Bandung | Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 68 kali gempa sepanjang Minggu, 11 Oktober 2026. Aktivitas kegempaan tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin terhadap perkembangan kondisi gunung api yang berada di perairan Selat Sunda. Informasi ini penting bagi masyarakat di wilayah sekitar, terutama karena perubahan aktivitas vulkanik dapat berlangsung secara dinamis dan memerlukan kewaspadaan berkelanjutan.
Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia yang diunggah melalui situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Senin, 12 Oktober 2026 pukul 08.30 WIB, masyarakat, nelayan, dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius satu kilometer dari dataran baru. Larangan tersebut diberlakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko apabila terjadi perubahan kondisi secara tiba-tiba di sekitar tubuh gunung atau kawasan kawah.
Pembatasan itu mencakup kegiatan mendekat, berwisata, menangkap ikan, maupun aktivitas lain yang menempatkan warga di dalam zona terlarang. Masyarakat juga diharapkan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak menjadikan pengamatan langsung sebagai alasan untuk mengabaikan batas keselamatan. Nelayan serta operator wisata perlu menyesuaikan rute dan kegiatan mereka dengan ketentuan yang berlaku.
Dari sisi visual, Gunung Anak Krakatau terpantau mulai jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat 0 sampai III. Pada puncak kawah terlihat asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, yang membubung sekitar 5 hingga 100 meter dari puncak. Kondisi tersebut terus diamati oleh petugas untuk mengetahui kecenderungan aktivitas gunung. Pemantauan visual dan instrumental menjadi dasar penting dalam menentukan langkah keselamatan berikutnya.
Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau berlangsung selama 24 jam, yakni sejak pukul 00.00 WIB hingga 24.00 WIB pada Minggu, 11 Oktober 2026. Selama periode tersebut, aktivitas kegempaan tercatat fluktuatif dan didominasi oleh tremor menerus. Pemantauan instrumen merekam berbagai jenis gempa dengan karakteristik amplitudo dan durasi yang berbeda-beda.
Rincian pertama menunjukkan adanya 25 gempa hembusan. Jenis gempa ini memiliki amplitudo berkisar 6–31 mm, dengan durasi 21–264 detik. Selain itu, tercatat 2 gempa low frequency dengan amplitudo 21–45 mm dan durasi 6–14 detik. Sebanyak 29 gempa hybrid atau fase banyak juga teramati, masing-masing memiliki amplitudo 7–36 mm serta durasi 7–20 detik.
Data berikutnya mencatat 7 gempa vulkanik dangkal. Amplitudo gempa tersebut berada pada rentang 11–21 mm, sedangkan durasinya berkisar 9–17 detik. Pengamatan juga merekam 1 gempa tektonik jauh dengan amplitudo 15 mm dan durasi 94 detik. Jenis gempa ini menjadi satu-satunya kejadian tektonik jauh yang tercatat dalam periode pemantauan tersebut.
Di samping kejadian-kejadian tersebut, instrumen mencatat 4 gempa tremor menerus. Gempa tremor ini memiliki amplitudo pada kisaran 1–42 mm, dengan amplitudo dominan sebesar 15 mm. Kehadiran tremor menerus menjadi indikator penting dalam gambaran aktivitas Gunung Anak Krakatau selama satu hari pengamatan, meskipun intensitasnya dapat mengalami perubahan.
Jika seluruh kategori dijumlahkan, catatan kegempaan terdiri atas 25 gempa hembusan, 2 gempa low frequency, 29 gempa hybrid atau fase banyak, 7 gempa vulkanik dangkal, 1 gempa tektonik jauh, dan 4 gempa tremor menerus. Dengan demikian, keseluruhan pengamatan menghasilkan 68 kejadian gempa.
Masyarakat dan pengunjung di sekitar Gunung Anak Krakatau diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah ancaman yang dapat muncul di kawasan pusat erupsi. Imbauan ini terutama berlaku bagi warga, nelayan, wisatawan, serta pihak lain yang beraktivitas di wilayah laut maupun daratan sekitar gunung api tersebut. Setiap kegiatan perlu dilakukan dengan memperhatikan arahan petugas dan batas aman yang telah ditetapkan.
Bahaya pertama yang perlu diwaspadai adalah lontaran batu pijar dari kawah. Material vulkanik tersebut dapat terlontar ke area di sekitar pusat erupsi dan menimbulkan risiko bagi manusia maupun peralatan. Selain itu, hujan abu lebat juga berpotensi mengganggu jarak pandang, pernapasan, serta aktivitas masyarakat. Abu vulkanik dapat terbawa angin dan menumpuk di permukaan, sehingga penggunaan pelindung pernapasan dan mata menjadi penting apabila terjadi hujan abu.
Aliran lava juga termasuk ancaman yang harus diperhatikan. Lava bersuhu tinggi dapat bergerak mengikuti kondisi medan dan mencapai wilayah tertentu di sekitar pusat erupsi. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mendekati kawah atau memasuki area yang telah dinyatakan berbahaya, meskipun kondisi dari kejauhan terlihat tenang.
Ancaman lain berupa erupsi sekunder dapat terjadi ketika lava yang panas bersentuhan dengan air laut maupun air hujan. Kontak tersebut dapat memicu pelepasan energi dan material secara tiba-tiba di sekitar lokasi. Risiko ini menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk menjaga jarak dari pusat erupsi hingga radius kewaspadaan lima kilometer.
Dalam radius tersebut, aktivitas warga perlu dibatasi sesuai ketentuan dan perkembangan informasi resmi. Masyarakat sebaiknya tidak mendekati pusat erupsi, tidak mengabaikan pembatasan wilayah, serta terus mengikuti pemberitahuan dari otoritas terkait. Kewaspadaan ditujukan untuk mengurangi paparan terhadap berbagai bahaya di sekitar gunung api, bukan untuk menyimpulkan terjadinya atau memprediksi erupsi lain.
Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang beredar di media sosial. Informasi yang muncul melalui berbagai unggahan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya, sehingga kabar yang diterima perlu disikapi dengan cermat. Untuk memperoleh informasi yang lebih pasti, masyarakat dapat menghubungi saluran resmi yang disebutkan dalam laporan.
Salah satu sumber informasi resmi adalah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi di Bandung. Lembaga tersebut dapat dihubungi melalui nomor (022) 7272606. Saluran ini menjadi rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan kabar mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau berdasarkan informasi resmi yang tersedia.
Selain itu, masyarakat dapat menghubungi Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran melalui nomor (0254) 651449 atau 085846324506. Kedua nomor tersebut dapat digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih pasti mengenai kondisi gunungapi. Dengan mengakses saluran resmi, masyarakat dapat menerima kabar dari sumber yang telah disebutkan dalam laporan, bukan semata-mata mengandalkan informasi yang beredar di media sosial.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya diperoleh melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi di Bandung, maupun Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran. Masyarakat dapat menghubungi nomor (022) 7272606, (0254) 651449, atau 085846324506 untuk mendapatkan kabar yang lebih pasti. Saluran-saluran resmi tersebut menjadi rujukan informasi yang perlu diakses ketika masyarakat ingin mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Aktivitas Terkini Gunung Anak Krakatau dan Dampaknya terhadap Jakarta | Status Siaga Gunung Anak Krakatau: Imbauan untuk Warga







