banner 728x250

Kabut Asap Karhutla Memburuk, Kualitas Udara Palembang Capai Level Berbahaya

Kabut Asap Karhutla Memburuk, Kualitas Udara Palembang Capai Level Berbahaya
banner 120x600
banner 468x60

Palembang | Kualitas udara Palembang, Sumatera Selatan, kembali menjadi perhatian setelah pemantauan terbaru menunjukkan kondisi yang sangat buruk. Pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB, data IQAir mencatat indeks kualitas udara Palembang berada di angka 379. Nilai tersebut menempatkan kualitas udara di kategori berbahaya, menandakan bahwa tingkat pencemaran yang terukur telah mencapai level paling serius dalam pemantauan tersebut. Angka ini menjadi gambaran langsung mengenai memburuknya kondisi udara di wilayah Palembang pada pagi hari itu.

Indeks 379 juga tercatat sebagai angka terburuk dibandingkan wilayah lain di Indonesia yang dipantau pada waktu yang sama. Dengan posisi tersebut, Palembang menjadi wilayah dengan kualitas udara paling buruk dalam daftar pemantauan IQAir. Catatan ini memperlihatkan tingginya tingkat pencemaran udara yang terukur di kota tersebut, sekaligus menempatkannya pada kategori berbahaya berdasarkan indikator yang digunakan dalam pemantauan.

banner 325x300

Pemantauan di tingkat kawasan menunjukkan angka yang bahkan lebih tinggi. Salah satu stasiun pemantauan yang berada di kawasan Musi 2, Palembang, mencatat indeks kualitas udara mencapai 638. Angka itu tercatat dalam pemantauan yang sama dan menjadi catatan tersendiri untuk kondisi udara di kawasan tersebut. Perbedaan angka catatan umum Palembang dan hasil dari stasiun di Musi 2 memperlihatkan bahwa tingkat kualitas udara yang terukur dapat berbeda antarwilayah pemantauan.

Data yang dihimpun pada pagi hari tersebut menegaskan bahwa kualitas udara Palembang berada dalam kondisi yang memburuk. Indeks kota sebesar 379 dan catatan 638 dari stasiun Musi 2 sama-sama menunjukkan level berbahaya, dengan angka stasiun kawasan berada jauh di atas indeks kota. Berdasarkan pemantauan IQAir pada 12 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, kondisi udara Palembang tercatat sebagai yang paling buruk di wilayah Indonesia yang dipantau.

Kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar gangguan jarak pandang. Asap tersebut merupakan campuran kompleks dari partikel dan senyawa kimia hasil pembakaran vegetasi, tanah organik, serta material lain yang ikut terbakar. Ketika terbawa angin dan menyelimuti wilayah permukiman, campuran polutan itu dapat terhirup bersama udara dalam berbagai konsentrasi. Kandungannya dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis bahan yang terbakar, tingkat pembakaran, dan kondisi atmosfer di sekitarnya.

Salah satu unsur yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2,5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Selain itu, asap karhutla dapat membawa karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta berbagai senyawa organik beracun. Karbon monoksida dapat terbentuk dari proses pembakaran tidak sempurna, sedangkan nitrogen dioksida dan senyawa organik lainnya turut memperkaya komposisi kimia asap. Keberadaan polutan tersebut membuat paparan kabut asap berpotensi memengaruhi sistem pernapasan dan kondisi kesehatan secara lebih luas.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr Then Suyanti, menjelaskan bahwa paparan asap dapat memperberat gangguan pada saluran pernapasan. Dampaknya terutama perlu dikaitkan dengan kondisi yang telah dialami seseorang, karena iritasi dan masuknya polutan ke saluran napas dapat memperburuk infeksi saluran pernapasan akut. Paparan yang sama juga dapat memperberat penyakit paru obstruktif kronis, asma, serta gangguan pernapasan lainnya. Dengan demikian, memburuknya kualitas udara akibat kabut asap tidak hanya berkaitan dengan rasa tidak nyaman, tetapi juga dengan meningkatnya tekanan terhadap fungsi saluran pernapasan, khususnya ketika udara mengandung partikel halus dan senyawa berbahaya dalam jumlah yang tinggi.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan. Sorotan Kementerian Kesehatan dalam bahan sumber menunjukkan bahwa paparan asap dapat memengaruhi sejumlah aspek kesehatan, terutama pada kelompok yang memiliki kerentanan lebih tinggi. Karena itu, dampaknya perlu dipahami secara lebih luas, tanpa menganggap bahwa setiap orang akan mengalami tingkat keluhan atau risiko yang sama.

