banner 728x250
Sosial  

Sorotan Kasus Bayi Alena dan Imbauan IDAI soal Pemberian Makanan

Sorotan Kasus Bayi Alena dan Imbauan IDAI soal Pemberian Makanan
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Bayi bernama Alena menjadi sorotan setelah informasi mengenai kondisi kesehatannya beredar di media sosial. Alena disebut masih berusia kurang dari satu bulan ketika mengalami masalah kesehatan yang kemudian memerlukan penanganan medis secara intensif. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa bayi tersebut diduga diberi telur mentah oleh neneknya, yakni ibu dari ayah Alena.

Sebelum telur mentah diberikan, Alena dilaporkan sempat mengalami demam. Berdasarkan informasi yang beredar, pemberian telur mentah itu dilakukan dengan tujuan membantu menurunkan demam yang dialami sang bayi. Namun, setelahnya, kondisi Alena disebut memburuk sehingga ia harus mendapatkan perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

banner 325x300

Alena mulai dirawat di rumah sakit tersebut pada Jumat (9/10). Dalam penanganannya, ia sempat mendapatkan perawatan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu unit khusus untuk merawat bayi baru lahir atau bayi dengan kondisi yang membutuhkan pemantauan dan dukungan medis secara intensif. Perawatan di ruang tersebut menunjukkan bahwa kondisi Alena memerlukan perhatian khusus dari tim medis.

Kabar mengenai kondisi Alena kemudian terus menjadi perhatian publik karena disampaikan melalui media sosial. Dalam perkembangan informasi yang beredar, muncul pula kabar bahwa Alena telah meninggal dunia. Namun, kabar tersebut disampaikan sebagai informasi yang beredar di media sosial dan belum dijelaskan lebih lanjut dalam bahan yang tersedia. Karena itu, berbagai detail mengenai kondisi akhir Alena perlu dipahami secara hati-hati sesuai keterangan yang dapat dipastikan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menanggapi kasus bayi Alena dengan menekankan bahwa pemberian makanan harus mempertimbangkan usia, kesiapan perkembangan, kebutuhan gizi, serta keamanan pangan. Ketua Umum IDAI, Dr Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan bahwa makanan untuk bayi perlu disesuaikan dengan kemampuan makannya. Penyesuaian tersebut penting agar asupan yang diberikan tidak menimbulkan risiko kesehatan dan dapat mendukung pertumbuhan serta perkembangan bayi secara optimal. Keterangan itu diterima pada Senin (12/10/2026).

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, ASI tetap dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia dua tahun atau lebih, sesuai kebutuhan dan kondisi anak. Selama belum memasuki usia MPASI, bayi pada umumnya tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan. Hal ini termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang telah diencerkan.

Menurut rekomendasi WHO, MPASI umumnya mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada tahap tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi oleh ASI saja. Selain usia, kesiapan perkembangan juga perlu diperhatikan, seperti kemampuan duduk dengan dukungan, kontrol kepala yang baik, serta ketertarikan terhadap makanan. Tekstur dan jumlah makanan kemudian perlu dinaikkan secara bertahap sesuai kemampuan bayi.

Pemberian MPASI pada usia empat bulan atau 17 minggu hanya dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter. Ketentuan itu bukan anjuran rutin bagi semua bayi. Sementara itu, pemberian makanan pendamping sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan karena sistem pencernaan, kemampuan makan, dan kesiapan perkembangan bayi mungkin belum memadai. Orang tua disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan waktu, jenis, tekstur, dan porsi makanan yang aman, sekaligus memastikan kebutuhan ASI tetap terpenuhi.

Pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) perlu menyesuaikan kesiapan perkembangan bayi, bukan semata-mata berdasarkan usia atau kebiasaan di lingkungan sekitar. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua sebelum mulai menawarkan makanan. Namun, Dr Piprim menegaskan bahwa kesiapan tersebut tidak boleh ditentukan hanya dari satu tanda. Penilaiannya harus dilakukan secara menyeluruh dengan melihat perkembangan motorik, koordinasi makan, serta respons bayi terhadap makanan.

Salah satu indikator penting ialah kemampuan bayi mempertahankan kepala dan leher secara stabil. Bayi juga diharapkan mampu duduk dengan bantuan sambil menjaga posisi tubuh tetap cukup tegak dan terkendali. Postur ini membantu bayi mengatur proses makan dengan lebih aman. Selain itu, koordinasi gerakan mulut perlu mulai berkembang, termasuk kemampuan menerima makanan, menggerakkannya di dalam mulut, dan menelan tekstur yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Tanda lain dapat terlihat dari ketertarikan bayi terhadap makanan. Bayi mungkin memperhatikan orang yang sedang makan, membuka mulut ketika makanan ditawarkan, atau mulai menerima makanan dari sendok. Meski demikian, ketertarikan saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bayi siap menjalani MPASI. Seluruh tanda perlu muncul dalam konteks kemampuan bayi secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan variasi perkembangan setiap anak.

Pemberian makanan yang tidak sesuai usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat diterima bayi dapat meningkatkan risiko tersedak dan aspirasi, yaitu masuknya makanan ke saluran napas. Kondisi tersebut juga dapat memicu gangguan pemberian makan, seperti penolakan makanan atau pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Apabila MPASI hendak diberikan lebih awal, keputusan itu perlu didasarkan pada pertimbangan klinis. Dokter harus menilai kondisi kesehatan bayi, kebutuhan nutrisinya, serta kemampuan makan sebelum memberikan rekomendasi yang tepat dan aman.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak. Imbauan ini terutama berkaitan dengan keamanan pangan, karena telur yang belum dimasak secara sempurna masih berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri tersebut dapat menyebabkan salmonelosis, yaitu infeksi pada saluran pencernaan yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada anak.

Gejala salmonelosis dapat berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi serta anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat karena daya tahan tubuh dan kemampuan mereka mempertahankan keseimbangan cairan belum sebaik orang dewasa. Kehilangan cairan akibat diare atau muntah dapat berkembang menjadi dehidrasi dengan cepat. Dalam kondisi tertentu, infeksi juga berpotensi menimbulkan komplikasi serius sehingga anak mungkin memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut. Orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak, terutama apabila keluhan berlangsung terus-menerus, anak tampak lemas, sulit minum, atau frekuensi buang air kecil berkurang.

IDAI juga tidak menemukan keuntungan gizi khusus dari pemberian telur mentah atau setengah matang yang dapat membenarkan risiko tersebut pada bayi. Telur tetap dapat menjadi sumber protein dan zat gizi penting apabila dimasak hingga matang dengan cara yang sesuai. Pengolahan yang tepat membantu menurunkan risiko bakteri, sementara tekstur makanan perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan mengunyah anak. Karena itu, orang tua sebaiknya memastikan bahan makanan aman, matang, dan disajikan dalam bentuk yang mudah ditelan. Prinsip keamanan, tekstur, serta cara penyajian harus selalu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan masing-masing anak.

Baca juga: Diare Massal di SMA Negeri 1 Lasem: Kasus Keracunan Makanan | Status Siaga Gunung Anak Krakatau: Imbauan untuk Warga | Sorotan Buku ‘Islam Ala Prabowo’ dan Pandangan Pengamat

banner 325x300