banner 728x250

Karhutla 2026: Kalteng dan Sumsel Catat Ratusan Hektare Lahan Terbakar

Karhutla di Kalteng dan Sumsel Capai 343,55 Hektare, Asap Ganggu Jarak Pandang
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Ogan Komering Ilir | Data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan per Juli 2026 mencatat sebaran luas kebakaran hutan dan lahan di tujuh provinsi prioritas selama periode 2021–2026. Wilayah yang tercantum dalam pemantauan tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Catatan ini memberikan gambaran mengenai perkembangan karhutla lintas wilayah, sekaligus menunjukkan bahwa kejadian kebakaran tidak terkonsentrasi pada satu pulau atau satu provinsi saja.

Rekaman antar tahun memperlihatkan pola yang berbeda di setiap daerah. Pada 2023, luas lahan terbakar mengalami lonjakan di sejumlah wilayah yang masuk daftar prioritas. Namun, besaran kebakaran pada tahun-tahun lain tidak seragam dan berubah menurut provinsi serta periode pengamatan. Karena itu, data tersebut perlu dibaca sebagai rangkaian perkembangan tahunan, bukan sebagai angka tunggal yang mewakili seluruh Indonesia. Pembaruan hingga Juli 2026 membantu pemerintah memantau kecenderungan sebaran dan luas area terdampak, sementara kondisi lapangan dapat berubah seiring cuaca, aktivitas pemadaman, serta munculnya titik api baru.

banner 325x300

Perkembangan data tersebut berkaitan dengan laporan kondisi lapangan yang disampaikan BNPB per 12 Oktober 2026. Dalam laporan itu, total lahan terbakar di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan mencapai 343,55 hektare. Angka gabungan tersebut memperlihatkan bahwa kedua provinsi masih menghadapi dampak kebakaran yang perlu menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Selain kerusakan pada kawasan yang terbakar, kebakaran juga memengaruhi kualitas udara di wilayah terdampak. Kondisi udara di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan dilaporkan berada dalam kategori berbahaya, sehingga pemantauan, penanganan titik api, dan perlindungan masyarakat menjadi bagian penting dari respons terhadap situasi ini.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah hingga 11 Oktober 2026 tercatat melanda area seluas 64,8 hektare. Area tersebut tersebar di 49 lokasi kebakaran atau fire spot. Dari keseluruhan luasan itu, petugas telah berhasil memadamkan kebakaran di area seluas 54 hektare yang berada di 38 lokasi. Sementara itu, penanganan masih berlangsung pada lahan seluas 10,8 hektare di 11 lokasi lainnya.

Operasi pemadaman di Kalimantan Tengah dilakukan melalui jalur darat. Jalur udara tidak dapat digunakan karena jarak pandang yang rendah. Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas penerbangan, dengan jarak pandang di bandara tercatat turun hingga 0,2 kilometer. Karena itu, petugas melanjutkan penanganan pada lokasi yang terdampak melalui pengerahan personel dan peralatan dari darat.

Data pemantauan menunjukkan terdapat 3.908 titik panas di wilayah Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, 74 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran dampak kebakaran tercatat meliputi 11 kabupaten/kota. Angka ini menjadi bagian dari pemantauan penanganan karhutla yang dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kondisi di setiap wilayah.

Selain operasi pemadaman, operasi modifikasi cuaca juga dilaksanakan dan menghasilkan hujan lokal di sejumlah daerah. Hujan lokal tersebut tercatat terjadi di Katingan, Kotawaringin Barat, dan Murung Raya. Informasi mengenai luasan lahan terbakar, lokasi penanganan, titik panas, serta kondisi jarak pandang menjadi dasar pemantauan BNPB terhadap perkembangan karhutla di Kalimantan Tengah pada periode laporan tersebut.