Dampak langsung yang dapat muncul mencakup iritasi pada mata dan kulit. Mata yang terpapar asap dapat mengalami rasa perih atau tidak nyaman, sedangkan kulit berpotensi mengalami iritasi akibat partikel dan zat pencemar di udara. Selain itu, kualitas udara yang buruk dapat memperburuk gangguan pernapasan, khususnya pada orang yang sudah memiliki kondisi tertentu. Keluhan tersebut merupakan respons terhadap paparan, tetapi tidak secara otomatis menunjukkan tingkat keparahan kondisi kesehatan seseorang.

Risiko kesehatan yang lebih luas juga menjadi perhatian. Menurut sorotan Kementerian Kesehatan, paparan asap dapat meningkatkan risiko penyakit sistemik pada lansia. Pada anak-anak, polusi dari kabut asap berpotensi mengganggu tumbuh kembang, sehingga dampaknya tidak hanya berkaitan dengan keluhan yang terlihat dalam waktu singkat. Anak-anak dan lansia disebut sebagai kelompok yang paling rentan karena kemampuan tubuh mereka dalam menghadapi paparan lingkungan dapat berbeda dari orang dewasa sehat.

Pembedaan dampak langsung dan risiko jangka lebih luas penting dalam membaca situasi kualitas udara Palembang. Iritasi mata, kulit, serta gangguan pernapasan dapat menjadi efek yang dirasakan setelah terpapar, sementara peningkatan risiko penyakit sistemik pada lansia dan gangguan tumbuh kembang anak memerlukan perhatian kesehatan yang berkelanjutan. Informasi tersebut menggambarkan potensi dampak kabut asap secara umum, bukan penetapan kondisi pada warga tertentu. Tingkat keparahan pada setiap individu tetap memerlukan penilaian dan pemeriksaan kesehatan secara langsung.

Kabut asap dari kebakaran hutan tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular. American Heart Association menjelaskan bahwa partikel halus dalam asap kebakaran hutan dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, mencapai alveoli, lalu memicu peradangan serta respons stres pada tubuh. Sebagian partikel berukuran sangat kecil juga dapat memasuki aliran darah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban kerja jantung, mengganggu fungsi pembuluh darah, dan memperburuk masalah kardiovaskular yang sudah ada.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association menunjukkan adanya kaitan paparan asap kebakaran hutan yang pekat dan meningkatnya risiko kejadian kardiovaskular, termasuk serangan jantung mendadak. Polusi partikel halus dapat memengaruhi tekanan darah, irama jantung, serta kemampuan pembuluh darah untuk mengatur aliran darah. Risiko ini menjadi perhatian karena dampak paparan dapat muncul selama periode kualitas udara memburuk, terutama ketika konsentrasi asap meningkat dan masyarakat menghirup udara tercemar dalam waktu lebih lama.

Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah bahwa paparan asap kebakaran hutan yang pekat dapat meningkatkan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen. Peningkatan risiko itu dilaporkan berlaku pada pria maupun wanita, dengan dampak yang terutama terlihat pada kelompok usia 35–64 tahun. Henti jantung di luar rumah sakit merupakan keadaan darurat ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif, sehingga pertolongan segera sangat menentukan peluang keselamatan. Temuan dari American Heart Association dan penelitian terkait tersebut memperlihatkan eratnya hubungan partikel halus dari asap kebakaran hutan dan risiko gangguan kardiovaskular.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Kualitas Udara Jakarta: Hidup di Tengah Isu Kesehatan | Satgas Karhutla TNI Mediasi Masyarakat dan Korporasi di Melawi

banner 325x300