Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai ego pemimpin merupakan salah satu persoalan utama yang perlu dihadapi bersama. Sikap tersebut, menurutnya, dapat menghambat komunikasi dan kerja sama ketika berbagai pihak perlu menyelesaikan persoalan yang menyangkut kepentingan publik. Ia menyampaikan pandangan itu dalam sambutan peresmian Masjid Apung An-Nur di Jakarta Utara pada Jumat, 16 Oktober.
Pernyataan Pramono menyoroti pentingnya keterbukaan dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Dalam pemerintahan maupun pengelolaan fasilitas publik, koordinasi sering kali melibatkan banyak pihak dengan tanggung jawab dan sudut pandang berbeda. Jika masing-masing pihak hanya mempertahankan kepentingannya sendiri, proses mencari kesepahaman dapat menjadi lebih sulit. Karena itu, pemimpin perlu bersedia mendengar, berdialog, dan menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai pertimbangan utama.
Persoalan ego juga berkaitan dengan cara komunikasi dibangun antarpemimpin dan lembaga. Perbedaan pandangan tidak selalu dapat dihindari, tetapi dapat dikelola melalui pembicaraan yang terbuka dan sikap saling menghormati. Pendekatan semacam itu memberi ruang untuk menyampaikan kendala, memperjelas tanggung jawab, serta mencari langkah yang dapat diterima bersama. Tanpa komunikasi yang baik, persoalan yang sebenarnya bisa dibahas berisiko berlarut-larut.
Dalam konteks pengelolaan kota, kerja bersama menjadi penting karena pelayanan kepada warga tidak selalu berhenti pada batas kewenangan satu lembaga. Pemimpin perlu memastikan bahwa koordinasi berjalan, informasi tersampaikan, dan keputusan dibuat dengan memperhatikan dampaknya bagi masyarakat. Mengurangi ego bukan berarti mengabaikan peran atau tanggung jawab masing-masing, melainkan membuka jalan agar peran tersebut dapat saling melengkapi.
Pesan Pramono menggarisbawahi bahwa perbaikan hubungan dan komunikasi membutuhkan kesediaan dari para pemimpin untuk meninjau cara mereka bekerja. Sikap kolaboratif dapat membantu mendorong penyelesaian persoalan secara lebih terarah, terutama ketika kepentingan publik menjadi tujuan bersama. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, perbedaan dapat dibahas sebagai bagian dari proses mencari solusi, bukan menjadi penghalang bagi kerja sama.
Pada masa-masa awal setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mulai melihat sejumlah peluang untuk memperbaiki keterhubungan kawasan di ibu kota. Salah satu gagasan yang ia soroti adalah menghubungkan Jakarta International Stadium (JIS) dengan kawasan Ancol. Kedua lokasi tersebut berada di Jakarta Utara dan memiliki potensi untuk saling mendukung, terutama dalam kegiatan olahraga, rekreasi, serta kunjungan masyarakat. Bagi Pramono, koneksi yang lebih baik dapat memudahkan warga berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Gagasan itu juga sejalan dengan kebutuhan menghadirkan akses yang lebih praktis bagi pengunjung, baik saat menghadiri acara di stadion maupun ketika berwisata di Ancol.
Namun, rencana menghubungkan JIS dan Ancol bukan sekadar persoalan membangun jalur atau menentukan bentuk akses. Masing-masing kawasan berada dalam tanggung jawab pihak yang berbeda, sehingga koordinasi menjadi bagian penting dari prosesnya. Dalam pembicaraan yang disampaikan Pramono, komunikasi antarpihak pada tahap awal belum berjalan lancar. Perbedaan kepentingan dan cara pandang membuat pembahasan mengenai hubungan kedua kawasan tidak segera bergerak sesuai harapan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gagasan yang secara fisik tampak sederhana dapat menghadapi tantangan ketika melibatkan banyak pengelola. Tanpa komunikasi yang terbuka, keputusan teknis maupun pembagian tanggung jawab berisiko tertunda, sementara rencana bersama sulit diterjemahkan menjadi langkah yang nyata.
Pramono menempatkan pengalaman itu sebagai gambaran tentang pentingnya membangun kesepahaman sejak awal. Pihak yang mengelola JIS dan pihak yang bertanggung jawab atas Ancol perlu membicarakan tujuan, kebutuhan, serta kemungkinan pengaturan akses secara langsung. Dengan begitu, setiap pihak dapat memahami manfaat yang mungkin diperoleh sekaligus hal-hal yang harus disiapkan. Hambatan komunikasi yang muncul kala itu juga memperlihatkan bahwa kerja sama tidak cukup hanya mengandalkan rancangan pembangunan. Sikap para pemimpin dan kesediaan mereka untuk mendengarkan menjadi faktor yang turut menentukan. Dalam konteks itulah Pramono menceritakan proses awal gagasan koneksi JIS–Ancol, sebagai upaya menyatukan pengelolaan kawasan demi akses yang lebih terintegrasi bagi masyarakat.