Sumatera Selatan mencatat luas lahan terbakar mencapai 278,75 hektare dalam rangkaian kebakaran hutan dan lahan pada 2026. Dari total tersebut, petugas telah memadamkan 271,85 hektare, sedangkan 6,90 hektare lainnya masih berada dalam penanganan. Kebakaran itu berdampak pada delapan kabupaten dan kota, sehingga penanganannya memerlukan koordinasi lintas wilayah, penguatan pemantauan, serta pengerahan sumber daya secara berkelanjutan.

Perkembangan situasi juga dipantau melalui pengamatan titik panas. Dari total 1.991 titik panas yang terdeteksi, sebanyak 121 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Data tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan prioritas patroli dan mengarahkan upaya pemadaman ke area yang berpotensi mengalami perluasan. Selain kondisi di lapangan, faktor cuaca dan jarak pandang turut memengaruhi efektivitas operasi.

Operasi udara menghadapi kendala karena jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera Selatan berada pada rentang 0,3 hingga 7 kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan operasi water bombing belum dapat dilakukan, terutama demi menjaga keselamatan penerbangan dan awak pesawat. Sebagai langkah pendukung, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan pada 12 Oktober 2026 sebanyak satu sorti dengan menggunakan 800 kilogram natrium klorida. Sebelumnya, akumulasi operasi modifikasi cuaca pada 9–11 Oktober mencapai empat sorti dengan total 3.600 kilogram natrium klorida.

Ke depan, patroli udara dan pemadaman lanjutan tetap disiapkan untuk memantau titik api serta mencegah munculnya kebakaran baru. Pelaksanaan kegiatan akan menyesuaikan perkembangan cuaca, kondisi asap, dan jarak pandang di setiap wilayah. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu, rute, dan jenis operasi, sementara tim darat terus memperkuat penanganan pada area yang masih terbakar.

BNPB mengarahkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada titik-titik yang masih belum padam. Operasi perlu dilakukan secara terukur melalui penyekatan untuk membatasi pergerakan api, pemadaman pada area yang terbakar, serta pendinginan guna mencegah munculnya kembali bara di bawah permukaan. Setiap tahapan harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, terutama arah angin, jenis vegetasi, akses menuju lokasi, dan tingkat kekeringan lahan.

Pengerahan personel, peralatan, dan sumber air perlu ditetapkan secara terarah berdasarkan pemetaan titik api dan perkembangan operasi. Satuan tugas harus memastikan ketersediaan regu pemadam, kendaraan pendukung, pompa, selang, perlengkapan keselamatan, serta sarana komunikasi di lokasi prioritas. Dukungan sumber air juga perlu diidentifikasi sejak awal agar proses pemadaman dan pendinginan tidak terhenti, khususnya pada area yang sulit dijangkau atau memiliki akses terbatas.

Untuk Sumatera Selatan, kesiapsiagaan armada water bombing perlu ditingkatkan di wilayah yang rawan terdampak, terutama Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Kesiapan tersebut mencakup penempatan atau mobilisasi armada, pengaturan jalur penerbangan, penentuan sumber pengisian air, serta koordinasi unsur udara dan tim pemadam di darat. Penggunaan dukungan udara harus diarahkan pada lokasi yang membutuhkan penanganan cepat dan tidak mudah dijangkau melalui jalur darat.

BNPB juga merekomendasikan penguatan kesiapsiagaan satuan tugas darat di sekitar permukiman. Penempatan personel dan peralatan pada area penyangga dapat mempercepat respons apabila api bergerak mendekati rumah warga, fasilitas umum, atau jalur akses penting. Pemantauan berkala, patroli, penyampaian informasi kepada masyarakat, serta koordinasi lintas instansi perlu terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran dan memastikan lokasi yang belum padam segera mendapatkan penanganan.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Penyuluh Mabes TNI Perkuat Edukasi Karhutla, Ratusan Pelajar di Tanta Hulu Diberi Pemahaman Sejak Dini | Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen

banner 325x300