banner 728x250

BI Sebut Rupiah Relatif Stabil di Tengah Pelemahan terhadap Dolar AS

BI Sebut Rupiah Relatif Stabil di Tengah Pelemahan terhadap Dolar AS
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah berada dalam kondisi yang relatif stabil. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menggambarkan posisi rupiah di tengah pergerakannya terhadap dolar Amerika Serikat. Meskipun rupiah mengalami pelemahan terhadap mata uang tersebut, Bank Indonesia menilai kondisi rupiah tetap relatif stabil apabila dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Penilaian itu merujuk pada perbandingan rupiah dengan mata uang negara-negara emerging market lainnya. Dalam perbandingan tersebut, pergerakan rupiah disebut tidak menunjukkan kondisi yang lebih buruk secara umum. Dengan demikian, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak serta-merta menjadi gambaran bahwa nilai tukar domestik mengalami tekanan yang paling besar dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.

banner 325x300

Pernyataan Destry menempatkan perkembangan rupiah dalam konteks pergerakan mata uang global dan regional. Nilai tukar rupiah memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS, tetapi kondisi tersebut perlu dilihat bersamaan dengan dinamika yang dialami mata uang emerging market lain. Bank Indonesia menyampaikan bahwa berdasarkan perbandingan tersebut, rupiah masih dapat dinilai relatif stabil. Penjelasan ini menjadi inti pandangan bank sentral mengenai kondisi nilai tukar, sekaligus menunjukkan bahwa evaluasi terhadap rupiah tidak hanya didasarkan pada pergerakannya terhadap dolar AS, tetapi juga pada kinerjanya dibandingkan dengan mata uang negara-negara berkembang lainnya. Melalui pernyataan tersebut, Gubernur Bank Indonesia menegaskan posisi rupiah sebagaimana terlihat dalam perbandingan antarnegara, tanpa mengabaikan adanya pelemahan yang terjadi terhadap dolar AS.

Di samping menyebut rupiah relatif stabil dibandingkan mata uang negara-negara emerging market lainnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti juga menyampaikan bahwa rupiah tetap mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Kedua informasi tersebut merupakan bagian dari pernyataan yang sama dan menggambarkan kondisi nilai tukar rupiah dari dua sudut pandang yang berbeda.

Pernyataan mengenai stabilitas relatif menunjukkan posisi rupiah ketika dibandingkan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya. Dalam perbandingan tersebut, perubahan nilai rupiah dinilai masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Namun, penilaian itu tidak berarti bahwa rupiah tidak mengalami perubahan terhadap mata uang utama dunia, khususnya dolar AS.

Secara bersamaan, rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Artinya, nilai tukar rupiah mengalami penurunan dalam perbandingan langsung dengan dolar AS, meskipun pergerakannya relatif lebih stabil jika disejajarkan dengan mata uang emerging market lainnya. Dua keterangan ini tidak saling bertentangan karena menggunakan dasar perbandingan yang berbeda.

Informasi tersebut perlu dipahami sesuai dengan konteks penyampaian Destry Damayanti. Stabilitas relatif rupiah merujuk pada perbandingan antarmata uang negara berkembang, sedangkan pelemahan merujuk pada pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Dengan demikian, kondisi rupiah pada periode yang disampaikan mencakup kedua fakta tersebut, yakni relatif stabil dibandingkan sejumlah mata uang emerging market, tetapi tetap mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.

Penyebutan kedua kondisi itu tidak secara langsung menjadi penjelasan mengenai penyebab maupun dampak dari pelemahan rupiah. Pernyataan tersebut terutama menegaskan posisi pergerakan nilai tukar berdasarkan pembanding yang digunakan. Oleh karena itu, pembacaan terhadap kondisi rupiah perlu mempertahankan kedua aspek tersebut tanpa menghilangkan salah satunya: stabil secara relatif terhadap mata uang emerging market lain dan melemah terhadap dolar AS.

Bank Indonesia menggunakan perbandingan dengan mata uang negara-negara emerging market untuk memberikan konteks dalam menilai pergerakan rupiah. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS perlu dilihat secara relatif, bukan hanya berdasarkan perubahan nilainya secara terpisah. Dalam kerangka ini, posisi rupiah disebut relatif stabil apabila pergerakannya masih sejalan atau lebih terkendali dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.

Penilaian tersebut tidak berarti rupiah sepenuhnya terbebas dari tekanan. Dolar AS tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi nilai tukar, terutama ketika sentimen global mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan kehati-hatian. Namun, tekanan terhadap rupiah perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika yang juga dihadapi oleh berbagai mata uang emerging market. Karena itu, pelemahan terhadap dolar AS tidak serta-merta menunjukkan bahwa rupiah mengalami tekanan yang lebih berat dibandingkan mata uang lain.

Perbandingan relatif membantu menggambarkan ketahanan rupiah di tengah perubahan kondisi eksternal. Dengan melihat kinerja sejumlah mata uang negara berkembang secara bersamaan, Bank Indonesia dapat menilai apakah pergerakan rupiah mencerminkan faktor global yang bersifat luas atau tekanan yang secara khusus berasal dari kondisi domestik. Cara pandang ini memberikan dasar yang lebih seimbang dalam membaca perkembangan nilai tukar.

Pernyataan mengenai rupiah yang relatif stabil juga mencerminkan pentingnya menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional. Stabilitas nilai tukar berperan dalam mendukung kepastian bagi kegiatan perdagangan, investasi, dan pengelolaan kebijakan ekonomi. Meski demikian, kondisi tersebut tetap memerlukan pemantauan karena arah pergerakan mata uang dapat berubah mengikuti perkembangan global. Dengan demikian, perbandingan dengan mata uang emerging market menjadi salah satu rujukan untuk menilai posisi rupiah secara proporsional di tengah pelemahan terhadap dolar AS.

Pernyataan mengenai kondisi nilai tukar rupiah tersebut disampaikan dalam program Evening Up pada Kamis, 8 Oktober 2026. Penyampaian itu memberikan gambaran mengenai posisi rupiah di tengah perkembangan pasar keuangan global, terutama ketika dolar Amerika Serikat masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Informasi yang disampaikan menempatkan pergerakan rupiah dalam dua sudut pandang, yakni perbandingannya dengan mata uang negara berkembang lain dan kinerjanya terhadap dolar AS.

Berdasarkan penjelasan tersebut, rupiah dinilai relatif stabil apabila dibandingkan dengan sejumlah mata uang emerging market lainnya. Penilaian ini menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung dalam situasi yang juga memengaruhi mata uang negara berkembang secara lebih luas. Dengan demikian, posisi rupiah perlu dibaca melalui perbandingan regional dan global, bukan hanya berdasarkan perubahan nilainya terhadap satu mata uang acuan.

Namun, stabilitas relatif itu tidak berarti rupiah sepenuhnya menguat. Terhadap dolar Amerika Serikat, rupiah tetap mengalami pelemahan. Kedua informasi tersebut berjalan bersamaan: rupiah masih lebih stabil dibandingkan mata uang emerging market lainnya, tetapi nilainya menurun ketika diukur terhadap dolar AS. Pernyataan dalam Evening Up pada 8 Oktober 2026 karena itu menegaskan gambaran yang seimbang mengenai kondisi rupiah, tanpa mengabaikan tekanan pelemahan yang terjadi terhadap mata uang Amerika Serikat.

banner 325x300