Menurut Pramono, sebelum komunikasi Jakarta International Stadium (JIS) dan Ancol membaik, direktur utama kedua pihak bahkan sulit bertemu untuk berbicara. Situasi tersebut menggambarkan adanya hambatan dalam hubungan komunikasi di tingkat pimpinan. Ia menyoroti bahwa ketika para pemimpin tidak mudah duduk bersama dan bertukar pandangan, pembahasan mengenai persoalan yang perlu ditangani juga menjadi sulit dilakukan. Pernyataan itu menekankan pentingnya pertemuan dan komunikasi langsung sebagai langkah awal untuk membangun pemahaman bersama, tanpa menyebutkan rincian khusus mengenai kendala yang menyebabkan kedua direktur utama tersebut sulit bertemu.
Perubahan mulai terlihat setelah komunikasi di keduanya membaik. Menurut Pramono, hubungan yang sebelumnya tidak memungkinkan mereka berbicara dengan mudah kemudian berkembang menjadi komunikasi yang lebih baik. Perbaikan tersebut membuka ruang bagi kedua pihak untuk membahas persoalan dan mencari jalan penyelesaian secara bersama. Dengan demikian, komunikasi tidak sekadar menjadi formalitas, tetapi berperan sebagai sarana untuk menyampaikan pandangan, memahami persoalan, dan menyepakati tindak lanjut. Pramono mengaitkan membaiknya komunikasi itu dengan kemampuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sebelumnya belum tertangani.
Ia menyampaikan bahwa setelah komunikasi berjalan lebih baik, berbagai persoalan dapat diselesaikan. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan untuk berbicara dapat membantu pihak-pihak terkait bergerak dari keadaan sulit bertemu menuju pembahasan yang lebih produktif. Namun, pernyataan Pramono tidak merinci persoalan apa saja yang dimaksud maupun langkah teknis yang ditempuh untuk menuntaskannya. Karena itu, inti yang dapat dicatat adalah hubungan perbaikan komunikasi kedua pimpinan dan terselesaikannya berbagai persoalan, bukan dugaan mengenai jenis masalah, penyebab, atau proses penyelesaian tertentu.
Pesan yang disampaikan Pramono menempatkan komunikasi antarpemimpin sebagai faktor penting dalam kerja sama JIS dan Ancol. Ketika direktur utama kedua institusi dapat berbicara dengan lebih baik, koordinasi untuk membahas persoalan pun menjadi lebih memungkinkan. Hal ini memberi gambaran bahwa kemauan untuk bertemu dan berkomunikasi dapat mendukung penyelesaian urusan bersama. Pramono mengangkat perubahan tersebut sebagai contoh bahwa persoalan dapat ditangani ketika komunikasi membaik. Ia tidak memberikan rincian tambahan tentang hambatan lain, sehingga penjelasannya berfokus pada perkembangan hubungan komunikasi dan dampaknya terhadap penyelesaian berbagai persoalan.
Pramono menyebut penyelenggaraan konser The Weeknd dan Avenged Sevenfold di Jakarta International Stadium (JIS) sebagai contoh bahwa komunikasi dan kerja sama pengelola JIS dengan Ancol dapat mendukung kegiatan berskala besar. Kedua konser tersebut, menurutnya, dapat berlangsung dengan baik. Ia mengaitkan kelancaran acara dengan koordinasi yang lebih baik di pihak-pihak terkait, termasuk dalam menyiapkan kebutuhan pengunjung sebelum dan sesudah pertunjukan. Contoh itu disampaikan ketika Pramono menceritakan perbaikan hubungan komunikasi JIS dan Ancol, yang sebelumnya menjadi perhatian dalam pengelolaan kawasan dan penyelenggaraan kegiatan.
Salah satu dukungan yang disebut Pramono adalah fasilitas parkir yang disediakan di kawasan Ancol. Keberadaan tempat parkir tersebut menjadi bagian dari pengaturan bagi penonton konser yang datang menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, pengunjung juga memiliki pilihan untuk memanfaatkan berbagai moda transportasi umum. Ketersediaan pilihan perjalanan itu membantu menyediakan akses menuju lokasi acara, tanpa hanya mengandalkan satu jenis sarana transportasi. Pramono menempatkan fasilitas parkir dan pilihan angkutan umum tersebut sebagai unsur pendukung penyelenggaraan konser di JIS. Dalam keterangannya, ia tidak merinci jumlah kapasitas parkir ataupun moda tertentu, tetapi menyebut bahwa berbagai moda transportasi umum tersedia bagi masyarakat yang hendak menghadiri acara.
Pramono juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan JIS dan PT Pembangunan Jaya Ancol.
Baca juga: Pengakuan Prabowo terhadap Gubernur Pramono Anung | Reformasi Utama JKN: Fokus pada Perbaikan Pelayanan Kesehatan












