yang hadir.
Setelah berkumpul di Semanggi, massa diperkirakan bergerak menuju kawasan UOB. Pergerakan tersebut merupakan tahap berikutnya dalam rangkaian aksi, sehingga ruas jalan yang menghubungkan atau berada di sekitar dua lokasi itu berpotensi mengalami peningkatan aktivitas. Pengguna jalan sebaiknya memperhatikan perkembangan situasi di lapangan dan menyesuaikan perjalanan apabila diperlukan.
Dari kawasan UOB, arus pergerakan kemudian berlanjut menuju Grand Indonesia. Dengan demikian, alur awal aksi berlangsung secara berurutan dari Semanggi, menuju UOB, lalu diteruskan ke Grand Indonesia. Urutan ini membantu memberikan gambaran mengenai arah mobilisasi tanpa mengubah waktu maupun lokasi yang tercantum dalam informasi sumber. Warga dan pengendara yang memiliki tujuan di sekitar ketiga kawasan tersebut dapat mempertimbangkan informasi ini saat menyusun rencana perjalanan pada hari pelaksanaan aksi.
Sejumlah koridor utama di Jakarta disebut masuk dalam area yang perlu diwaspadai pada pelaksanaan aksi buruh 24 September 2026. Ruas yang menjadi perhatian mencakup Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin, Jalan Gatot Subroto di sekitar Gedung DPR/MPR RI, serta kawasan Monumen Nasional (Monas). Penyebutan kawasan tersebut berkaitan dengan kemungkinan adanya titik berkumpul maupun lintasan massa aksi.
Keterangan mengenai titik utama aksi disampaikan Wakil Presiden KSPSI Ahmad Supriyadi. Ia menyebut aksi buruh berlokasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta, tepatnya di samping Grand Indonesia. Dengan demikian, bagian koridor MH Thamrin, khususnya area di sekitar pusat perbelanjaan tersebut, berpotensi menjadi lokasi konsentrasi peserta aksi. Kepadatan dapat muncul ketika massa berkumpul atau bergerak melalui ruas jalan yang berdekatan dengan titik tersebut.
Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin juga perlu diperhatikan karena kedua ruas itu menjadi satu koridor yang menghubungkan sejumlah kawasan pusat Jakarta. Apabila massa menggunakan sebagian ruas sebagai tempat berkumpul atau lintasan, arus kendaraan di sekitar koridor tersebut berpotensi mengalami perlambatan. Potensi kepadatan ini berkaitan dengan aktivitas aksi di lokasi yang telah disebutkan, bukan dengan seluruh jaringan jalan di Jakarta.
Lokasi lain yang disebut adalah Jalan Gatot Subroto di dekat Gedung DPR/MPR RI. Area tersebut dapat menjadi perhatian karena berkaitan dengan kemungkinan berkumpulnya peserta aksi di sekitar kompleks parlemen. Sementara itu, kawasan Monas turut masuk dalam daftar lokasi yang disebut terkait aksi buruh. Masyarakat yang memiliki keperluan melintas di ketiga kawasan tersebut sebaiknya memperhitungkan kemungkinan kepadatan pada waktu berlangsungnya aksi dan memantau informasi lalu lintas dari sumber resmi.
Pengguna jalan yang berencana melintas di Jakarta pada 24 September 2026 diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kepadatan lalu lintas. Sejumlah ruas jalan diperkirakan mengalami perlambatan karena menjadi titik berkumpul dan lokasi penyampaian aspirasi buruh. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kelancaran perjalanan, terutama pada waktu kedatangan dan kepulangan peserta aksi.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Firman Darmansyah mengimbau pengendara untuk menghindari ruas-ruas yang berpotensi terdampak kegiatan demonstrasi. Imbauan ini ditujukan kepada seluruh pengguna kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum, agar tidak memaksakan diri melintas di sekitar lokasi aksi apabila situasi mulai padat.
Pengendara sebaiknya memantau perkembangan informasi lalu lintas sebelum berangkat dan menyesuaikan waktu perjalanan dengan kondisi di lapangan. Perubahan arus, perlambatan, atau pengaturan lalu lintas dapat diberlakukan sewaktu-waktu untuk menjaga keamanan serta mengurangi penumpukan kendaraan di sekitar titik demonstrasi. Pengguna jalan juga perlu mengikuti arahan petugas yang berada di lokasi.
Masyarakat disarankan menyiapkan rencana perjalanan dengan memilih jalur alternatif apabila ruas yang hendak dilalui mulai dipadati kendaraan atau peserta aksi. Dengan menghindari area demonstrasi, perjalanan diharapkan tetap berlangsung lebih aman dan tertib. Pengendara hendaknya tidak berhenti atau memarkir kendaraan di bahu jalan sekitar lokasi aksi karena hal tersebut dapat mempersempit ruang lalu lintas dan memperburuk kemacetan.
Kewaspadaan menjadi hal penting selama aktivitas demonstrasi berlangsung. Pengguna jalan dapat memanfaatkan informasi resmi dari kepolisian dan pihak berwenang untuk mengetahui perubahan situasi sebelum maupun ketika berada di perjalanan. Apabila menemukan kepadatan, pengendara sebaiknya tetap tenang, menjaga jarak aman, serta memilih rute lain daripada menerobos arus yang sedang diatur petugas.









